Isyqie Bin-Nabi Hanif Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Cara Jitu Dakwah Sunan Ampel

2 min read

Sumber: Sindonews.com

Walisongo merupakan sebutan bagi tokoh-tokoh yang memiliki peran penting dalam penyebaran dan perkembangan agama Islam di Pulau Jawa pada abad ke-15 dan ke-16 masehi. Walisongo terdiri dari sembilan da’i yang salah satunya adalah Sunan Ampel.

Sunan Ampel adalah tokoh penyebar Islam di Pulau Jawa, khususnya di wilayah Ampeldenta, saat ini masuk wilayah Surabaya. Nama asli Sunan Ampel adalah Raden Rahmat, nama Sunan Ampel merupakan nama yang dinisbatkan kepada tempat tinggalnya yaitu Ampeldenta. Sunan Ampel diperkirakan lahir pada tahun 1401 M di Champa. Ayah Sunan Ampel yaitu Ibrahim Asmarakandi, sedangkan ibunya yaitu Dewi Candrawulan, kakak Dyah Darawati istri Raja Majapahit, sehingga Sunan Ampel merupakan keponakan Raja Majapahit (Masykur Ali, 2016:65).

Sunan Ampel merupakan seorang da’i yang memiliki budi pekerti yang luhur dan piawai dalam beradaptasi dengan masyarakat. Sunan Ampel selalu menggunakan tutur bahasa yang lembut ketika beradaptasi dengan masyarakat sehingga mendapat respon yang baik dari masyarakat setempat. Ia mempelajari bahasa dan adat Jawa untuk mendekati serta memahami masyarakat.

Dalam berdakwah Sunan Ampel menjelaskan Islam dengan bahasa yang sederhana dan contoh yang mudah dipahami oleh masyarakat. Ia menggunakan istilah-istilah dari bahasa setempat, seperti penyebutan ibadah, Sunan Ampel tidak menggunakan kata ‘sholat’ dalam penyebutannya, melainkan ia menggunakan kata ‘sembahyang’ dari kata sembah dan hyang.

Sunan Ampel juga tidak melakukan arabisasi dalam dakwahnya. Jika ia menemukan sebuah tradisi yang tidak sesuai dengan nilai Islam, ia akan mengubahnya dengan memasukkan nilai-nilai Islam ke dalamnya. Sehingga Islam lebih mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat (Masykur Ali, 2016:85). Dalam konteks akidah, Sunan Ampel sangat berpegang teguh pada prinsip Islam. Ia meyiarkan iIlam secara murni, mengandung hikmah kebenaran yang hakiki, dan membuat umat berhati-hati dalam menjalankan syariat secara benar dan terhindar dari bid’ah ataupun syirik (Zainal Abidin, 2018:187).

Baca Juga  Al-Qawaid al-Fiqhiyyah: Warisan Intelektual KH Humam Bajuri Yogyakarta

Karena hubungan baik Sunan Ampel dengan Raja Majapahit, ia diberi sebidang tanah di Ampeldenta oleh Raja Majapahit, dan diminta untuk mengajarkan budi pekerti kepada rakyatnya. Di Ampeldenta itulah, Sunan Ampel mendirikan pondok pesantren sebagai pusat kegiatan dakwahnya. Pesantren tersebut bernama Pesantren Ampeldenta, yang diyakini sebagai pesantren pertama yang ada di Nusantara.

Pada saat itu, pesantren tersebut menjadi pusat pendidikan dan pembelajaran agama Islam di Pulau Jawa. Sunan Ampel menyebut muridnya dengan kata ‘santri, berasal dari kata ‘shastri’ yang merupakan sebutan bagi orang yang mempelajari dan mengerti kitab suci agama hindu. Dari pesantren yang didirikan oleh Sunan Ampel ini, menghasilkan da’i-da’i dan tokoh-tokoh yang memiliki peran dalam penyebaran dan perkembangan agama Islam di Nusantara, seperti Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Raden Paku (Sunan Giri), Raden Qosim (Sunan Drajat), dan Raden Patah (Sultan Demak). Ia juga mengirim murid-muridnya untuk berdakwah ke tempat-tempat tertentu, seperti Syekh Wali Lanang ke Blambangan, dan Khalifah Kusen ke Madura, sehingga islam menyebar luas secara cepat.

Sunan Ampel juga melakukan dakwah dengan membangun ikatan kekerabatan dengan penguasa setempat melalui jalan pernikahan dengan keluarga para raja dan tokoh-tokoh masyarakat, misalnya ketika putra-putri sudah dewasa dan siap menikah seperti Nyai gede Manila yaitu Nyai gede Pancuran dinikahkan dengan pangeran Ibrahim yang terkenal dengan pendeta dari atas angin yang bertempat tinggal di kamuning.

Disebutkan juga bahwa putri Sunan Ampel yang bernama Dewi Murtasiah dinikahkan dengan Raden Ainul Yaqin dari Giri. Sunan Ampel sendiri menikahkan putri Arya Teja, bupati tuban, yang juga cucu Arya Lembu Sura raja Surabaya yang muslim, dan memiliki anak Maulana Makdum Ibrahim yang kelak menjadi Sunan Bonang dan Raden Qosim yang kelak menjadi Sunan Drajat.

Baca Juga  Klasifikasi Filsafat Ibn Sina dan Metafisika Wujud

Metode dakwah lewat jalan membangun kekerabatan dengan para tokoh ini sangat efektif untuk mengembangkan agama Islam dan menjaga Islam agar tetap eksis dalam sistem kekuasaan. Jika Islam tidak bisa masuk ke dalam struktur kekuasaan tentu sangat sulit berkembang. Pada saat itu, jika suatu penguasa memeluk suatu agama tertentu, rakyatnya akan mengikutinya, sehingga suatu agama dapat lebih mudah menyebar dan berkembang.

Karena itulah dakwah melalui kekerabatan dengan penguasa ini sangat penting dan telah dibuktikan oleh Sunan Ampel (Masykur Ali, 2016:88). Sama seperti Nabi Muhammad saw, yang berdakwah kepada para penguasa yang memegang kekuasaan penting pada saat itu, seperti Kaisar Heracles Raja Romawi dan Kisra Abrawaiz Raja Persia. Dengan menikahkan juru dakwah Islam dengan putri-putri penguasa bawahan majapahit, Sunan Ampel membentuk keluarga-keluarga muslim dalam suatu jaringan kekerabatan yang menjadi cikal bakal dakwah Islam di berbagai daerah. Dengan adanya ikatan kekerabatan dengan para penguasa, penyebaran islam dapat lebih mudah dilaksanakan dan berlangsung dengan cepat.

Salah satu ajaran Sunan Ampel yang paling terkenal yaitu ajaran Moh Limo, atau tidak mau melakukan lima hal tercela, yaitu Moh Main yang berarti tidak mau berjudi, Moh Ngombe yang berarti tidak mau mabuk, Moh Maling yang berarti tidak mau mencuri, Moh Madat yang berarti tidak mau mengisap candu, dan Moh Madon yang berarti tidak mau berzina (Zainal Abidin, 2018:186).

Sunan Ampel wafat pada tahun 1481 dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Sunan Ampel, Surabaya. (mmsm)

Isyqie Bin-Nabi Hanif Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya