Jauharul Habibi Mahasiswa Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya; Aktif Menulis Sastra; Tergabung dalam Ruang Sastra Gresik; Alumnus Kanjeng Sepuh Sidayu

Ketika Ibnu Arabi Mabuk Cinta, Yang Dirindu Hanya Dia

2 min read

Ibnu Arabi
Ibnu Arabi

Menyelami samudra cinta para sufi bagaikan membasuh hati dari buih-buih dosa guna merengkuh rasa sejati. Seperti ketika mengulik pengalaman cinta Ibnu Arabi. Suatu gambaran dari kedalaman samudra cinta para kekasih. Tertuang dalam bait-bait sastra yang sarat makna. Penuh dengan simbol-simbol romantis, tanda mabuk dalam rasa saat rindu dengan Sang Kekasih.

Ibnu Arabi adalah seorang pecinta dan perindu. Ia hanya hidup dalam alunan cinta yang syahdu, di mana cinta membuatnya selalu merindu. Rasa cinta Ibn Arabi yang membuncah, tertuang dalam karyanya Turjumān al-Ashwāq. Berisikan puisi-puisi kerinduan. Membimbing para pecinta menuju pusat spiritual pada tingkat penyatuan diri (Waht al-Wujūd) dengan Kekasih Sejati.

Cinta Ibnu Arabi merupakan imajinasi tingkat tinggi dari ungkapan rasa yang dimiliki manusia untuk dapat melihat Penciptanya. Seperti yang ia ungkapkan:

“Lihatlah Keindahan-Ku.

Tampak pada semua manusia

Lihatlah,

Air mengalir menembus akar dan dahan-dahan.

Engkau menemuinya,

Bersumber dari satu mata air.

Dan kau lihat ia merekahkan bunga berwarna-warni.”

Untuk dapat masuk ke dalam rumah, pasti harus melalui pintunya terlebih dahulu. Begitu pun dalam melihat inti cinta harus melewati gerbang cinta. Dalam mencapai gerbang cinta harus melewati berbagai pembersihan hati dan akal, sehingga sampai ke gerbang cinta. Perjalanannya harus ditempuh dengan agama;

“Aku mabuk Cinta,

Kemanapun Cinta bergerak,

Di situ aku mencinta,

Cinta kepada-Nya, adalah agama dan keyakinanku.”

Orang-orang yang telah mencapai gerbang cinta sudah melewati berbagai tantangan, termasuk pembersihan hati dan akal. Pembersihan itu terbentuk dari ketekunan menjalankan syariat agama, baik secara vertikal antara Tuhan dengan dirinya maupun horizontal di antara sesama pengelana cinta yang sedang menuju kepadaNya. Atau yang lebih dikenal dengan konsep Segitiga Cinta;

Baca Juga  Alif dan Mim (2): Danau Tak Terbendung Di Pelupuk Mata

“… Andai kalian tahu betapa kami berdua,

Saling menghidangkan cawan-cawan cinta.

Meski tanpa jari-jemari.

Apakah kalian tahu wahai tuan?

Dua Tubuh yang berbeda dapat bersatu.

Cinta kami berdua yang menuntun kami bicara.

Dengan manis, dengan indah, meski tanpa kata-kata.

Niscaya kalian tahu meski hilang akal,

Bahwa orang Yaman dengan Irak bisa berpelukan.”

Bait syair Ibn Arabi di atas menggambarkan cerminan Segitiga Cinta, keeratan hubungan antar-manusia, dengan tanpa mempersoalkan keragaman. Sebab hakikatnya, mereka saling terhubung melalui Pusat Cinta. Pemaknaan bait “Dua Tubuh yang berbeda dapat bersatu,” mewakili penafian jarak, yang berarti sesama manusia ada dalam satu pusaran cinta yang sama. Ikatan cinta inilah yang melahirkan rasa kemanusiaan. Ketika itu disadari, maka tak ada lagi pertentangan antar-manusia akibat perbedaan. Sebab cinta sejati telah menyatukan mereka di dalam pusat yang sama. “Bahwa orang Yaman dengan Irak bisa berpelukan.”

Sisi Humanis dari ungkapan sastrawi Ibnu Arabi dalam bait-baitnya semakin terasa. Ketika ia menyinggung sosok perempuan sebagai metafora ungkapan cinta. Hal ini sejalan dengan hadis yang memerintahkan agar seorang muslim menghormati dan menghargai sosok perempuan,

“Seseorang datang kepada Rasul dan bertanya: Wahai Rasul, kepada siapa aku harus berbakti pertama kali? Nabi menjawab: Ibumu! Kemudian siapa lagi? Ibumu! Kemudian siapa lagi? Ibumu!. Orang tersebut bertanya kembali, Kemudian siapa lagi, Nabi menjawab, Kemudian Ayahmu.” (HR. Bukhari & Muslim).

Penghargaan Ibnu Arabi kepada sosok perempuan tertuang dalam ungkapan Ibnu Arabi yang mendudukkan kaum Hawa sebagai medium perengkuhan:

“Fashuhūduhu li al-haqq fī al-mar’ah atamm wa akmal” Menjumpai Tuhan dalam diri seorang perempuan adalah cara yang paling sempurna,

Baca Juga  Nasionalisme Menurut KH Bisri Mustofa dalam Tafsir al-Ibriz

Liannahu yushāhidu al-haqq min hayth huwa fa ‘ilun munfa‘ilun” Karena dengan cara itu seorang lelaki dapat menjumpai Tuhannya dengan cara aktif (fa’il). (Fusūs)

“Ibu membawakan pelana,

Memasangkan di punggung unta,

Menebarkan aneka aroma bunga-bunga,

Menaburkan bermacam-macam warna.”

Betapa dalam dan luas samudera cinta yang ditunjukkan Ibnu Arabi. Memadukan aspek teologis dan humanis. Ketaatan menjadi kunci untuk sampai pada pusat cinta, beriring dengan kasih sayang terhadap makhluk-Nya. Cermin kemanusian bagi Ibn Arabi adalah jalan pengiring menuju cinta sejati. Jika tali vertikal dan horizontal terjaga, cinta dan sayang salin bergandengan, maka tak ada kedustaan dalam beragama. Pun tak ada kekerasan yang mengatasnamakan agama. Sebab, sejatinya agama adalah rahmat yang menyatu pada sumber cinta yang sama.

Cinta Ibnu Arabi adalah jalan menuju Sang Kekasih, beriring rasa sayang kepada ciptaan-Nya. [FM, MZ]

Jauharul Habibi Mahasiswa Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya; Aktif Menulis Sastra; Tergabung dalam Ruang Sastra Gresik; Alumnus Kanjeng Sepuh Sidayu

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *