Miftahul Huda Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

Kedudukan Suami dan Istri Dalam Rumah Tangga Menurut Islam

2 min read

source; republika.com

Kedatangan Islam sudah lazim dinarasikan, dan memang manjadi salah satu tunjuannya, sebagai pembebas umat manusia dari keterbelakangan moral. Ia datang dengan tujuan untuk menciptakan tatanan hidup yang lebih beradab nan egaliter.

Namun, hingga saat ini, ‘persoalan’ terkait egalitarianisme ini menjadi sebuah diskursus yang masih panjang dan mengundang banyak perdebatan. Seperti dalam hal kesetaraan posisi antara laki-laki dan perempuan, termasuk dalam hubungan keluarga. Hal ini bisa dilihat dalam praktik kehidupan sehari-hari umat muslim, bahkan dalam menginterpretasikan ajaran agama yang masih cenderung patriarkis.

Kita tidak bisa menutup mata bahwa masih banyak penafsiran teks-teks Alquran dan hukum Islam terkait kehidupan rumah tangga yang cenderung menuntut kepatuhan istri pada suami. Kepatuhan ini juga tidak jarang dinarasikan sebagai jalan menuju Allah.

Pernyataan saya ini, tentu, sama sekali bukan bermaksud untuk menganjurkan istri menentang suami, melainkan untuk menunjukkan bahwa masih ada unsur patriarki di sini.

Misalnya, dalam menentukan kriteria istri yang baik adalah istri yang patuh kepada suami. mereka ini melandaskan argumennya pada penggunaan term qanitat (kepatuhan) dalam Q.S. Annisa’ (4): 34. Dalam institusi perkawinan (keluarga), istri dituntut patuh pada suami sebagai representasi kepatuhan kepada Allah.

Menurut Kaukab Siddique, doktrin tersebut sebagai interpretasi male-oriented. Sedangkan Asma Barlas, dalam “Believing Women” in Islam, mengatakan itu sebagai antropomorfisme Allah pada diri laki-laki, yakni adanya usaha untuk men-gender-kan Allah. Seperti konsepsi Allah sebagai maskulin: raja, penghukum, maha besar.

Menurut Barlas, Allah sebenarnya indivisible unity (tidak terbagi), sebagaimana konsep tauhid. Dia pun hadir melampaui dualitas gender, Ia tidak tergenderkan baik laki-laki atau perempuan. Sehingga, jika merujuk pada pengertian ini, hierarki dalam institusi perkawinan seharusnya juga hilang.

Baca Juga  Ketahanan Spiritualitas Perempuan di Tengah Wabah

Siddique menegaskan, dalam Menggugat Tuhan yang Maskulin, bahwa perempuan yang patuh (qanitah) itu merujuk pada Q.S. al Ahzab ayat 35, yaitu patuh kepada Allah, dan ayat tersebut menunjukkan kesetaraan antara muslim-muslimah di hadapan Allah.

Kesetaraan yang sudah menubuh dalam Islam tersebut yang membebaskan perempuan untuk bisa terhubung langsung dengan Allah tanpa melalui suami. Inkarnasi Allah dalam diri laki-laki juga merupakan sesuatu yang berlebihan, menganggap diri sebagai representasi Allah yang memiliki wewenang menghukum “ketidakpatuhan” istri. Itu merupakan konstruksi laki-laki sendiri dengan framing ayat-ayat al-Quran agar terlihat legitimate.

Perjalanan rumah tangga memungkinkan terjadinya perselisihan dan perbedaan pendapat. Keinginan untuk keluar dari setiap perselisihan itu diinginkan oleh setiap orang. Maka, Islam menyarankan jalan yang terbaik, yaitu musyawarah.

Namun, kalau yang dirujuk adalah Q.S. An Nisa’ (4): 34, maka yang akan terjadi selanjutnya adalah patriariki, bahkan dalam level yang lebih ekstrem bisa dianggap bahwa suamu selalu benar, di mana istri akan dikategorikan sebagai nusyuz. Ayat tersebut berpotensi untuk diartikan secara subjektif dan menganggap semua cara pandang istri sebagai “pembangkangan”.

Melanggengkan dominasi suami dalam rumah tangga seperti di atas sama halnya dengan memanfaatkan kelemahan perempuan di kebanyakan masyarakat. Kalau memang konsep hierarki dalam perkawinan masih ada, maka itu sengaja dihadirkan untuk kepentingan status quo laki-laki yang selalu di atas. Pikiran tersebut, menurut Siddique, hanya dihadirkan oleh ulama yang hanya cocok pada sistem-sistem sosial yang dikuasai para raja dan tiran.

Alimatul Qibtiyah, dalam Feminisme Muslim di Indonesia, menyumbang cara pandang untuk melihat relasi laki-laki dan perempuan dalam keluarga. Pertama, melihat dengan cara pandang different-maximazer, yakni menganggap laki-laki dan perempuan itu berbeda, namun itu adalah suatu keunggulan bukan untuk melegitimasi perendahan salah satu jenis kelamin. Misalkan, perempuan memiliki sifat yang cinta damai dan pengasuhan anak, maka berperan di wilayah domestik lebih baik , sedangkan suami mencari nafkah di ruang publik.

Baca Juga  Aisyah Balapan Lari dengan Rasulullah Muhammad

Kedua, dengan cara pandang sameness-minimixer, yaitu pada dasarnya laki-laki dan perempuan itu sama. Keduanya sama-sama cinta damai, memiliki kedekatan dengan anak, dan gigih dalam mencari nafkah. Sebab itu, kesamaan tersebut berpotensi menimbulkan konflik dalam pembagian peran dalam rumah tangga. Agar tidak menimbulkan konflik kedepannya, suami dan istri mengawali perjalanan rumah tangga dengan melakukan musyawarah untuk membagi peran sesuai potensi masing-masing.

Apa yang disarankan Qibtiyah dalam melihat keluarga adalah sejalan dengan konsep Barlas tentang Tauhid. Keduanya mengakui hanya Allah yang paling tinggi, tidak ada salah satu jenis kelamin yang mampu menyamai atau mewakili Allah dalam relasi berumah tangga. Baik suami ataupun istri, keduanya setara di bawah Allah, dan hanya Allah yang berada di puncak hierarki, sedangkan hierarki dominatif di antara jenis kelamin adalah mitos.

Akhirnya, saya meyakini bahwa konsep egalitarianisme dan membebaskan memang pesan yang dibawa al-Quran, hanya saja interpretasi male-oriented yang mengaburkan konsep agung tersebut.

Di zaman modern ini pandangan hierarkis dalam relasi keluarga haruslah ditinggalkan, narasi kepatuhan istri kepada suami harus disadari sebagai doktrin dominatif. Jika istri mematuhi karena dasar narasi tersebut, saya kira itu bukan karena tumbuhnya kesadaran, melainkan lebih dikarenakan ketakutan imajinatif berdasarkan narasi dominatif-maskulin, yaitu neraka. (AA)

Miftahul Huda Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga