Mutiara Islamia Mahasiswa Prodi Akidah dan Filsafat Islam, UIN Sunan Ampel ,Surabaya

Asghar Ali Engineer dan Pemikiran Reformisnya tentang Perempuan

2 min read

Source: haukatajmeri.com

Kehidupan sosial pa akan selalu bergerak dinamis dan setiap kebudayaannya pun selalu berubah mengikuti perkembangan zaman. Begitu juga dengan kehidupan kaum perempuan ketika dahulu mereka hanya dikenal dengan aktivitas domestik. Namun, siapa sangka bahwa perempuan masa kini memiliki peranan penting.

Tidak jarang perempuan menjalankan peran sebagai seorang pemimpin atau bahkan berperan ganda dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut semakin aktif dengan adanya dukungan dari gerakan feminisme.

Pembahasan mengenai feminisme juga berkaitan pula pada tokoh yang menggagas ideologi tersebut. Salah satunya Asghar Ali Engineer yang merupakan teolog kelahiran India 1939 M. Ia berasal dari lingkungan keluarga ulama ortodoks Bohro, Asghar Ali Engineer ialah anak dari Syeikh Qurban Husein yang menganut Syiah Ismailiyah.

Sebagai seorang sarjana yang terpelajar, ia memiliki pemikiran open minded dalam berdialog dengan penganut agama lain. Selain itu, ia juga membantu mendirikan majelis ulama Bohra, tidak heran jika Asghar Ali kecil juga mendapatkan ilmu agama seperti tasfir, ta’wil, fiqih dan hadist dari ayahnya.

Di sisi lain, Asghar Ali Engineer juga menekuni bahasa Arab dan gemar membaca karya dari Fatimi Dakwah. Ali Engineer merupakan seorang sarjana teknik sipil di Universitas Indore yang selama masa mudanya ia menghabiskan waktunya untuk mempelajari karya-karya dari Bertrand Russel, Karl Marx, Ahmad Khan, Maulana Azad dan karya Muhammad Iqbal mengenai Recontruction of religious Thought in Islam guna memahami peran akal dan wahyu.

Ali Engineer juga dikenal sebagai salah satu tokoh pembaharu Islam yang unik sehingga pemikirannya cukup menarik untuk dikaji. Jika di Indonesia kita akrab dengan R.A Kartini yang memperjuangkan hak kaum perempuan, Asghar Ali Engineer merupakan salah satu tokoh yang memperjuangkan hak perempuan di negaranya.

Baca Juga  Menjadi Istri Ideal dan Suami Idaman

Dalam menyikapi permasalahan yang berhubungan dengan perempuan, ia cukup berbeda dengan para intelektual pada masa sebelumnya dan masanya. Hal ini disebabkan karena, pertama selain untuk menempatkan pada aspek fiqih dan Alqur’an ia juga menempatkan permasalahan pada aspek sosio, filsafat, dan antropologis; kedua, Ia menuliskan gagasan-gagasannya  dengan menggunakan perspektif tantangan sosial-budaya yang dihadapi di zaman modern.

Tidak hanya itu, Ali Engineer meyakini bahwa ajaran Alquran dimaksudkan untuk menciptakan keseimbangan antara laki-laki dan perempuan. Meskipun jika ditarik secara historis, kedudukan laki-laki lebih mendominasi sehingga menyebabkan adanya doktrin ketidakadilan antara laki-laki dan perempuan.

Lebih lanjut, baginya, Alquran juga memberikan ruang yang sangat mulia bagi umat laki-laki ataupun perempuan (Farah: 2000). Ia menuangkan gagasan tersebut dalam karyanya yang berjudul ‘Hak Perempuan Dalam Islam,’ yang mana ia menegaskan bahwa Alquran secara normatif menekankan konsep kesetaraan laki-laki dan perempuan. Keduanya memiliki hak setaara dan sama dalam menjalankan kehidupan sosial baik secara ekonomi, politik dan pendidikan.

Jika diamati, perjuangan hak kaum perempuan memang telah mendapatkan pengakuan dan dukungan pada saat ini, meskipun masih banyak kaum perempuan yang  belum bisa mendapatkan hak yang semestinya; bahkan mereka masih saja dianggap lemah dan tidak berdaya. Misalnya, dalam kehidupan sehari-hari, perempuan masih dibatasi aktivitas sosialnya dalam bergaul, mengekspresikan kebebasan, serta terpaku oleh aturan patriark. Selain itu, masih banyak masyarakat yang memandang bahwa perempuan harus fokus pada urusan domestik.

Permasalahan seperti ini sering ditemui pada persoalan keluarga antara pembagian peran suami dan istri, kaum perempuan sering kali dilema dengan posisinya dalam keluarga. Padahal, Alquran secara tegas mengakui perempuan sebagai entitas sah yang juga mempunyai hak dan kewajiban.

Baca Juga  Feminisme Pancasila: Menelusuri Kiprah Ibu Sinta Nuriyah (Bag-1)

Kemudian, Ali Engineer menyatakan bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan memiliki status yang sama dengan merujuk pada Q.S. At-Taubah (9): 71. Lebih lanjut, ia juga mengutip Q.S. An-Nisa (3): 32 untuk menegaskan pendapatnya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan sama, serta hak dan kewajiban yang sama pula.

Mungkin ketika sebagian dari kita meyakini bahwa perempuan mempunyai kedudukan yang sama dengan laki-laki, lantas apakah kewajiban untuk memberi nafkah masih dibebankan kepada laki-laki.

Terkait dengan hal ini, Engineer memiliki pendapat yang berbeda bahwa hak perempuan untuk memiliki kekayaan adalah hak yang dapat dinikmatinya secara mutlak. Sehingga jika perempuan tersebut memiliki penghasilan yang cukup dan suami tidak mampu, maka suami masih berkewajiban untuk menafkahinya dan ia tidak diwajibkan membelanjakan sesuatu dari kekayaan atau pendapatnya untuk menafkahi dirinya dan anak-anaknya.

Lalu, bagaimana jika seorang perempuan mempunyai peran ganda, sebagai seorang ibu rumah tangga sekaligus tulang punggung keluarga atau menjadi wanita karir? Dalam permasalahan ini Ali Engineer berpendapat bahwa perempuan harus berlaku aktif, dikarenakan perempuan harus bekerja untuk menjamin kehidupan keluarga.

Alquran menjelaskan bahwa yang dituntut untuk menafkahi adalah seorang suami, sebagai bentuk feedback kepada istri yang telah merawat anak dan keluarganya. Sebagaimana yang tertuang dalam surat Al Baqarah (2): 23 “Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya”.

Akhirnya, gagasan pembaharuan serta ide-ide Ali Engineer, seorang reformis-penulis dan aktivis sosial India, menurut saya telah memberikan ruang kebebasan dalam kehidupan bersosial bagi kaum wanita.

Hal ini setidaknya telah memberikan kontribusi besar bagi kaum perempuan pada zaman sekarang, dimana mereka ndapat menyetarakan diri dengan kaum laki-laki tanpa melanggar kodratnya sebagai seorang perempuan. Disamping, karena pemikiran-pemikirannya pula, perempuan saat ini juga bebas untuk mengekspresikan diri serta menginspirasi sesamanya. [AA]

Mutiara Islamia Mahasiswa Prodi Akidah dan Filsafat Islam, UIN Sunan Ampel ,Surabaya