Misbahul Wani Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kaljaga Yogyakarta, member of Qur’anic Peace Study Club, dan Santri Ponpes Zainul Hasan Genggong, Probolinggo

[Ngaji Ihya’] “Ngeyel”: Bahaya Lisan dan Patologi Sosial

3 min read

Salah satu yang menjadi perhatian khusus dalam kitab Ihya’ Ulumiddin karya Hujjatul Islam, Imam Ghazali (505 H/1111 M) adalah ia memberikan klasifikasi bab yang menjelaskan tentang “bahaya lisan” (aafaatul lisaan). Hal ini bisa dimengerti mengingat tidak jarang pertikaian yang terjadi di masyarakat disebabkan karena percikan api lidah yang kurang menggembirakan.

Oleh sebab itu tidak berlebihan kiranya, ada hadis yang menganjurkan dengan tegas untuk bertutur yang baik, “berkatalah baik atau diam.” Hadis ini kiranya adalah himbauan keras (tanbih al ’adziimah) tentang pentingnya menjaga ucapan agar tidak terjerumus terhadap hal yang sia-sia.

Selian itu, ia juga menunjukkan keseriusan bahwa berkata buruk termasuk bagian dari patologi sosial. Seperti berkata kasar, menyangkal pembicaraan orang lain, menyebar fitnah atau berita bohong (hoax), dan gejala lisan lainnya.

Al-Ghazali dalam kitabnya membagi gejala lisan itu diantaranya dengan istilah miraa’; “menyangkal setiap perkataan orang lain (ngeyelan).” Istilah miraa’ ini lebih generik, semua perkataan yang disangkal itu adalah jenis miraa’. Ada nilai yang sifatnya lebih spesifik, yaitu dengan istilah jidaal, “sanggahan untuk menjatuhkan pendapat orang lain, supaya diam dan tidak mampu menyaggah dan membantah balik.”

Dalam kondisi tertentu, bisa jadi, sanggahan dapat dibenarkan secara prosedural, seperti dalam sesi seminar, ruang debat, seperti ruang kuliah dan bahtsul masaa’il untuk membangkitkan gairah ilmiah, tapi disisi yang lain sebagai pertimbangan etis, kurang dianggap baik karena caranya yang kurang tepat.

terkait dengan hal ini, Gus Ulil Abshar Abdalla (Pengampu Ngaji Ihya’ Oline) mengatakan bahwa andai saja pendebat (mujadil) diperlakukan hal yang sama pasti dia juga tidak mau. itulah yang dimaksud jidaal secara singkat.

Baca Juga  Sikap Gus Dur Menghadapi Kelompok Islam Garis Keras [2]

Sacara spesifik Imam Ghazali melakukan klasifikasi bab aafaatul lisaan pada lima belas bagian. Sedangkan miraa’dan jidaal merupakan klasifikasi bagian keempat. Sebagaiamana penulis sarikan dari kitab ‘Mau’idzatul Mu’minîn min Ihyâ’ Ulûmiddîn’ karya Syeikh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi al-Dimasyqi (1332 H/1914 M).

Namun, secara khusus, dalam tulisan ini saya hanya akan mendiskusikan miraa’ dan jidaal saja dan cara mengatasinya yang ditawarkan Imam Al-Ghazali.

Defini miraa’ adalah:

كُلُّ اعْتِرَاضٍ عَلَى كَلَامِ الْغَيْرِ بِإِظْهَارِ خَلَلٍ فِيهِ

Setiap maksud membuat kacau omongan orang lain.”

Sedangkan yang dimaksud jidaal adalah

عبارة عن قَصْدُ إِفْحَامِ الْغَيْرِوَتَعْجِيزِهِ وَتَنْقِيصِهِ بِالْقَدْحِ فِي كلامه ونسبته إلى القصور والجهل فيه

“Sebuah gambaran dari niat untuk mengalahkan, melemahkan, mengurangi/merendahkan dengan cara mengkrtitik ucapan orang lain; dan mengaitkannya dengan kekurangan dan kebodohan orang yang disanggah.”

Dari pengertian keduanya di atas, alih-alih berusaha untuk menunjukkan kebenaran, justru cara berinteraksi yang demikian cenderung dipenuhi oleh kebencian. Naasnya, fenomena penggunaan interaksi seperti ini sering kita jumpai saat ini, lebih-lebih pertarungan argumentasi antar kelompok masyarakat, partai politik dan sebagainya.

Satu diantara yang lain saling menjatuhkan untuk memenangkan argumentasi masing-masing. Akibatnya, mereka seringkali lupa bahkan abai atas posisinya sebagai public figure atau sosok representatif dari latar belakang sosialnya.

Sebagian dari jenis karakter yang mengitari sifat jidaal adalah sifat taraffu (merasa jumawa dengan pamer pengetahuan dan kepemilikannya) dan tahajjum (suka menyerang/menjatuhkan dengan menampakkan kekurangan orang lain). Dengan argumentasi yang dilontarkan, orang dengan sifat taraffu merasa bahwa tidak ada yang lebih pandai dan perkasa di hadapannya.

Sedangkan, mereka yang memiliki sifat tahajjum cenderung akan menyanggah dengan menyentuh ranah privasi atau hal yang tidak disukai oleh orang lain yang disanggah. Oleh sebab itu, apabila sifat tersebut telah menjadi kebisaan dan watak (‘âdat wa thab’a) maka ia akan mampu merusak moral seseorang yang tentu berdampak juga pada kehidupan sosial.

Baca Juga  Matahari dan Gua: Alegori Pemahaman dan Empati

Di era informasi digital seperti saat ini, tidak hanya bahaya lisan, namun agaknya jari-jari pun tidak kalah berbahaya (aafaatul ashaabi’). Jidaal versi dapat menghasilkan narasi tidak sehat yang akan memenuhi kolom linimasa dan komentar untuk menjatuhkan orang lain.

Bahkan, jari itu pun dapat mengalihkan pandangan dunia (world view) sebagai mana mestinya kita kehendaki. Oleh karena itu, mengendalikan mulut dan jari adalah sebagian usaha kita meningkatkan kualitas rohani. Dalam ilmu tasawwuf upaya ini disebut jalan spiritualis (suluk).

***

Dengan banyaknya penggunaan metode story telling (bercerita), kitab Ihya’ Ulumuddin memiliki sebuah daya Tarik tersendiri. Imam Ghazali banyak menuliskan riwayat inspiratif agar pembaca mampu menggali potensi atau hikmah dari riwayat yang disajikan.

Misalnya, sebuah riwayat yang menceritakan interaksi antara Imam Abu Hanifah dan Syeikh Daud al-Tha’i mengenai miraa’ dan jidaal, serta bagaimana cara megatasinya.

dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa Imam Abu Hanifah pernah bertanya kepada kawannya, seorang tokoh sufi bernama Syeikh Daud al-Tha’i; “Mengapa anda lebih memilih untuk menyendiri (al-Insziwaa’)? Syeikh Dawud menjawab; “Saya sedang berusaha melawan diri dengan meninggalkan sikap ‘ngeyel’.”

Kemudian Daud memberi saran pada Abu Hanifah, “(jika anda tidak mampu menyendiri) datangi saja tempat orang-orang berkumpul, cermatilah mereka dalam bertutur, tapi jangan ikut ngomong.” Kemudian Abu Hanifah mencoba melakukan saran Syeikh Daud. Komentar Abu Hanifah ternyata,“Aku tidak melihat usaha yang lebih besar dari pada mujahadah seperti yang dikatakan oleh Dawud–bertahan dalam majlis tapi tidak ikut berkomentar.”

Lantas, mengapa hal tersebut sukar dilakukan?

Terkait dengan hal itu, Syeikh Daud al-Tha’i mengatakan “karena jika mendengar dan menyaksikan kesalahan dari orang lain, sedangkan kita mampu menjelaskan/membongkar kesalahan mereka, maka akan merasa berat/tidak sabar untuk tidak ikut mengoreksi.”

Strategi merubah kebijakan dengan masuk sistem, tantangannya lebih sulit dari pada menjadi oposisi dengan sejuta gudang opsi dan kritikannya. Adapun jalan terbaik menghindari perdebatan keduanya adalah tidak menjadi bagian dari mereka (independent).

Baca Juga  Quo Vadis Jurnal Islamic Studies di Indonesia

Jalan yang ditempuh oleh Imam Abu Hanifah dan Syeikh Dawud al-Tha’i tentunya berbeda. Dawud al-Tha’i sebagai tokoh sufi, yang sedang menjalankan misi suluknya, memilih menyendiri, menyepi dan hanyut didalamnya sebagai cara terbaik menghindari masalah.

Sedangkan Imam Abu Hanifah, sebagai ulama/tokoh ahli dalam bidang hukum, problem solver masyarakat, bahkan konsultan, berkomunikasi secara langsung dengan orang lain adalah sebuah keharusan sebagai cara untuk memberikan edukasi pada mayarakat.

Akhirnya, ditengah sesaknya jidaal di sekitar kita, gejala lisan dan pengaruhnya, perlu lebih dipertimbangkan lagi. Selain pertimbangan akan terjerumus pada hal yang sia-sia, menjaga kominukasi yang baik, meninggalkan sifat “ngeyelan” adalah sebagaian dari cara untuk membersihkan diri.

Ada saatnya dimana kita harus diam, tapi juga ada saatnya dimana diam tidak menjadi sebuah solusi, karena kita mengerti dan mampu menjadi problem solver di masyarakat. Wallahu a’lam bi al Sḫawwab… [AA]

Misbahul Wani Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kaljaga Yogyakarta, member of Qur’anic Peace Study Club, dan Santri Ponpes Zainul Hasan Genggong, Probolinggo