Muhammad Sya’dullah Fauzi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga; Sedang Mengabdi di PP Wahid Hasyim Yogyakarta

Tentang Hidup dan Mati yang Dialami Manusia

2 min read

Kematian merupakan keniscayaan bagi setiap makhluk yang hidup. Ia adalah hal yang paling dekat bagi setiap manusia, karena kematian adalah yang pasti dan setiap hal yang sudah pasti, itulah yang dekat. Kematian selalu membayang-bayangi manusia. Namun, kematian sekaligus seringkali terlupakan.

Banyak dari kita yang sebenarnya takut dengan datangnya kematian. Karena dengan datangnya kematian, terputuslah segala kenikmatan duniawi yang kita rasakan selama ini. Harta, tahta, dan segalanya yang sifatnya duniawi yang selama hidup kita perjuangkan, ternyata tidak ikut dibawa mati.

Meskipun begitu, dalam ajaran Islam, kita semua harus percaya bahwa dunia adalah ladang untuk kehidupan akhirat kelak. Semua yang kita tanam di ladang kehidupan dunia akan kita panen di kehidupan akhirat kelak. Selama apa yang kita tanam dan cara kita menanam sesuai dengan apa yang telah diajarkan dalam Islam.

Bagi orang-orang yang telah menanam dengan baik di ladang kehidupan dunia, mereka tidak akan takut dengan kematian. Karena pada hakikatnya, mereka justru akan segera memanen hasilnya. Karena kita tahu, bahwa kematian adalah pintu masuk kehidupan akhirat.

Sebaliknya, bagi orang-orang yang tidak memafaatkan ladang kehidupan akhirat dengan baik, tidak menanaminya dengan hal-hal yang baik, maka kematian menjadi suatu hal yang mengerikan dan menakutkan. Karena mereka tidak memiliki sesuatu yang bisa dipanen nantinya. Mereka akan merugi dalam kehidupan akhirat kelak.

Jika kita mau sejenak menghayati makna-makna kehidupan kita, sebenarnya kita telah diajarkan oleh Baginda Rasulullah Saw. tentang peristiwa kematian dalam keseharian kita.

Setiap hari sebenarnya kita telah mengalami kematian. Setiap hari kita melakukan rutinitas yang disebut tidur. Tidur dianggap sebagai rutinitas “latihan mati”. Karena memang ada kesamaan antara tidur dan kematian. Yaitu ruh yang sama-sama keluar dari jasad.

Baca Juga  Kisah Cinta Sufi (9): Khusrau dan Syirin - Sebuah Siasat dan Pengorbanan Cinta

Dalam keadaan tidur, kita tidak mampu sedikitpun untuk menguasai jasad kita sendiri. Karena memang pada hakikatnya, hanya jasad lah yang tidur. Sama halnya dengan kematian. Jasad lah yang sebanarnya mati. Ruh kita masih tetap hidup. Karena apapun yang bersifat material, pasti akan mengalami kerusakan. Begitu juga dengan tubuh dan jasad kita.

Dari peristiwa tidur ini, setidaknya kita harus mampu mengambil pelajaran bahwa sebenarnya manusia itu sangat lemah. Kita yang selama ini membangga-banggakan tubuh kita, pada kenyataannya, kita tidak bisa menguasai jasad kita sendiri ketika dalam keadaan tidur.

ntuk itu, Nabi Muhammad Saw. mengajarkan kita hal yang luar biasa. Beliau mengajarkan kita untuk berdoa sebelum tidur:

بسمك أللهم أحيا و بسمك أموت

“Ya Allah dengan menyebut nama-Mu aku hidup dan dengan menyebut nama-Mu aku mati”.

Dari sini bisa dipahami bahwa ketika kita telah siap untuk tidur, maka sepenuhnya kita telah pasrah kepada Allah. Pasrah dengan segala apa yang terjadi sebelum bangun. Pasrah jika saja ruh kita tidak akan kembali ke dalam jasad kita.

Inilah yang harus kita tanamkan dalam diri kita sehari-hari, bahwa ketika kita hidup, berarti kita sudah harus siap mati, yaitu dengan menanamkan hati yang selalu sumeleh pada Dzat yang menghidupkan dan mematikan kita. Jika kita mampu menghayati ini, bagaimana kita bisa menyombongkan diri kita?

Begitu pula saat kita terbangun. Kita diajarkan untuk berdoa:

الحمد لله الذي أحيانا بعد ما أماتنا وإليه النشور

“Segala puji bagi-Mu ya Allah, yang telah menghidupkan kembali diriku setelah kematianku. Dan hanya kepada-Nya kami dibangkitkan”.

Dari doa tersebut bisa kita pahami bahwa ketika bangun, berarti kita dihidupkan kembali, kita dilahirkan lagi setelah mengalami kematian (tidur).

Baca Juga  Salat Witir dan Doanya

Ketika kita telah dilahirkan kembali, hal yang paling pertama kita tanamkan lagi-lagi adalah puji syukur serta kepasrahan dan ketundukan sepenuhnya pada Dzat yang telah membangunkan kita.

Kita dilahirkan lagi ketika kita bangun tidur. Dan kita mengalami kematian lagi ketika kita tidur. Peristiwa tidur dan bangun tidur adalah salah satu momen yang seharusnya bisa kita resapi dan hayati semata sebagai wasilah untuk meningkatkan kualitas keimanan kita.

Kita telah mengalami kematian setiap hari. Begitu juga kita telah mengalami kelahiran setiap hari. Dan begitulah kehidupan. Awal mula kita tidak ada (mati) lalu dilahirkan ke dunia dengan menyandang jasad. Kemudian kita akan mengalami peristiwa kematian lagi. Lalu kelak kita akan di hidupkan dan dibangkitkan lagi.

Kehidupan adalah siklus. Berputar dan selalu berputar. Pagi lalu malam, lalu pagi lagi. Tidur, lalu terbangun, lalu ketika malam tiba kita tertidur lagi, pagi harinya kita bangun lagi, dan begitu seterusnya. Kehidupan selalu megalami proses tawaf. Satu-satunya yang tidak bisa berputar kembali ke semula adalah umur.

Untuk itu, mari rayakanlah tasyakuran kelahiran kita setiap bangun tidur dengan hati yang bergantung kepada Dzat yang menciptakan kita. Dan sebelum habis umur kita, alangkah lebih baik kita sebanyak-banyaknya menanam hal-hal yang baik di ladang kehidupan dunia ini, dan tentu dengan cara yang baik pula.

Editor: MZ

Muhammad Sya’dullah Fauzi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga; Sedang Mengabdi di PP Wahid Hasyim Yogyakarta