Cara Rasulullah Mengenang Sayyidah Khadijah

Bincangsyariah.com

Sayyidah Khadijah binti Khuwailid, nama agung yang selalu bersemayam di hati Rasulullah. Ia bukan hanya istri yang setia, tetapi ia juga bijaksana dan dermawan. Ia setia kepada perjuangan dan dakwah Islam sampai akhir hayatnya.

Ia memiliki semua yang pada umumnya manusia kejar: harta, kekayaan, kedudukan sosial, kemuliaan, kebangsawanan, kecerdasan, dan kecantikan. Seperti kebanyakan wanita, ia menyimpan cita-cita untuk memiliki suami yang setia dan penuh perhatian.

Memang ia telah menjanda dua kali. Suami pertama, ‘Atiq bin ‘Aidh berakhir dengan perceraian. Sedangkan Abu Halah, suami yang kedua meninggal dunia. Tidak sedikit orang datang melamarnya, tetapi ia tolak.

Suatu hari ia menemui  Nafisah binti Mun’ya, kawan karibnya.  Ia mencurahkan isi hatinya: ia tertarik kepada Muhammad, ia ingin Muhammad menikahinya. Saat yang tepat Nafisah menyampaikan keinginannya kepada Muhammad.

Sayyidah Khadijah menyakinkan kepada Muhammad dan keluarganya, bahwa kekayaan tidak akan menjadi halangan pernikahannya. Bagi Sayyidah Khadijah kekayaan akan bernilai jika digunakan untuk melayani panggilan hatinya.

Ia meyakini bahwa  Muhammadlah sosok calon nabi yang ditunggu-tunggu. Ia telah menemui Waraqah bin Naufal, seorang ahli Kitab. Dari Waraqah inilah, Khadijah mendapat penjelasan tentang ciri-ciri nabi  terakhir. Dan ciri-ciri itu ada pada diri Muhammad. Karena alasan inilah Sayyidah Khadijah mengambil inisiatif lebih dulu melamar Muhammad.

Singkat cerita Muhammad dan Sayyidah Khadijah menikah. Kemudian Muhammad pindah ke rumah Sayyidah Khadijah. Dari pernikahan dua insan mulai ini lahirlah beberapa anak: dua orang putra bernama Qasim dan Abdullah, dan empat orang putri bernama Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan si bungsu Fatimah.

Saat yang ditunggu-tunggu tiba. Ramadan 610 M, Muhammad mendapatkan wahyu pertama, sebagai tanda kerasulannya. Sayyidah Khadijah menyambutnya dengan ketenangan dan kegembiraan. Ia menyadari bahwa suaminya telah terpilih menjadi Nabi dan Rasul akhir zaman. Ia memilih Islam, menjadi pengikut pertama Rasulullah. Ia menyakini dan mengimani bahawa Muhammad sebagai Rasulullah.

Ketika Rasulullah mulai mendakwahkan Islam, Khadijah mendukung sepenuh jiwa raga. Ia menyerahkan pikiran dan hatinya kepada Muhammad. Ia korbankan kekayaan, martabat, perasaan, dan kehormatannya demi Islam.

Ia bersabar ketika Rasulullah dijelak-jelekkan, dimaki-maki, dianggap orang gila, dianggap pembohong, dan didustakan oleh kaumnya. Ia berdiri tegar membela Rasulullah dari ancaman dan serangan orang-orang kafir Quraisy demi tegaknya panji-panji Islam. Ia menyerahkan segala miliknya demi kejayaan islam yang tidak pernah ia lihat dan rasakan.

Sayyidah Khadijah pergi menghadap Allah pada hari ke-11 Ramadan tahun ke-10 kenabian, tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Sayyidah Khadijah wafat pada usia 50 tahun, saat islam belum sepenuhnya diterima masyarakat Arab. Selang beberapa bulan Abu Thalib, paman Nabi,  menyusul Sayyidah Khadijah. Oleh sejarawan peristiwa kewafatan keduanya ini dikenang dengan sebutan ‘Amul Khuszni, tahun duka cita bagi Rasul.

“Khadijah, kata Ibnu Ishaq sejarawan Islam klasik,  “menegakkannya, meringankan bebannya, menyatakan kebenaran ajarannya, memperlemah perlawanan terhadap Muhammad,” sebagaimana dikutip Fuad Hashem dalam buku Sirah Muhammad Rasulullah Kurun Makkah, Suatu Penafsiran Baru (200).

Begitu besar perjuangan dan pengorbanan Sayyidah Khadijah untuk Islam. Maka tidak heran jika Rasulullah mengenang Sayyidah Khadijah sepanjang masa. Meski Khadijah telah wafat dan Rasulullah sudah beristeri lagi, Sayyidah Khadijah terus hidup dalam kenangan Rasulullah.

Bagaimanakah Rasulullah mengenang Sayyidah Khadijah? Setidaknya ada dua cara. Pertama, Rasulullah sering menyebut nama dan memuji Sayyidah Khadijah. Rasulullah menceritakan kebaikan-kebaikan Sayyidah Khadijah kepada orang-orang.  Kedua, memuliakan dan menghormati kerabat, sahabat, dan orang-orang yang pernah berhubungan baik dengan Sayyidah Khadijah.

Dr. Nizar Abazhah, dalam bukunya, Bilik-Bilik Cinta Muhammad : Kisah Sehari-hari Rumah Tangga Nabi, menggambarkan bagaimana Rasulullah mengenang Sayyidah Khadijah.

Dikisahkan Rasulullah sering menyebut dan menyanjung Sayyidah Khadijah. Sayyidah ‘Aisyahpun cemburu. “Bukankah ia hanya seorang tua Bangka? Sungguh Allah telah memberimu ganti yang lebih baik,” kata Sayyidah ‘Aisyah menunjukkan kecemburuannya.

“Tidak!” tegas Rasulullah.

“Demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik daripadanya. Dia beriman kepadaku ketika semua orang ingkar. Ia membenarkanku kala semua orang mendustakanku. Ia mencurahkan hartanya ketika orang lain tidak. Darinya Allah mengaruniakanku anak dan perempuan lain tidak,” kata Rasulullah.

Kisah ini menunjukkan betapa Rasulullah sangat memuliakan Sayyidah Khadijah. Kebaikan dan perjuangan Sayyidah Khadijah terus hidup di sanubari Rasulullah. Jasa-jasa Khadijah terus dikenang Rasulullah. Bagi Rasulullah Sayyidah Khadijah tidak akan tergantikan oleh siapapun, tidak juga oleh ‘Aisyah, istri Nabi yang cerdas dan rupawan.

Bukan berarti meremehkan Sayyidah ‘Aisyah. Sebab masing-masing memiliki perannya sendiri-sendiri. Diawal-awal Islam,   Sayyidah Khadijah berjasa menjadi penopang dan penggerak utama dakwah Rasulullah.

Sedangkan masa depan, ketika Islam telah berdiri kokoh, setelah  Rasulullah wafat Sayyidah ‘Aisyah berperan sebagai duta kaum muslimin dalam menyampaikan ilmu. Dari Sayyidah ‘Aisyah para sahabat meriwayatkan hadis.

Rasulullah menceritakan jasa Sayyidah Khadijah bisa kita pahami Beliau ingin menujukkan kepada umat  Islam, bahwa Sayyidah Khadijah merupakan pendahulu yang memiliki jasa besar bagi tegakknya Islam. Karena itu, jika kita mampu, kita teladani langkah perjuangan Sayyidah Khadijah. Jika belum mampu cukuplah kita kenang jasa-jasanya dalam doa-doa kita.

Cara Rasulullah tersebut bisa menginspirasi kita untuk selalu mengenang jasa-jasa para pejuang Islam dan para ulama. Kita sebut nama-nama mereka dalam doa kita. Kita hadiahkan kepada mereka bacaan surat Al Fatihah. Kita lanjutkan perjuangan mereka demi tegaknya Islam. Islam yang membela kaum tertindas. Islam yang memanusiakan manusia. Islam yang mambawa rahmat untuk semseta alam.

Selain menyebut dan menceritakan kebaikan-kebaikan Khadijah, Rasulullah juga menjalin hubungan dan memuliakan kerabat, teman, dan orang-orang yang pernah berhubungan dengan Khadijah. Apa yang ada hubungan dengan Sayyidah akan diperhatikan oleh Rasulullah.

Misalnya, Rasulullah berusaha berbagi makanan dengan sahabat-sahabat Sayyidah Khadijah. Dikisahkan  ketika Rasulullah menyembelih kambing, beliau memberikan sebagian sembelihan terbaik kepada sahabat-sahabat Sayyidah Khadijah.

Pernah datang seorang perempuan tua kepada Rasulullah. Beliau menyambutnya dengan ramah dan penuh kemulian. ‘Aisyah heran. Usut punya usut ternyata perempuan tersebut pernah datang ke rumah Khadijah. “ Wanita ini pernah datang kepada kami saat Khadijah masih hidup,” kata Rasul.

Bahkan kepada Zafar, tukang sisirnya Khadijah, Nabi juga memuliakannya. Jika Rasul mendapatkan hadiah daging, sebagian disisihkan untuk Zafar. “Khadijah pernah berpesan agar aku selalu memperhatikannya,” kata Rasul menyampaikan alasan.

Kepada Halah, saudari Sayyidah Khadijah, Rasul menyambut dan memuliakannya ketika ia datang ke Madinah. Begitu pula, ketika Rasul bertemu dengan  Nafisah binti Mun’ya di Madinah, Rasul terlihat sangat bahagia. Rasulullah teringat akan jasa Nafisah dalam pernikahan beliau dengan Khadijah.

Ketika Fathu makkah, pembebasan kota Mekkah, yang pertama kali Rasulullah ingat adalah rumah Sayyidah Khadijah. Sayang rumah yang dihuninya bersama Sayyidah Khadijah sudah hancur. Lalu Rasulullah membangun qubah di samping makam Sayyidah Khadijah.

Demikian cara Rasulullah mengenang  Sayyidah Khadijah, orang pertama yang menerima Islam, istri setia beliau, penopang perjuangan Rasulullah menegakkan tauhid. Kitapun bisa meniru Rasulullah mengenang jasa-jasa para pejuang yang telah mendahului kita.

Kita ceritakan kisah perjuangan mereka kepada generasi muda.  Jika mampu kita tulis sejarah hidup mereka. Kelak kisah perjuangan mereka akan menjadi inspirasi  anak cucu kita. (mmsm)

1

Mengajar di MTs. NU Miftahul Falah Cendono Dawe Kudus

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.