Ahmad Natsir Dosen IAIN Ponorogo

Kiai Misri dan Mbah Dukun

2 min read

Hari ini adalah hari terakhir kiai Misri mengajar tentang kitab Wasaya al-Mustafa (Wasiat-wasiat Nabi Muhammad). Namun, saat itu kang Zainal, santri kiai Misri begitu ngeden ingin sowan kepada beliau menanyakan suatu hal yang sudah dia curhatkan kepadaku kemarin sore. Longgarnya fatwa beliau masalah dukun. Iya, dukun. Kiai Misri sering tidak melarang warga masyarakat yang sering berkunjung ke Mbah Kemis seorang dukun kharismatik di desa itu. Padahal menurut kang Zainal, pergi ke dukun ialah perbuatan syirik yang masuk dosa besar.

Kang Zainal mengajakku untuk sowan kepada beliau, hanya sekadar bertanya, “Mengapa kiai? Mengapa?”

Setelah kiai Misri menerima kami dan mempersilahkan masuk, tentu saja kami disuguhi dengan kopi legendaris sang Kiai, yang entah mengapa mbok Minah, warung langganan kami pun tidak sanggup membuat kopi semisal kopi sang kiai.

“Yai, kami sebenarnya terheran-heran dengan sikap panjenengan selama ini. Mengapa jenengan begitu akrab dengan mbah Kemis? Padahal beliau kan dukun. Bahkan jenengan tidak melarang masyarakat bahkan santri jenengan sendiri untuk bertamu di sana. Bukankah pergi ke dukun termasuk perbuatan yang tidak terpuji?” jujur saja, kata ‘kami’-nya kang Zainal menjengkelkan saya. Bilang aja ‘saya’ gitu kek.

Sang kiai terdiam, komat-kamit membaca basmalah pelan dan meminum kopi yang ada di depannya.

“Kang, saya tahu. Memang ini terlihat tidak nyaman di hati banyak masyarakat.dulu saya juga sepertimu. Menganggap profesi dukun ini penuh dengan kesyirikan dan ilmu yang tidak diridai oleh Pengeran. Iya dulu saya begitu. Tapi semenjak saya membaca sirah Nabi Muhammad pandangan saya terhadap dukun lebih longgar dari sebelumnya” Jawab kiai dengan penuh wibawa. Terus terang saya tidak bisa meniru gaya dan suara kiai yang nge-bass. Suara saya yang cempreng jauh dari level wibawa.

Baca Juga  Kisah Anak Yatim di Hari Raya

“Lho masak kanjeng Nabi pernah sowan ke dukun yai?”

“Hahahaha.. Tidak. Ini karena sejarah hidup ayah beliau Abdullah. Abdullah sebelum menikah dengan Siti Aminah adalah pemuda yang baik dan sangat dicintai oleh ayahnya, Abdul Mutalib. Abdul Mutalib suatu saat bernazar apabila hidupnya sukses, dan anaknya mencapai sepuluh dan mampu membesarkan mereka. Abdul Mutalib akan menyembelih salah satu di antara mereka”

“Kemudian yai?” tanya Kang Zainal.

“Ternyata Allah memenuhi kehidupannya, hidupnya penuh dengan kesuksesan. Sumur Zamzam, sepuluh anak yang sudah dewasa. Saatnya bagi Abdul Mutalib untuk melaksanakan nazarnya. Mereka pun pergi ke Kakbah. Pengundian ialah adat yang biasa dilakukan saat itu. Dengan diundi, Abdul Mutalib akan menentukan siapa di antara anak-anaknya yang akan disembelih. Dadu pun diputar dan jatuh ke nama Abdullah. Abdul Mutalib langsung menggandeng Abdullah dan membawanya dekat dengan patung Isaf dan Nailah untuk disembelih”

“Kemudian yai” Kang Zainal tidak sabar.

“Penduduk Quraish menentang perbuatan Abdul Mutalib. Mereka tidak menyetujui Abdullah disembelih dikarenakan Abdullah merupakan anak yang baik dan tentu anak emas Abdul Mutalib. Apalagi bila penyembelihan dilakukan dikhawatirkan akan terjadi banyak penyembelihan anak sesudahnya. Perdebatan tidak menemukan ujung hingga ada yang mengajukan usulan bahwa perkara ini harus dibawa ke Hijaz. Di sana terdapat dukun wanita (‘Arafah) yang mempunyai jin (tabi’) dengan syarat semua orang harus mematuhi apa yang dikatakan dukun itu”

“Masak mereka kemudian benar-benar berangkat yai?” Sambung Kang Zainal.

“Iya. Mereka berangkat ke Madinah. Namun mereka tidak menemukannya dan mendapat kabar bahwa dukun tersebut berada di Khaibar. Rombongan Quraish ini kemudian menyusul ke Khaibar dan berhasil menemukan dukun wanita tersebut”

Baca Juga  Masih Adakah Nilai Rahmat dalam Masyarakat Kita?

“Dukun tersebut tidak langsung menjawab, melainkan mengatakan bahwa jinnya sedang tidak bersamanya, dia akan menjawab ketika jin itu sudah datang. Abdul Mutalib keluar menunggu sambil berdoa berharap cemas dan masuk lagi ke rumahnya” lanjut Kiai Misri.

“Apa kira-kira kata jin tersebut Yai?” Kali ini aku tak tahan lagi untuk bertanya.

“Wanita itu muncul dan bertanya, ‘berapa diyat di tempat kalian?’ ‘Sepuluh ekor unta’. ‘Kalau begitu pulanglah buatlah undian dadu dengan dua nama, satu unta, satu lagi nama sahabatmu. Bila yang keluar adalah nama sahabatmu, tambahkan sepuluh unta lagi. Terus begitu hingga keluar nama sahabat kalian, Tuhan telah meridai kalian”

“Rombongan tersebut pulang ke Makkah dan menjalankan ‘fatwa’ dukun tersebut. Mereka mengundi dengan sebuah dadu yang diisi dengan dua nama, Abdullah dan unta. Jika dadu yang keluar adalah nama Abdullah, maka Abdul Mutalib akan mengganti dengan 10 ekor unta. Begitu terus hingga mencapai jumlah 100 unta, dadu menunjuk nama unta, karena mereka kurang yakin, mereka melempar dadu hingga tiga kali dan nama unta tetap keluar. Ini artinya Allah telah meridai tebusan tersebut” lanjut kiai Misri.

“Karena itulah, saya tetap menghormati profesi dukun. Begitu-begitu mereka pernah menghias sejarah kita, hingga menyelamatkan Abdullah ayahanda Nabi kita. Asal mereka tidak menyakiti manusia yang lain. Itu sudah cukup bagi saya”

Kang Zainal manggut-manggut memahami cerita sang kiai. Kemudian undur diri setelah menghabiskan kopi dari kiai hingga tetes terakhirnya. [MZ]

Disadur dari Sirah Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam.

Ahmad Natsir Dosen IAIN Ponorogo

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *