Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta

Memahami Islam Nusantara dengan Analogi Sederhana

2 min read

Islam Nusantara bukanlah istilah baru dikalangan masyarakat Indonesia khusunya warga Nahdhatul Ulama. Sebelum Istilah Islam Nusantara muncul, Abdurrahman Wahid telah memperkenalkan istilah “Pribumisasi Islam”. Pada hakikatnya Islam Nusantara sendiri memiliki substansi yang sama dengan pribumisasi Islam yaitu menjaga tradisi keislaman di Bumi Nusantara yang telah berakulturasi dengan budaya pribumi. Istilah Islam Nusantara kembali diangkat ketika menjadi tema besar dalam acara Muktamar NU ke 33 di Jombang, Jawa Timur. Tema tersebut adalah “Meneguhkan Islam Nusantara Untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”.

Saya masih ingat pada waktu itu, istilah Islam Nusantara menjadi perbincangan hangat di dunia maya. Banyak pro dan kontra dalam penggunaan istilah tersebut. Tentu saja dengan pendapat mereka masing-masing. Mengutip dari news.detik.com KH. Said Aqil siroj mengatakan “Islam Nusantara bukan agama baru, bukan juga aliran baru. Islam Nusantara adalah pemikiran yang berlandaskan sejarah Islam masuk ke Indonesia tidak melalui peperangan, tapi kompromi terhadap budaya”. Selengkapnya baca disini

Mengenai wilayah Nusantara, dalam buku Gerakan Kultural Islam Nusantara yang disusun oleh Tim JNM, Istilah Nusantara juga, dalam sejarah dikaitkan dengan konsep yang dibuat oleh kerajaan Majapahit dan Patih Gajah Mada yang mana wilayah Nusantara meliputi Semenanjung Melayu (Palembang dan sekitarnya), Gugusan Lawas (Lampung dan sekitarnya), Tanungnegara (Sampit, Sambas dan sekitarnya), Tanjung Pura dan sekitarnya.  Berbebeda konsep Majapahit, dalam konsep Islam Nusantara, jangkauan wilayahnya lebih luas, yaitu meliputi Indonesia, Brunei, Malaysia, Thailand, Filipina dan Singapura.

Islam Nusantara, Sebuah Identitas Baru

Pada dasarnya kata Nusantara disini merupakan sebuah sifat, ini artinya Islam Nusantara merupakan Islam yang ada di Nusantara dan bercorak ke-Nusantara-an yang mengakomodasi tradisi-tradisi dan alam pikiran orang Nusantara dengan tetap dan berangkat dari titik pijak islam. Sehingga jika terdapat pertanyaan apakah islam nusantara memiliki perbedaan dengan islam di negara lain?. Jawabannya adalah secara substansi memiliki kesamaan namun, berbeda dalam karakterisitiknya. Karena pembentukan karakteristik islam di setiap negara pasti mempunyai perbedaan, karena letak georgrafis, iklim, bahkan lingkungan yang ada dapat memunculkan perbedaan karakteristik keberislaman.

Baca Juga  Menolak Vaksin seperti Belajar Islam dari Buku Terjemahan

Islam Nusantra menjadi sebuah identitas baru karena di dalamnya memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh islam-islam yang ada di dunia. Ketika kuliah semester empat bapak Jazilus Sakhok dosen pengampu mata kuliah Islam Nusantara menganalogikan Islam Nusantara sebagai tubuh manusia yang memiliki ruh dan jasad kemudian akan menghasilkan sebuah identitas baru. Ruh yang dimaksud disini adalah nilai-nilai universal dalam Islam. Adapun jasadnya adalah budaya (culture) itu sendiri. Ruh dan jasad akan bersatu sehingga membentuk identitas baru yakni Islam Nusantara.

Contoh sederhananya seperti ini, Anton dan Rizal. di dalam tubuh mereka terdiri dari ruh dan jasad. Ruh disini dapat diberikan kepada semua makhluk yang hidup di dunia ini oleh Tuhan. Namun, Apakah jasad yang telah dimasukkan ruh itu berbentuk sama? Tentu saja tidak. Apa yang kita lihat dari Anton dan Rizal merupakan sebuah bentuk jasad dari ruh yang telah di tiupkan kepada mereka. Sehingga mereka memiliki karakteristik tersendiri yang tidak bisa disamakan antara keduanya.

Contoh lain adalah diawali dengan pertanyaan mengapa harus Islam Nusantara. Kenapa bukan Islam di Nusantara?. Analaogi sederhananya adalah dengan dua kalimat “sapu di tangan” dan “saputangan”. Kalimat pertama merupakan tiga identitas yaitu “sapu”, “di” dan “tangan”. Kalimat tersebut memiliki sebuah makna sapu yang diletakkan di tangan. Jika kata “di” dihilangkan maka akan memunculkan sebuah identitas baru yaitu “saputangan”. Maka saputangan merupakan sebuah identitas baru dengan pengertian dan fungsi yang berbeda. Sebagaimana kita pahami saputangan adalah sebuah kain yang berfungsi untuk membersihkan tangan. Misal.

Sebuah Ekspresi Keislaman

Perlu ditegaskan kembali bahwa Islam Nusantara bukanlah sebuah golongan baru, apalagi agama, akan tetapi ia merupakan ekspresi keislaman masyarakat Nusantara yang berkolaborasi dengan budaya setempat.  Itulah yang menjadi pembeda dengan islam yang ada di Nusantara dan di tempat-tempat lain. Islam nya tetap sama, artinya nilai-nilai keislaman yang ada di manapun semua sama, tetapi ketika di tempatkan di suatu daerah maka ekspresi keislaman bisa saja berbeda. Menyesuaikan dengan karakter dan model dimana islam itu diajarkan.

Baca Juga  Perkawinan Beda Agama dalam Perspektif HAM

Karakter keberislaman masyarakat Nusantara tentu akan berbeda dengan model dan karakter Islam ala Timur Tengah. Terdapat  berbagai faktor yang dapat mempengaruhi keberagamaan orang-orang Timur Tengah dan Nusantara dalam mengekspresikan keberislaman mereka. Karakter keberislaman yang ada di Timur Tengah dan Nusantara disesuaikan dengan budaya yang ada.

Contoh sederhananya adalah pakaian shalat. Masyarakat Arab ketika shalat menggunakan Surban, Jubah, dan wewangian karena itu merupakan sebuah lambang kehormatan ketika menghadap tuhan. Berbeda dengan Nusantara. Tidak perlu menggunakan Jubah, dan Surban. Cukup menggunakan songkok, sarung dan baju koko. Keduanya memiliki ekspresi yang berbeda namun memiliki nilai yang sama yakni kehormatan kepada Tuhan.

Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta