Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta

Mengenal Syaikh Abdurrauf As-Singkili, Penulis Kitab Tafsir Pertama Di Indonesia

2 min read

Masuknya Islam di Indonesia menjadi langkah awal dalam perkembangan kajian keislaman khususnya dalam dunia penafsiran. Kitab tafsir Tarjuman al-Mustafid merupakan sebuah kitab tafsir pertama di tanah melayu Indonesia. Ditulis oleh seorang ulama dari Aceh yang bernama Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri al-Jawi. Ia berasal dari daerah Fansur, Singkil (Singkel) wilayah pantai Barat Laut, Aceh. Ada banyak pendapat tentang tanggal kelahiran Abdurrauf al-Sinkili. Mengutip dari Suarni (2015) ia lahir pada tahun 1602 dan meninggal di Kuala tahun 1639. Sedangkan dalam artikel Afriadi Putra menyebutkan As-Singkili Lahir sekitar tahun 1024/1615M.

As-Singkili berasal dari keluarga yang sangat religius, ayahnya bernama Syekh Ali al-Fanshuri seorang ulama terkenal, dia membangun dan memimpin dayah (sebuah institusi seperti pondok pesantren) di pedalaman Singkel. As-Sinkili lama menempuh pendidikan di Timur Tengah. Namun, Sebelum berangkat ke Timur Tengah Abdurrauf belajar kepada Syaikh ‘Ali al-Fansuri al-Jawi yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Selanjutnya ia berangkat ke Banda Aceh. Merasa kurang dengan ilmu yang dimilikinya, ia kemudian melanjutkan studinya ke Timur Tengah antara lain Dhuha, Yaman, Jeddah, Mekkah dan Madinah.

Di Timur Tengah, ia menghabiskan waktu selama 19 tahun untuk mempelajari ilmu keislaman dengan guru dan tempat yang berbeda-beda. Di Dhuha ia belajar kepada ‘Abd al-Qadir al-Mawrir. Di Yaman ia menuntut ilmu di dua tempat Bayt al-Faqih dan Zabid. Di Bayt al-Faqih ia menekuni bidang hadis dan fikih atas bimbingan Ibrahim bin ‘Abd Allah bin Ja’man. Di Zabid ia belajar kepada ‘Abd al-Rahim bin al-Shiddiq al-Khash dan ‘Abd Allah bin Muhammad al-‘Adani.

Di Jeddah ia menjadi murid ‘Abd al-Qadir al-Barkhali. Kemudian ia pindah ke Mekkah dan berguru kepada ‘Ali bin ‘Abd al-Qadir al-Thabari, Isa al-Maghribi, ‘Abd al-Aziz al-Zamzami, Taj al-Din bin Ya’kub. Rihlah Tarbawiyah Abdurrauf as-Sinkili berakhir di Madinah dengan berguru kepada Ahmad al-Qusyasyi dalam bidang ‘Ilm al-Bathin seperti Tasawuf dan sebagainya. Di Madinah ia juga sempat berguru kepada Ibrahim al-Kurani.

Baca Juga  Ibn Sina, Perintis Ilmu Kedokteran yang Tak Terlupakan

Selayang Pandang Kitab Tafsir Tarjuman al-Mustafid

Abddurrauf As-Singkili menghabiskan waktu 19 tahun dalam perjalanan keilmuannya di Timur Tengah. Berbekal ilmu yang sudah matang ia pulang ke tanah air guna mengamalkan ilmunya tersebut. Setibanya di tanah air ia ditunjuk sebagai Qadhi Malik al-Adil atau Mufti di Kesultanan Aceh yang mana tugasnya adalah mengurus masalah-masalah keagamaan. Ia menggantikan kekosongan mufti yang telah wafat sebelumnya. Pada saat menjabat sebagai mufti ia diminta oleh Sultanah Safiyat al-din untuk menulis beberapa kitab dalam bidang muamalah, tasawuf dan masih banyak kitab yang telah ia tulis, namun masih belum diketahuan apakah kitab tafsir ini ditulis atas permintaan sultanah atau tidak.

Terkait rujukan yang digunakan As-Singkili dalam menulis kitab ini memiliki dua pendapat yang berbeda. Pertama dari Snouck Hurgronje yang berpendapat bahwa kitab ini merupakan terjemahan dari tafsir al-Baidhawi. Kedua pendapat Peter Riddell dan Salman Harun, yang menyatakan bahwa kitab ini merupakan terjemahan dari tafsir al-Jalalain. Azyumardi Azra, memilih pendapat yang kedua dengan alasan bahwa As-Singkili memiliki silsilah intelektual dengan Jalal al-Din al-Suyuthi pengarang Tafsir Jalalain, baik melalui al-Qusyasyi maupun al-Kurani.

Dalam menulis kitab ini As-Singkili menggunakan metode tahlili yang dapat dilihat dari cara penafsiran dalam menjelaskan urutan ayat dan penjelasan aspek-aspek serta isi dari kandungan ayat. Sementara jika dilihat dari makna yang dijelaskan dalam kitab tafsir maka metode yang digunakan adalah metode ijmali dengan ciri-ciri pejelasan yang sangat singkat, padat dan mudah dimengerti.

Dalam menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an As-Singkili tidak hanya fokus pada satu corak tertentu, namun karena memiliki keahlian dalam berbagai bidang maka As-Singkili menggunakan menggunakan corak yang lebih umum. Terlebih lagi jika sampai pada ayat yang membicarakan hukum fiqih, teologi, dan qishah maka beliau akan memberikan porsi yang cukup. Hal ini karena beliau ahli dalam fiqih, filsafat, mantiq, tauhid, sejarah, ilmu falak dan politik. Sehingga berangkat dari keluasan ilmnya maka corak yang digunakan dalam kitaf tafsirnya cenderung lebih umum.

Baca Juga  Kontribusi Kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab

Selama masa hidupnya, Abdurrauf al-Sinkili telah berhasil menulis berbagai kitab dalam bahasa Melayu dan Arab. Salah satu karyanya yang sangat fenomenal adalah dalam bidang tafsir yakni kitab tafsir Tarjuman Al-Mustafid yang merupakan kitab tafsir 30 Juz pertama di Nusantara berbahasa Melayu-Jawi. Abdurrauf al-Sinkili wafat pada usia 78 tahun (1105 H/1693 M). Jenazahnya kemudian dikebumikan di samping Masjid yang ia bangun di Kuala Aceh.

Kitab Tarjuman al-Mustafid hadir sebagai gambaran bahwa dalam sejarah intelektual Islam di tanah melayu khususnya di Aceh yang telah memberikan sumbangan yang begitu besar dalam kajian al-Qur’an di Nusantara serta sebagai jembatan dalam berkembangnya kitab-kitab tafsir selanjutnya.

Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta