Nabilatul Rochma Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Kesucian Niat dan Keikhlasan: Mendekatkan Diri kepada Allah dalam Ajaran Islam

1 min read

Kredit: Republika/Thoudy Badai

Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad kepada umat manusia, bertujuan agar mereka dapat hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Hakikat ajaran Islam adalah peneguhan bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Dalam konteks ini, Islam hadir untuk membangun manusia dalam kedamaian, dengan sepenuhnya tunduk kepada Allah. Seorang muslim mesti mengutamakan kedamaian dalam dirinya sendiri, serta keselamatan diri dan orang lain.

Dalam sebuah hadis dikatakan: “Seorang Muslim adalah yang menyelamatkan muslim lain dari perkataannya dan dari perbuatan tangannya; dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari sesuatu yang dilarang oleh Allah” (HR. Nasa’i).

Dalam Islam, bersedekah kepada orang yang membutuhkan harus dilakukan dengan ikhlas, yakni dengan niat yang tulus untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari keridaan-Nya. Nabi Muhammad Saw mengingatkan umatnya bahwa setiap perbuatan baik yang dilakukan dengan ikhlas akan mendapat pahala besar di akhirat.

Keikhlasan dalam memberi adalah konsep penting yang erat kaitannya dengan mendekatkan diri kepada Allah. Ikhlas dalam memberi mengacu pada niat tulus saat melakukan perbuatan baik, terutama ketika membantu orang yang membutuhkan. Mendekatkan diri kepada Allah (qurbah ila Allāh) adalah upaya mendekatkan diri kepada-Nya melalui perbuatan baik yang dilakukan dengan niat ikhlas.

Niat ikhlas dalam Islam adalah kunci setiap perbuatan atau tindakan. Ketika seorang muslim menawarkan bantuan atau melakukan perbuatan baik, tujuannya hanya untuk mendapatkan keridaan Allah, bukan untuk mendapatkan pujian atau pengakuan dari orang lain.

Ikhlas dalam memberi juga berarti menjauhi riya, yaitu berbuat baik tanpa mengharapkan pujian dari orang lain. Rasulullah mengingatkan umatnya untuk menjauhi riya karena amal baik yang dilakukan dengan riya tidak mendatangkan pahala dari Allah.

Baca Juga  Di Hadapan Seorang Guru, Murid Ibarat 'Budak'

Selain riya, ada juga sum‘ah, yaitu perilaku di mana seseorang ingin orang lain mendengar atau mengetahui tentang amal baiknya. Ikhlas dalam memberi berarti berbuat baik tanpa mencari pengakuan atau pujian dari orang lain.

Tujuan mendekatkan diri kepada Allah adalah hal utama misi ajaran Islam. Seorang muslim berupaya mendekatkan diri kepada Allah dengan meningkatkan ketakwaan dan meraih keridhaan-Nya melalui amal saleh. Ini merupakan salah satu cara mempererat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.

Ibadah seperti salat, puasa, membaca Al-Qur’an, dan membantu fakir miskin adalah bentuk pendekatan jiwa-raga kepada Allah. Ketika seorang muslim melakukan ibadah ini dengan niat tulus, ia semakin dekat dengan Allah dan meningkatkan kualitas spiritualnya.

Mendekatkan diri kepada Allah juga mencakup mengenal dan mengikuti ajaran Islam yang benar, termasuk memahami dan mengikuti nilai-nilai, etika, dan prinsip-prinsip Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Ketulusan dalam memberi dan pendekatan tulus kepada Allah adalah dua konsep yang saling berkaitan. Ketika seorang muslim membantu atau melakukan suatu amal dengan ikhlas untuk menggapai rida Allah, secara otomatis ia mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam proses ini, seorang muslim membangun karakter yang lebih baik dan menjadi individu yang lebih baik, sehingga mempraktikkan keikhlasan dalam memberi dan mendekatkan diri kepada Allah membawa dampak positif bagi masyarakat dan umat manusia secara keseluruhan.

Untuk mendekatkan diri kepada Allah, kita perlu lebih mengenal ajaran Islam yang benar dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, mengenal dan mengikuti ajaran Islam yang benar merupakan langkah esensial dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari. [AR]

Nabilatul Rochma Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya