Nurdiani Latifah Staf AMAN Indonesia

Padma

3 min read

nujateng.com

Aku  tak tahu apa yang harus dilakukan untuk mengembalikan pola pikirmu. Apalagi, saat ini aku masih berstatus sebagai temanmu. Aku benar-benar tak mengerti dengan otakmu. Nampaknya kamu sedang dipengaruhi oleh kebodohanmu sendiri, Padma.

Aku, kamu dan makhluknya yang memiliki dua tonjolan di dadanya serta memiliki kantung rahim adalah perempuan. Tepatnya manusia perempuan. Sebagai manusia, aku dan kamu harus bergerak maju. Sebagai manusia perempuan juga, kita harus merasa wajib untuk maju dalam titik optimal.

Bukan hanya itu, sekarang kamu harus bisa berpikir rasional. Gunakanlah otak dengan jernih, hati nurani dan bekerjasamalah dengan manusia-manusia yang ada di sekitarmu. Kita pernah berjanji bukan untuk bisa menjadi manusia yang mumpuni, bukan? Kemana dirimu yang dulu, yang selalu mengajariku untuk bisa hidup dengan logika perempuan, lalu sekarang kemana  logikamu?

Padma, kamu telah banyak berubah.  Aku bahkan sudah tidak mengenali dirimu lagi. Pakaian, sifat dan dirimu yang dulu itu kemana?

“Kita akan jadi manusia perempuan yang berpotensi!” katamu sambil berapi-api sekitar dulu.

Sebulan yang lalu aku menemukanmu mengenakan hijab. Aku senang dengan perubahan itu. Bahkan perubahan hijabmu saat ini semakin kontras. Kamu menambah panjang hijabmu. Tapi, jujur saja kamu membuatku tidak nyaman. Aku enggan jika harus berlama-lama denganmu. Aku seperti melihat oranglain dalam tubuhmu. Padma, bukan aku menyalahi kamu dalam perubahanmu.

Kamu selalu menyebutku sebagai orang yang belum mendapatkan hidayah dari Tuhan. Apa karena aku belum memakai hijab sepertimu? Apa mungkin karena aku tidak sepaham dengan kamu yang baru? Kamu saat ini seumpama orang yang bertugas sebagai pencuci semua dosaku.

Padma, aku itu sahabatmu. Bukan temanmu. Aku sangat menyanyangimu, aku tidak menyesal dengan perubahanmu. Aku pikir kamu sedang mabuk agama saat ini. Kamu bukan lagi orang yang berwawasan luas yang aku kenal.

Sub-sub pembicaraanmu telah banyak berubah dan tema yang selalu diambil adalah kebenaran agama. Kamu selalu melaknat orang serta langsung menghakimi mereka dengan menganggap mereka sebagai penghuni neraka. Harusnya kamu ketahui, masuk atau tidaknya seorang ke dalam neraka adalah hak perogatif Tuhan. Manusia tidak berhak menentukannya!

Aku yakin, Tuhan menciptakan agama bukan untuk memecah belah umat manusia dan merasa lebih eksklusif kebenarannya dibandingkan yang lainnya. Padma, aku hanya ingin kamu lebih menyadari dirimu saja. kenali dirimu dan belajar. Itu yang akan membuatmu lebih baik dari orang lain.

Baca Juga  Mereka Kira Kami Bodoh [Sajak Rakyat Jelata]

***

Tiga bulan setelah pertemuan kita dulu, sekarang aku hanya melihatmu menangis saja. Bahkan kamu menangis bisa sampai seharian penuh. Kasihan tubuhmu hanya dibuat sakit oleh laramu. Sudah dua bulan aku mendapatimu seperti ini. Kamu menangis begitu saja. Priamu melakukan poligami?

Terjadi atau tidaknya poligami ada di tangan kita (perempuan), loh?!

Aku juga bingung apa yang membuatmu berubah dan pada akhirnya priamu melakukan poligami.

Tepat pada saat kamu memanjangkan hijabmu, aku pernah bertemu dengan suamimu. Bercerita tentang kondisi yang marah dan terhina atas perlakuanmu terhadapnya. Bahkan dia juga bercerita tentang keinginannya untuk mempoligamimu. Dan hal itu terbukti sekarang. Aku sengaja membuat janji dengan suamimu untuk mengetahui alasannya berpoligami.

“Itu kan, ujian untuk Padma. Itu latihan ikhlas untuknya. Agar lebih patuh sama perintah Tuhan. Ihklas dipoligami artinya berkorban untuk Tuhan juga…”

“Setiap manusia kan punya hak untuk tumbuh dan berkembang kan, Mas Dito? Artinya seorang istri berhak juga untuk mengeluarkan pendapatnya kepada suami. Dan itu diatur dalam undang-undang,” Aku membantahnya.

“Itu pola pikir orang kafir! Perempuan tidak boleh berpikir seperti itu. Jika perempuan yang bersuami berpikir seperti itu, dunia ini akan hancur. Ingin setara dengan laki-laki atau ingin menjadi laki-laki?”

“Tapi Mas…?” Aku tidak sependapat dengannya.

“Tugas perempuan itu utamanya di rumah. Jadi ibu sekaligus istri yang patuh dan ta’at terhadap suami. Biar ngerti dan takut sama Tuhan!”

Loh? Ini tuh apa? ucapku dalam hati saat itu.

Berarti aku, kamu dan perempuan lainnya dalam hal ini harus menanggung dosa secara koletif. Sekarang, keadaanmu di keluarga diacuhkan. Sudah tidak dianggap lagi oleh suamimu. Dan Mas Ditomu hanya berkata kepadamu bahwa imanmu lemah ketika kamu tidak menerima poligami dan menangis sepanjang hari.

Baca Juga  [Cerpen] Senja di Hari Sabtu

Keadaan ini tidak bisa aku terima!

Perempuan hanya dijadikan objek saja. Apakah perempuan hanya dijadikan  ssstttt…. pabrik anak?

Ingatlah Padma, saat perempuan tidak lagi dianggap sebagai manusia, hanya dibetinakan. Maka, runtuhlah nilai-nilai kehidupan. Satu lagi yang harus diingat, ketika perempuan tidak lagi bisa mengembangkan potensinya. Maka, runtuhlah nilai-nilai kemanusiaan.

Suamimu hanya melihat perspektif agama dalam satu sudut pandang. Suamimu lupa, bahwa Tuhan mengajarkan dan memberikan pengetahuan kepada kita (manusia), bukan untuk saling membunuh, menyakiti dan menyengsarakan.

***

Hari ini adalah satu minggu setelah aku bertemu dengan suamimu tempo hari dan hari ini juga tepatnya batas waktu untuk kamu berpikir untuk tetap dipoligami atau bercerai. Tapi, sepertinya keputusanmu akan dipengaruhi oleh Ria. Ria datang satu jam lebih cepat dari aku.

“Kamu tidak boleh cerai! Itu dosa besar!”

Ah… Ria. Kamu berkata tentang dosa besar?

Sebelum Padma yang berubah, di antara kita bertiga kamulah orang yang terlebih dahulu berubah. Saat kita berkumpul, kamu selalu menyebutku dan Padma belum mendapatkan hidayah karena belum menggunakan hijab.

Sampai sekarang, aku masih belum menggunakan hijab dan kamu menjauhiku atas sebab itu. Kamu memutuskan persahabatan kita. Bahkan kamu menyebutku sebagai mantan teman baikmu. Ria, aku masih menganggapmu sebagai teman sahabatmu.

Ria, Padma, hanya Tuhan yang mengatur dosa itu apa. Yang aku ketahui, bercerai itu diperbolehkan Tuhan, tapi dibenci Tuhan. Padma, Kamu masih boleh bercerai!

“Ini kehendak Tuhan, Ini garis dari-Nya yang harus kamu lalui,”

Sebenarnya  apa yang sedang kalian bicarakan? Garis dari-Nya?  

“Padma, kamu tidak boleh sakit hati. Karena surga sudah ada pada genggamanmu. Betapa bahagianya suamimu sudah menjadikanmu sebagai ratu bidadari,” Ria mengambil nafas dan,” kamu sudah dijamin masuk surga. Aku saja cemburu padamu. Kamu sudah bisa masuk surga. VVIP lagi.”

Baca Juga  Hujan Februari

Ini sudah tidak masuk akal lagi bagiku. Padma, akalmu, logikamu di mana? Aku tahu wanita itu rata-rata hanya menggunakan 10% dari otaknya. Kemana 10% otakmu yang kamu pakai untuk berpikir? Ini sudah gila, Padma.

Orang-orang yang masuk surga sudah bisa diprediksi hanya karena dia (perempuan) dipoligami?

Aku ingin bertanya padamu dan Ria, “Apa yang kalian yakini sebagai kebenaran?”

Kenapa seolah-olah kalian tidak punya ruang bicara atau berdiskusi dengan suami kalian? Bahkan saat suami kalian melakukan kebohongan, kekeliruan atau kejahatan yang terselubung sekalipun, Kenapa kalian tak punya posisi tawar-menawar yang seimbang dalam rumah tangga?

Aku anggap ini bukan cobaan dan ujian dari Tuhan. Melainkan, lebih akibat dari perbuatan diri sendiri. Aku akan beberkan. Suami itu telah bersekongkol dengan teman-temannya agar dapat bisa menikah lagi dengan seorang gadis dan dia berbohong, katanya dia sudah mendapatkan izin darimu untuk menikah lagi. Padahal nyatanya, dia tidak pernah meminta izin bukan?

Satu pertanyaan yang membuatku heran dalam kasusmu, “Untuk apa perempuan diciptakan?”

Bagiku perempuan diciptakan yang pasti bukan hanya sekedar menyimpan mani lalu hamil dan melahirkan. Perempuan bukan hanya sebagai alat instrumentasi seksual demi berkembangbiaknya spesies yang bernama Phytecantropus Erectus.

Yang kedua pertanyaanku,”Apa yang membedakan kita (Perempuan) dengan laki-laki, di luar dari kelamin yang berbeda bentuk dan buah dada yang menonjol? (MMSM)

Nurdiani Latifah Staf AMAN Indonesia

Artikel Terkait