









Khutbah Jumat kali ini ini mengajak kita merenungkan kembali tanggung jawab setiap Muslim dalam menjalankan amar makruf nahi mungkar. Membiarkan kemungkaran dan kezaliman bukanlah sikap yang dapat dianggap sepele, sebab sikap abai dapat membuat keburukan terus tumbuh dan dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Melalui khutbah ini, kita diajak memahami pentingnya keberanian untuk menegakkan kebaikan, mengingatkan […]

Di tengah derasnya arus media sosial, seorang muslim perlu bijak memilih aktivitas yang bermanfaat. Khutbah Jumat ini mengajak kita merenungkan hadis Nabi tentang pentingnya meninggalkan hal yang tidak berarti dan mengisi waktu dengan kebaikan. اَلْحَمْدُ لِلّهِ، نَحْمَدُكَ اللَّهُمَّ عَلَى مَا هَدَيْتَنَا لِطَرِيْقِكَ القَوِبْمِ وَفَقَّهْتَنَا فِي دِيْنِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، نُصَلِّى وَنُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الـمُصْطَفَى، وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ […]

Menjaga lingkungan bukan sekadar kepedulian sosial, tetapi bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi. Ketika alam rusak, kita semua turut merasakan akibatnya.

Ketika masalah datang dan semua jalan terasa buntu, kepada siapa kita mengadu? Khutbah Jumat ini mengajak kita mengingat kembali bahwa Allah selalu dekat, mendengar doa, dan membuka pintu rahmat bagi hamba-Nya.

Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang penuh dengan kegelisahan dan ketidakpastian. Namun, Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh membiarkan dirinya larut dalam kekhawatiran. Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi kondisi sulit yang kita hadapi? Marilah kita renungkan bersama melalui khutbah Jumat kali ini. Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang […]

Saat Hasan al-Banna menawari adiknya, Jamal, untuk masuk ke organisasi Ikhwanul Muslimin [IM], Jamal menjawab: “Memang benar pohon-pohon milik anggota IM bisa berbuah kapan saja, namun aku tidak pernah sekalipun menghendaki buah tersebut”.

Pertanyaan: Apakah ada ghībah yang diperbolehkan, mengingat perilaku ini sudah biasa dan bisa menjadi “makanan sehari-hari” masyarakat?

Abū al-Hārits al-Sayyāf, sang algojo, melangkah gagah dengan wajah amat angkuh, mendekati Al-Hallaj. Ia menampar pipinya dan memukul hidungnya begitu keras hingga darah mengaliri jubahnya.

“For many years I have dreamed of creating a place to share, teach and inspire people to be their best and to pursue their dreams.” Itulah kalimah Muhammad Ali yang terpampang di baliho, tentu saja lengkap dengan fotonya. “Selama bertahun-tahun saya bermimpi menciptakan tempat untuk berbagi, mengajar, dan menginspirasi orang untuk menjadi yang terbaik dan mengejar impian mereka,”

Ada seorang tamu yang bertanya kepada Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, “Habib saya minta diceritakan kisah Rasulullah Saw walaupun sedikit saja”. Maulana Habib Luthfi terdiam

Banyak sekali kesalah pahaman dikalangan masyarakat “awam”, yang konstruksi oleh politisi, dan diajarkan oleh sebagian akademisi menganggap bahwa “normal baru” merupakan sebuah akhir perjalanan yang harus dijalani oleh umat manusia setelah kedatangan dan kepergian wabah Covid-19.

Beragama secara "ngintelek" memang perlu dan penting, terutama dalam menghadapi perubahan-perubahan zaman yang makin kompleks sekarang. Tetapi mereka tak boleh pongah dan sombong, memandang remeh cara beragama orang-orang awam di dusun-dusun.

[Dr. Faqihuddin Abdul Kodir] Pertanyaanya, jika Cak Nur cukup elegan membuat gambaran Islam bagi mereka yang modernis, progresif, dan ngintelek, apa dan bagaimanakah mendakwahkan agama untuk mereka yang nyaring itu, yang sekarang semakin diechokan oleh media sosial dan internet. Ini umat kita juga, dan jumlahnya, katanya, jauh lebih banyak. Gimana Mas?"

Jadi benarkah bahwa ‘agama-agama old’ bakal musnah ditinggal para pengikut atau berubah menjadi agama baru berbasis teknologi dan kecerdasan buatan ? Bagaimana pula Islam menjadi model agama yang masih relevan dianut ‘manusia hibrid’ hasil rekayasa sains ? Ataukah semua syariah harus melakukan re-start atau meng-instal kembali agar tetap bisa bertahan.

Kiai Salam merupakan putra dari Syekh Jabbar, seorang pejuang yang berasal dari Dusun Jojokan, Desa Mulyo Agung, Kecamatan Singgahan, Tuban. Jika ditarik silsilahnya ke atas, maka Kiai Salam masih memiliki garis keturunan dengan Joko Tingkir.
