Raha Bistara Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kebiasaan KH. Hasyim Asy’ari Sebelum Membaca dan Menulis Buku

2 min read

Source: pecihitam.org

Bagi sebagian orang sebelum membaca dan menulis buku ada etika atau kebiasaan yang harus dikerjakan. Kebiasaan ini sebagai manifestasi penghormatan seseorang terhadap ilmu yang mereka pelajari atau ilmu yang mereka amalkan.

Apalagi bagi orang Islam, khususnya orang-orang dari pesantren ada laku spiritual yang menjadi kebiasaan sebelum melakukan kegiatan-kegaiatn tertentu seperti membaca dan menulis.

KH. Hasyim Asy’ari selaku pendiri Nahdlatul Ulama dan sebagai ulama karismatik memiliki beberapa kebiasaan yang secara konsisten dilakukannya sebelum membaca dan menulis buku.

Biasanya, kebiasaan ini disebut sebagai laku spiritual, karena bagi orang-orang pesantren mempercayai ada kekuatan-kekuatan adikodrati yang tidak bisa dijelaskan secara rasional tetapi itu bersifat nyata. Kebiasaan ini bagi KH. Hasyim Asy’ari dianggap sebagai etika dalam belajar.

Sebagai seorang ulama yang hafal kuttubusittah, KH. Hasyim Asy’ari ketika membaca dan menulis buku tentang syariah, biasanya beliau selalu bersuci atau memiliki wuhdu dan mengawalinya dengan basmalah.

Laku semacam demikian salah satu laku spiritual untuk membersihkan hati dari hal-hal yang bersifat kotor dan itu akan menghalangi ilmu masuk ke dalam hati dan pikiran kita.

Saya rasa, kegiatan semacam ini jarang kita jumpai, kebanyakan orang yang membaca buku atau menulis, mereka hanya akan membaca dan menulis saja dan acuh terhadap kegiatan semacam demikian.

Sedangkan bila KH. Hasyim Asy’ari membaca atau menulis ilmu retorika dan semacamnya, beliau akan membaca shalawat dan alhamdulilah (Sanusi, 2013:229).

Ini adalah adab bagi seorang yang sedang menuntut ilmu, mereka akan terus mencari syafaat dari baginda Nabi supaya proses pembelajarnya mudah dan apa yang ingin disampaikan melalui tulisannya sampai kepada orang yang membaca.

Kita ingat misalkan seoang hujjatul Islam, Imam al-Ghazali sebelum menulis karya yang paling fenomenal yakni Ihya Ulumuddin, ia melakukan shalat sunnah dua rakaat dan shalawat sebelum menulis kitab tersebut.

Baca Juga  Kisah Cinta Sufi: Khusrau dan Syirin (1)

Artinya ada pendekatan secara spiritual yang dilakukan oleh ulama-ulama terdahulu sebelum melakukan kegiatan berliterasi seperti membaca dan menulis.

Kegiatan ini dilakukan secara terus menerus tanpa henti, karena mereka berkeyakinan tanpa bimibingan dan petunjuk dari sang pencipta melalui wasilah Nabi mustahil kiranya dapat mencerna ilmu-ilmu agama dan mendakwahkan kembali ilmu-ilmu yang mereka peroleh.

Tidak itu saja, KH. Hasyim Asy’ari juga mengajarkan kepada santri-santrinya ada etika atau adab terhadap buku yang mesti dipenuhi oleh mereka yang masih belajar, sebagaimana yang telah dipraktikkan oleh beliau sendiri. Pertama, menganjurkan untuk mengusahakan agar memiliki kitab tersendiri.

Bagi orang yang sedang menempuh ilmu, diharuskan memiliki buku tersendiri supaya ilmu yang didapatkan dari jerih payahnya sendiri dengan melalui perjuangan yang berdarah-darah karena lebih bermartabat seseorang tatkala memiliki buku sendiri.

Kedua, merelakan dan mengizinkan bila ada kawan meminjam buku dan sebaliknya bagi mereka yang meminjam harus menjaga buku itu sebaik mungkin. Ini semacam sindiran yang halus bagi mereka yang memiliki buku yang banyak tetapi tidak mau meminjamkan bukunya kepada teman yang haus akan ilmu.

Kasus semacam demikian kiranya banyak di era sekarang, mereka memiliki buku yang berlimpah namun sayang dipinjam tidak boleh dan pemilik buku tidak membaca buku yang mereka miliki, buku hanya dijadikan hiasan dikamar-kamar mereka.

Tidak itu saja, bagi peminjam juga harus sadar diri. Ketika meminjam buku sejawatnya, mereka sebaiknya menjaga sebaik mungkin bukan malah kemudian dia melupakan buku yang dipinjam dan lama kelamaan mengklaim buku tersebut menjadi hak pribadi.

Kadang tidak jarang, banyak peminjam dengan semborno mencorat-coret atau melipat lembar demi lembar isi buku tanpa diketahu si pemilik buku. Ini adalah perilaku yang tidak diperkenankan bagi siapa saja yang meminjam buku.

Baca Juga  Dakwah Islam adalah Akhlak, Bukan Teriak

Ketiga, memeriksa terlebih dahulu bila membeli dan meminjam buku. Di era sekarang, mereka yang membeli buku melalui online sulit kiranya memeriksa buku terlebih dahulu. Apa buku itu ada suatu kecacatan atau tidak itu sangat sulit sekali diketahui.

Di tambah, banyak penjual online yang tidak jujur, kasus-kausus penipuan soal pembelian buku sudah tidak bisa terhitung lagi, kadang penjual berbicara bukunya bagus dan ori setelah buku sampai ternyata buku itu repro dan bahkan yang lebih miris fotocopyan.

Maka dengan kasus seperti ini bagi pembeli buku harap berhati-hati dan lebih teliti lagi dalam membeli buku biar tidak ada yang dirugikan, seperti pesan KH. Hasyim Asy’ari tadi.

Begitu juga dengan peminjam buku, layaknya sebelum meminjam buku memeriksa terlebih dahulu buku yang dipinjam barangkali ada suatu kecacatatan dari buku tersebut supaya tidak menimbulkan kecurigaan antara peminjam sama pemilik buku.

Kebiasaan ini KH. Hasyim Asy’ari lakukan setiap akan membaca dan menulis atau bahkan hendak menulis kitab-kitabnya. Terlebih apabila yang beliau baca adalah hasil karya para ulama salaf atau orang-orang saleh zaman dahulu, maka KH. Hasyim Asy’ari akan bertawasul atau mengirim doa terlebih dahulu kepada pengarangnya (Latiful Khuluq, 2000:46).

Kebiasaan demikian yang harus dilestarikan agar kita yang membaca kitab-kitab atau buku mendapatkan berkah dari pengarang buku tersebut.

Bagi KH. Hasyim Asy’ari setiap ilmu adalah cahaya Allah Swt. Karenanya, beliau selalau menyempatkan diri unutk bersuci terlebih dahulu dan menggunakan etika agar ilmu yang dipelajarinya bisa bermanfaat dan berkah.

Kebiasaan semacam ini tidak saja beliau lakukan sesudah menjadi pengajar di Tebuireng. Selama berada di Makkah, beliau selalu menyempatkan diri bertawassul dan mendoakan pengarang setiap kitab yang beliau pelajari secara khusuk. [MZ]

Baca Juga  Lebaran dan Psikologi Memaafkan di Tengah Pandemi
Raha Bistara
Raha Bistara Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta