Manuskrip Pegon Bali: Sebuah Naskah yang Tak Bertuan

Ibarat teka teki silang, misteri tentang manuskrip pegon berbahasa Bali ini belum menemukan titik terangnya. Pasalnya, naskah ini tidak menyebutkan identitas sang pengarangnya (anonim).  Wajar saja, pegon dalam bahasa Bali bisa dikatakan masih menjadi hal yang asing. uniknya lagi, manuskrip ini tak ditemukan di daerah asalnya, melainkan tersimpan di perpustakaan Leiden Belanda.

Berita ini disampaikan oleh Nur Ahmad, Alumni Vrije Universiteit Amsterdam, yang juga merupakan dosen di UIN Walisongo Semarang pada kesempatan forum diskusi.  Dia juga menambahkan bahwa lebih dari 20.000 manuskrip dari Indonesia disimpan oleh Perpustakaan Universitas Leiden Belanda.

(source: Nur Ahmad)

Penulis mencoba tuk melacak profil manuskrip kuno tersebut. Pada amplop yang membungkus manuskrip ini  tertulis “Cod 4716 Balinese Treatise on Muslim Theology, Written in unvocalised Arabict script, cat. Juynboll III, Bali, p.179.

Dalam tulisan tersebut menjelaskan bahwa manuskrip ini merupakan “Risalah Bali tentang Teologi Muslim dan ditulis dalam naskah Arab (pegon) yang tidak menggunakan tanda baca (syakal).

Kode Cod 4716 pada amplop tersebut dapat dilacak pada katalog Inventory of The Oriental Manuscripts of The Library of The University of Leiden. Katalog ini berisi keterangan manuskrip yang berkode antara Or. 4001-5000. Dikompilasi oleh Jan Just Witkam, Professor of Paleography and Codicology. Sebagai informasi tambahan, manuskrip-manuskrip yang adadalam katalog tersebut  terdaftar pada kisaran  tahun 1896 hingga Mei 1905.

Manuskrip berkode Or.  3195- Or. 4717 merupakan koleksi dari Van Der Tuuk (1824-1894) dan manuskrip berkode Or. 4716 terletak pada halaman 139 di katalog tersebut. Terdapat keterangan, “Balinese, Paper, 26 pp., Arabict Script (Unvocalized), A work on Fiqh, Islamic law, and the Arkan al-Iman: On Iman (p.10), on the belief in God and the angels (p.13), on the belief in the 104 books (p.13), on the belief in the 313 messenggers, on the belief in the youngest day (p.15), Definitions of Islam (p.16), of Tawhid and Marifat (p.17), of Ihsan (p.19, etc.) cat. Brandes 1648. Cat. Juynboll III, p.179.”

Katalog tersebut menyajikan secara jelas tema-tema yang terdapat dalam manuskrip pegon ini. Ditulis pada kertas dengan menggunakan bahasa Bali, terdiri dari 26 halaman, memakai huruf Arab (hijaiyah), dan tidak menggunakan harakat. Karya ini berisi tentang penjelasan fikih, hukum Islam, dan rukun iman.

Secara spesifik, manuskrip ini membahas tentang kepercayaan terhadap Tuhan, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, dan hari akhir.  Juga terdapat penjelasan terkait Islam, ihsan, dan makrifat.

Tak seperti pada umumnya, jumlah rasul dan kitab yang tertulis pada manuskrip ini ialah 313 untuk rasul dan 104 untuk kitab. Bagi masyarakat awam tentu hal ini tidak lazim. Namun hal ini menunjukkan kedalaman ilmu sang pengarang dengan menyajikan pengetahuan yang luar biasa. Selain itu, jika menilik keterangan pada katalog, tidak ada penjelasan terkait percaya terhadap qada dan qadr yang mana merupakan rukun iman ke-6.

Dari hal penelusuran yang penulis lakukan, di amplop maupun di manuskrip yang memiliki 26 halaman tersebut tidak ditemukan siapakah pengarang karya ini. Pada setiap halaman manuskrip terdiri dari 13 baris dan tertulis dengan tinta hitam dan beberapa kata menggunakan tinta berwarna merah.  Halaman 1 sampai 10 berisikan munajat pengarang, yang diyakini merupakan seorang sufi, kepada Tuhan Pencipta.

Pada baris pertama dalam halaman pertama berisikan lafal basmalah dan pada baris ke-2 tertulis “Titiyang nunas ampura ring Allah ene luwih hagung ene ten wenten tuhan liane dane” yang artinya, saya mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Dan ditutup pada hal 10 dengan kalimat, “subhana robbika robbil  izzati ‘amma yasifun wa salaamun ala al-mursalin wa alhamdulillahirobbil ‘alamin”.

Lantas, siapakah Van Der Tuuk ini? Apa hubungannya manuskrip ini dengan Van Der Tuuk?

Setidaknya Tuuk merupakan satu-satunya kata kunci untuk mengetahui profil manuskrip tersebut. Pasalnya ialah yang menjadi penyebab manuskrip ini berada di Perpustakaan Universitas Leiden Belanda (berdasarkan katalog tersebut).

Dalam artikel yang ditulis oleh M Arman AZ berjudul “Van Der Tuuk Meneliti Bahasa Lampung, Bahasa Batak, Hingga Bahasa Bali(2018)”, dijelaskan bahwa Van Der Tuuk pernah tinggal di Bali selama 25 tahun.  Nama lengkapnya Herman Neubronner Van Der Tuuk. Lahir pada 24 Oktober 1824.

Di Bali ia lebih dikenal dengan nama Gusti Dertik. Tuuk merupakan seseorang yang menekuni bahasa Bali-kawi dan menjalani kehidupan dengan sederhana. Sehingga masyarakat menjadikan Van Der Tuuk sebagai tokoh terpandang pada masa itu. Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Sastra dan Hukum di Universitas Groeningen, Belanda. Semasa hidupnya ia fokus mempelajari bahasa Inggris, Sanskerta, Persia, Arab, dan Portugis.

Prof. Dr. Nico J.G. Kaptein, pada kata pengatar buku Wajah Islam Nusatara (Nur Ahmad) mengatakan bahwa manuskrip ini termasuk fenomena yang amat langka. Belum lagi, di badan manuskrip, amplop manuskrip, dan juga pada katalog tidak diketahui pula siapa pengarangnya.

Penulis sempat bertanya kepada salah satu tim Balai Litbang Agama Semarang (BLAS), Roch Aris Hidayat yang melakukan penelitian untuk menginventarisasi dan digitalisasi naskah keagamaan Islam di Buleleng, Jembrana dan Tabanan pada tahun 2019.

Namun, ia pun juga belum mengetahui keberadaan manuskrip yang di perpustakaan Leiden Belanda tersebut. Ia menyampaikan bahwa menurut info yang disampaikan oleh pengurus Masjid Agung Jami’ Singaraja bahwa dulu ada banyak naskah di masjid itu, namun sayangnya naskah-naskah tersebut sudah dibakar karena dianggap tidak ada gunanya dan sebagian kondisinya sudah rusak.

Di Singaraja terdapat  Museum Gedong Kirtya yang terletak di Jl. Veteran Singaraja Bali. Dikenal juga dengan sebutan Perpustakaan Gedong Kirtya. Museum ini didirikan pada tanggal 2 Juni 1928 dan diresmikan oleh I Gusti Djelantik, Raja Buleleng kala itu. Museum ini berisi  ribuan koleksi manuskrip daun lontar, prasasti,dan dokumen dari zaman kolonial yang merupakan warisan dari Van Der Tuuk.

Penulis menduga museum ini akan menjawab teka-teki penelusuran manuskrip pegon Bali tersebut. Karena Gedong Tirtya merupakan satu-satunya museum manuskrip yang berada di Pulau Bali yang menyimpan aset berharga dan masih menjadi  daya tarik tersendiri bagi siapapun yang haus akan wawasan budaya lokal, khususya “Manuskrip Kuno”.

Mungkinkah salinan manuskrip ini juga tersimpan di sana? wallahu a’lam… [AA]

7

Mahasiswa S1 Jurusan Ilmu al Quran dan Tafsir UIN Walisongo Semarang

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.