Ahmad Rusdi Alumnus Ma'had Fath al-Islami Damaskus; Guru Ngaji, ASN Kementerian Agama RI

‘Arafah: Makna di Balik Sebuah Nama dan Hikmahnya bagi Umat Islam

2 min read

source: kemenag.go.id

Siapapun yang pernah beribadah haji pasti pernah merasakan kondisi panas yang menggelorakan ibadah di Arafah. Padang yang lumayan teriknya, meskipun sudah mulai ada penghijauan dengan ditanamnya pepohonan, justru disitulah letak kekuatan “magisnya” dalam beribadah, kita bisa khusyu bermunajat dan berdoa di tengah jutaan manusia.

Ada yang sedih menyesali dosa-dosanyan di masa lalu, ada yang bergembira karena bisa sampai di padang Arafah yang merupakan salah satu rukun haji. Semua rasa bercampur aduk, haru, sedih dan gembira sambal mengharapkan ampunan ilahi dan sekaligus memperoleh ridho-Nya.

Arafah memang memiliki nilai historis yang sangat penting bagi umat Islam. Di Arafah lah Rasulullah saw. menerima wahyu dari Allah SWT tentang kesempurnaan agama Islam.

 …ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ فَمَنِ ٱضْطُرَّ فِى مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“ … Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Selain itu, Arafah juga diyakini sebagai tempat bertemunya nenek moyang manusia pertama di dunia (Adam dan Hawa), setelah diturunkan dari surg. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas ra dalam Tafsir al-Fakhr al-Raziy. Pun demikian dalam kitab Hasyiyah Muhyiddin Syaikh Zadah Muhammad bin Mushlih al-Din al-Hanafit ‘Ala Tafsir al-Qodhiy al-Baidhawiy. Masih di kitab yang sama juga, ada riwayat lain yang menceritakan bahwa saat Jibril mengajarkan Ibrahim as cara menunaikan haji di tempat ini. Jibril bertanya: ‘Arafta (tahukah Anda?), Ya Ibrahim,” Ibrahim menjawab: ‘Araftu (Aku mengetahui).”

Baca Juga  Ramadan di Arab Saudi: Rindu Keramaian Orang Beribadah

Dari dua riwayat di atas, Arafah memang memiliki tempat tersendiri dalam sejarah umat Islam, Dimana dari Arafah lah kemudian manusia memulai peradabannya di bumi ini, yaitu saat pertemuan antara nabi Adam dan ibunda Hawa. Dan, disitu pula lah tempat bertemunya Ibrahim dengan istri tecinta dan putra terkasih Ismail as.

Arafah secara Bahasa berarti tahu (mengetahui). Lokasi ini jadi pertemuan Adam dan Hawa bisa jadi dimaksudkan agar mereka berdua arafah (mengetahui) dan mengakui dosa-dosanya dan selanjutnya memohon ampunan kepada Allah. Dosa serta kesalahan sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Adam dan Hawa adalah dosa dan kesalahan yang muncul dari syahwat bukan dari kesombongan sebagaimana Iblis. Dan hal yang demikian sebagaimana dikatakan oleh imam Sufyan al-Tsauriy masih sangat berpeluang untuk diampunkan, berbeda  dengan kesombongan.

كل معصية عن شهوة فانه يرجى غفرانها وكل معصية عن كبر فانه لايرجى غفرانها لان معصية ابليس كان اصلها من الكبر ان زلة سيدنا أدم عليه السلام كان اصلها من الشهوة

“Setiap maksiat yang terlahir karena dorongan nafsu, sesungguhnya masih ada harapan ampunan dari-Nya. Namun setiap maksiat yang lahir karena dorongan rasa sombong, sungguh tidak ada harapan pengampuanan dari-Nya. Karena demikianlah kedurhakaan yang dilakukan iblis berawal dari rasa sombong dan kesalahan yang dilakukan oleh Nabi Adam (dengan memakan buah huldi) berawal dari dorongan syahwat” (Syaikh al-Nawawi al-Bantani, Nashoih al-‘Ibad, bab al-Tsuna-iy maqolah ke-9).

Syahwat adalah keinginan terhadap sesuatu . Seperti Nabi Adam as yang memakan buah Khuldi akibat dari dorongan keinginannya, yang akhirnya menyebabkan beliau dan ibunda Hawa diturunkan dari surga. Hal tersebut membuat keduanya  merasa sangat bersalah, sehingga beliau selalu meminta ampun kepada Allah swt, dalam al-Qur-an disebutkan:

Baca Juga  Merawat Peradaban, Merawat Akal Sehat [2]

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِينَ

“Keduanya berkata “ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri . Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi“ (Q.S. Al a’raf: 23)

Akan tetapi jika perbuatan maksiat berasal dari kesombongan, maka tidak bisa diharapkan ampunannya, seperti kesombongan yang dilakukan Iblis. Mengapa demikian? Karena,  yang pertama, kesombongan kerap kali membuat pelakunya untuk menyadari kesalahan dan kekurangan. Selian itu, kesombongan itu hanyalah milik Allah swt, kita selaku makhluk-Nya tidak layak berlaku sombong.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي ، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا، قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ

“Sifat sombong itu selendang-Ku, keagungan adalah busana-Ku. Barang siapa yang merebut salah satu dari-Ku, akan Ku lempar ia ke neraka.” (Hadist diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibn Majah dan Ibnu Hibban)

Dan sifat sombong inilah yang ada pada Iblis dimana dia menentang Allah dengan tidak mau menuruti perintah-Nya untuk bersujud kepada Nabi Adam as sebagai penghormatan.

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسۡجُدَ إِذۡ أَمَرۡتُكَ‌ۖ قَالَ أَنَا۟ خَيۡرٌ۬ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِى مِن نَّارٍ۬ وَخَلَقۡتَهُ ۥ مِن طِينٍ

“Allah berfirman ”apakah yang menghalangimu (sehingga ) kamu tidak bersujud (kepada Adam ) ketika aku menyuruhmu?(Iblis) menjawab aku lebih baik daripada dia . Engkau ciptakan aku dari api, dan Engkau ciptakan dia (Adam as) dari tanah” (Q.S. Al a’rof:12).

Dan ketika Iblis diusir dari Surga, dia malah justru semakin menunjukkan kesombongan dan kedurhakaanya dengan bersumpah akan menyesatkan bani Adam dari jalan kebenaran sebagaimana disebutkan dalam Alquran:

Baca Juga  Tingkatan Bersuci Menurut Imam Al-Ghazali

قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِى لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٲطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ

“(Iblis ) menjawab ”karena engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan selalu menghalangi mereka (bani Adam) dari jalan-MU yang lurus” (Q.S . Al a’raf: 16).

Orang yang ‘arofa nafsah (mengenal/mengetahui dirinya sendiri) sejatinya adalah orang yang tahu menempatkan posisi dirinya dan kedudukan tuhannya. Mereka ini melaksanakan tugas kehambaan dan kekhalifahannya dalam konteks hubungannya dengan sang pencipta di muka bumi ini dengan prinsip sami’na wa atho’na (sendiko dawuh); sebagaimana Ibrahim as yang melaksanakan perintah tuhannya dengan penuh keridhaan dan kerelaan, jauh dari sifat penentangan yang menunjukkan kesombongan dihadapan Allah swt. [AA]

Ahmad Rusdi Alumnus Ma'had Fath al-Islami Damaskus; Guru Ngaji, ASN Kementerian Agama RI