Said Hoedaini Pemimpin Redaksi TV9 dan Penikmat Sastra

Alif dan Mim (10): Harapan yang Semakin Tipis, Terkikis Hampir Habis

3 min read

Sore itu. Sore untuk menunaikan janji.

Ranti agak tergesa berangkat ke rumah Mim. Ia dengar dari ibunya, orang-orang pergi ke danau karena ada sapon. Eureka! Seperti Archimedes terlonjak menyaksikan luberan air melewati pinggiran bejana tempat ia mandi. Atau seperti Isaac Newton yang diperciki pengetahuan baru bersama buah apel yang jatuh dari atas pohon di dekatnya.

Ranti seperti mendapat ilham. Ia menemukan cara mempertemukan Mim dan Alif. Sapon tak datang setiap hari. Banyak orang ingin menyaksikan. Inilah saat yang tepat untuk mengajak Mim keluar rumah.

Kalau bisa bicara, sebenarnya hati Ranti ingin berteriak bahwa ia tidak rela. Tapi sudah kepalang basah. Janji adalah utang. Alif kakak sepupunya. Mim sahabatnya baiknya. Ranti seketika layu memikirkan hal itu.

Ranti ke rumah Mim tak lama selepas Asar. Ia sengaja berjalan tergesa agar cepat sampai. Semakin cepat urusan selesai, semakin cepat ia bisa pergi menjauh dari urusan ini. Mim baru saja menyelesaikan salatnya ketika Ranti mengetuk pintu rumah. Keduanya berangkulan saling melepas rindu.

Ranti tak bisa menahan degup jantungnya sendiri. Mim gadis paling cantik dan pintar sejak dulu. Mim tidak selalu ceria tapi mudah disukai teman. Sebab itu Ranti selalu bangga bisa bersahabat dengan Mim. Ranti juga cantik. Ia lebih periang dan juga punya banyak teman. Tapi entah kenapa ia selalu merasa tak bisa melampaui Mim. Ketika perasaan itu muncul lagi sore itu, batinnya menciut.

Sebelum berangkat ke rumah Mim, Ranti mengirim pesan kepada Alif. Mengabarkan bahwa tugasnya membawa Mim keluar untuk bertemu bakal segera terlaksana. Alif meminta Ranti mengajak Mim ke pendapa tepi danau. Lalu mereka akan bicara berdua.

Baca Juga  Fiqih Pemulasaraan Jenazah Pasien Covid-19

Ya, berdua. Ranti tak perlu terlibat di dalamnya.

Meski terasa ada yang menikam di dada, Ranti senang berhasil merayu Mim. Mengajaknya jalan-jalan ke danau sore itu. Sampai akhirnya Mim marah karena tahu urusan jalan-jalan ke danau itu ternyata muslihat belaka. Mim tak mau bertemu Alif. Mim juga marah karena menganggap Ranti membohonginya.

Ranti berkali-kali meminta maaf. Tapi Mim terus menangis. “Alif itu masa lalu, Ran. Dia jejak yang harus ditinggalkan. Dihapus jika perlu. Dua hari lagi akan ada tamu datang ke rumah ini. Sepupu jauh bapak, dari Semarang.

Ranti tak sampai hati berbahagia dalam suasana itu. Ia memang menyukai Alif, tapi ia tidak mau melihat sahabatnya remuk redam seperti itu. Ia ikut menangis bersama Mim. Menangis karena perasaan bersalah. Menangis karena merasa tidak berdaya.

_________________

Mim merasa proyek perjodohan itu terasa makin dekat dengannya. Dua hari lagi tamu dari Semarang akan tiba. Sejak obrolan di meja makan waktu itu, tidak ada lagi obrolan khusus soal ini. Bapaknya tidak pernah lagi mengajak Mim bicara soal rencana kedatangan Uwak Semarang dan Arfan anaknya yang baru pulang dari Yaman.

Dibicarakan memang tidak. Tapi Mim tahu bapaknya diam-diam memesan beberapa kilogram ikan mujair kepada Cak Ji di kerambah, membayar uang pesanan roti kukus di Bude Tik, dan membayar uang sembako di warung Kaji Maki. Kalau tidak untuk menjamu para tamu, untuk apa belanja sebanyak itu?

Mim senang tidak ada pembicaraan lanjut soal tamu yang akan datang. Tapi dia juga makin khawatir karena urusannya jadi penuh misteri. Mim merasa dianggap seperti anak kecil. Sikap diam bapaknya itu sebuah penegasan bahwa yang bakal terjadi lebih pas dianggap sebagai urusan orang tua. Anak-anak tidak perlu turut. Mim sebal dengan semua ini.

Baca Juga  Dari Wawasan Pancasila ke Spiritualitas Pancasila

_________________

Alif juga sebal. Kabar dari Ranti soal Mim yang marah setelah tahu akan diajak bertemu dengannya, tak urung membuat sorenya kelabu. Bagaimana bisa menjelaskan baik-baik kalau ditemui selalu menghindar. Bagaimana urusan bisa segera beres kalau yang diajak menyelesaikan justru membuat urusan jadi lebih pelik.

Alif melemparkan tubuhnya hingga terlentang di atas kasur. Angan-angan untuk bicara dengan Mim di pendapa danau gagal total. Padahal ia sudah menyiapkan kalimat apa saja yang akan ia utarakan saat bertemu Mim.

Ia ingin menyelesaikan perang dingin yang menyiksa kedua belah pihak. Pertama, ia akan ucapkan salam paling lembut. Lalu disusul menanyakan kabar Mim, kabar bapaknya. Oya, jangan dulu menyinggung soal wisuda. Itu wilayah paling sensitif. Menikunglah dulu, puji Mim karena ia makin tampak cantik sore itu.

Nah, setelah ia tersipu, barulah mulai masuk ke momen puncak: Meminta maaf. Dalam suasana ini Alif akan meminta maaf seperti si terhukum yang menyerahkan kepalanya untuk dipenggal. Mim bukan algojo.

Alif yakin hati gadis selembut Mim tidak akan tega melihatnya begitu. Mim akan segera memaafkannya. Lalu perang dingin selesai. Kedua belah pihak sepakat melakukan gencatan senjata. Dan menghangatkan lagi hubungan yang sempat beku. Kedua negara akan hidup makmur selama-lamanya.

Haiyss..! Kenyataannya jauh dari itu. Seribu enam ratus tiga puluh lima derajat. Alif membanting bantalnya ke tembok. Kata siapa perempuan itu seperti bunga? kalau sedang begini rumitnya melebihi trigonometri dan aritmatika. Gembus!

_________________

Alif duduk di meja makan tanpa selera. Nasi hangat, tempe goreng, rawon, dan kerupuk udang yang terhidang di meja pagi itu. Kalau hati dan pikiran sedang rusuh, yang biasanya lezat di lidah pun jadi hilang arti.

Baca Juga  Amien Rais dan Gagasan Tauhid Sosial

“Jadi balik ke Jogja kapan, Lif?” ayahnya membuka percakapan.
“Insya Allah lusa, Yah.” Alif menjawab ngawur. Ia harus ketemu Mim dulu. Dan ia tidak tahu itu kapan.

“Besok pagi ayah ke Jogja. Kamu bareng ayah saja.”

“Lumayan ngirit ongkos, sekalian menemani ayah selama perjalanan.”

“Tapi..” Alif ingin menyampaikan sesuatu

“Tapi apa?” Ibunya menukas dengan lembut. Alif mengangguk.

“Baik, Yah…” Alif tidak punya energi untuk berdebat lagi. Ia memilih mengalah. Bersambung…. (AA)

Said Hoedaini Pemimpin Redaksi TV9 dan Penikmat Sastra