Said Hoedaini Pemimpin Redaksi TV9 dan Penikmat Sastra

Alif dan Mim (11): Hmm.. Harus Bagaimana Lagi, Aku Tak Tahu

2 min read

Pukul tujuh pagi mobil itu meninggalkan halaman. Bergerak ke barat menuju Jogja. Alif duduk di jok tengah. Ayahnya duduk di depan bersebelahan dengan sopir. Alif tidak banyak bicara. Hati dan pikirannya bertamasya ke mana-mana.

Tidak beruntung sekali nasib perasaan ini, pikirnya. Kerumitan demi kerumitan dalam hubungannya dengan Mim muncul satu demi satu. Seperti rerumput di musim semi. Satu gerumbul belum terpangkas, satu gerumbul tumbuh lagi. Ditambah satu gerumbul lagi. Satu gerumbul lagi. Lama-lama menjadi seluas sabana.

Tanpa sadar Alif mendenguskan nafas keras-keras. Ayahnya spontan menoleh ke belakang. Alif langsung beringsut ke samping.

Sudah 5 jam perjalanan. Mobil memasuki Jombang ketika Pak Dahlan meminta sopir mampir ke masjid untuk sembahyang lohor dan beristirahat sebentar. Selepas salat berjamaah, di teras masjid kedua ayah dan anak itu duduk santai. Pak Dahlan duduk berselonjor. Alif bersila.

“Kata Imam Syafi’i, salah satu keistimewaan orang merantau adalah mendapatkan kawan mulia.” Pak Dahlan memulai percakapan. Alif merundukkan badannya, bersiap mendengarkan. Kedua tangannya tersimpan rapi dalam sedekap yang rapat di atas kedua pahanya.

“Dari relasi perkawanan itu akan didapat kebaikan-kebaikan tidak terduga.” Pak Dahlan bicara sambil memijit-mijit betis.

Alif tahu muara pembicaraan ayahnya. Soal merantau jauh tapi ujungnya kembali ke kampung jua. Ini pasti soal Mim.

“Ini bukan soal Mim….Betul kan gadis itu bernama Mim?” Pak Dahlan seperti menangkap apa yang dipikirkan anaknya. Alif mendadak grogi.

“Kalau memang tidak mau mencari keluar kampung, sekalian dengan yang paling dekat.”

“Maksud ayah apa?”

“Kemarin ayah mampir ke rumah Bulik Mus-mu. Ayah bertemu Ranti. Makin cantik adikmu itu.”

Seperti ada palu godam yang dipukulkan ke kepala Alif.

Baca Juga  Tingkatan Jiwa Manusia Menurut Islam (2)

“Katanya kalian habis pulang bareng, berboncengan pulang dari Surabaya?” Pak Dahlan bicara dengan lembut. Tapi Alif merasa kalimat-kalimat itu justru meremukkan tulang belulangnya pelan-pelan. Kepalanya makin menunduk.

“Segera selesaikan kuliahmu. Ayah setuju!”

________________

Di rumah Mim. Tamu dari Semarang sudah hadir. Tapi tidak seperti yang direncanakan. Sepupu jauh Pak Dullah ternyata datang sendiri. Tidak bersama istri dan anaknya yang namanya sudah disebut-sebut kapan hari.

Uwak Khotib, begitu akhirnya Mim memanggil, mengaku sedang ada proyek di Jawa Timur. Pak Dullah sangat girang mendapat kunjungan itu. Uwak Khotib juga sama. Mereka berangkulan erat sekali saat pertama kali berjumpa. Pertemuan terakhir entah berapa puluh tahun lalu. Hari itu keduanya bahagia. Telah berhasil mengumpulkan tulang belulang yang terpisah.

Mim tidak selalu ikut dalam obrolan kedua orang tua itu. Namun sesekali ia berusaha menguping apa yang sedang dibicarakan. Mim merasa dadanya agak plong. Sejauh yang bisa ditangkap telinganya, tidak ada pokok pembicaraan soal perjodohan. Tidak disebut juga nama Arfan dalam pembicaraan dua lelaki itu.

Tapi Mim langsung berdebar saat ayahnya mengajaknya makan siang bersama siang ini. Bertiga duduk bersama mengelilingi meja makan membuat Mim setengah membeku. Tidak secara langsung Uwak Khotib melihatnya, tapi Mim tahu famili ayahnya ini diam-diam memperhatikan.

“Selamat ya, sudah selesai wisuda. Hebat,” Uwak Khotib bicara sambil menyendok nasi dari bakul ke piringnya.

“Terima kasih, Wak.” Mim menganggukkan kepala.

“Setelah ini mau ke mana?”

Deg! Pertanyaan ini sebenarnya tidak istimewa. Tapi dalam suasana saat ini, Mim merasa pertanyaan seperti pukulan pertama yang membuat pertahanannya terbuka. Setelah itu akan muncul pukulan-pukulan berikutnya secara bertubi-tubi.

Baca Juga  Kemuliaan Ilmu dalam Alquran dan Sunnah Nabi

“Belum tahu.” Mim menjawab dengan wajah meringis.

Uwak Khotib tertawa mendengar jawaban itu. Ayahnya juga.

“Katanya mau jadi redaktur? Kalau mau, Uwak ada kenalan di Jakarta.”

Uwak Khotib berdiri sebentar. Mengambil dompet dari saku celananya, lalu mencomot sebuah kartu nama dan menyerahkan kepada Mim.

Mim terlonjak. Bekerja di bidang tulis menulis adalah cita-citanya sejak kanak-kanak. Dan hari ini, lewat Uwak Khotib, kesempatan itu seperti disodorkan begitu saja kepadanya. Ia inggi membuktikan bahwa seorang penulis bisa juga menjadi entrepreneur. Ya, betul. Writerpreneur.

“Boleh dipikir-pikir dulu. Tidak usah terburu-buru. Belanda masih jauh,” Uwak Khotib menyunggingkan senyum.

Mim mengangguk-angguk tanda ia mulai tertarik. Pak Dullah juga mengangguk-angguk. Meniru puterinya.

Bagi Mim tawaran Uwak Khotib itu bukan sekadar tangga menuju cita-cita. Tapi juga cara untuk meredakan batin yang tidak sedang sehat walafiat. Pada waktu-waktu setelah itu Mim betul-betul memikirkan tawaran itu. Mencoba menakar-nakar dengan hati dan pikirannya.

________________

Uwak Khotib menginap dua malam di rumah Pak Dullah. Malam itu Mim duduk berdua dengan ayahnya di ruang tamu. Mim menyuguhkan kopi. Pak Dullah duduk santai sambil merokok.

“Kalau Mim ke Jakarta, siapa yang bikinkan kopi bapak?”

Pak Dullah tersenyum. “Bapak bisa bikin sendiri.”

Mim menatap mata bapaknya. Matanya membasah. Enteng saja lelaki di depannya ini bicara. Seolah bakal tidak ada kesedihan yang muncul kalau mereka nanti berpisah.

“Bapak kan sudah belajar bertahun-tahun sejak kamu kuliah di Surabaya.” Pak Dullah menyedot kreteknya dengan tenang.

“Tapi ini kan beda, Pak. Jakarta lebih jauh dari Surabaya. Mim akan jarang pulang.”

“Tidak apa-apa.” Pak Dullah tetap tenang. Mim justru makin ingin menangis melihat itu.

Baca Juga  Ngaji Kitab al-Hikam [1]: Jangan Sekutukan Tuhan dengan Amalmu (Bag. 1)

“Memangnya kamu sudah pasti memutuskan berangkat ke Jakarta?”

“Belum.”

Pak Dullah tertawa. Mim akhirnya ikut tertawa.

“Pak, boleh Mim bertanya?”

Pak Dullah mengangguk.

“Tujuan Uwak Khotib datang kemari sebenarnya apa sih?

“Silaturahmi,” jawab Pak Dullah.

“Selain itu?”

“Nduk…bapak ingin menjadi bapak yang baik buatmu. Bukan bapak yang memaksa-maksa keinginannya sendiri.”

Mim memeluk bapaknya. Menangis. Bersambung… (AA)

Said Hoedaini Pemimpin Redaksi TV9 dan Penikmat Sastra

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *