Siti Aminah Tardi Feminis dan Komisioner Komnas Perempuan

10 Karakter Laki-Laki yang Diidamkan Perempuan

3 min read

Source: 9gag.com

Minggu lalu, saya diminta menjadi pemantik diskusi dengan tema “Peran Laki-Laki dalam Penghapusan Kekerasan Berbasis Jender”. Saya cukup lama menimbang, mengingat setiap hari menerima kasus-kasus kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan.

Tahun 2019, Komnas Perempuan menerima 1.419 kasus dan tahun 2020 sampai dengan Agustus telah menerima 1.786 kasus. Dengan bentuk kekerasan tertinggi yang sama yaitu KDRT dan kekerasan seksual. Pada titik tertentu harus saya akui, saya kehilangan kepercayaan terhadap laki-laki.

Selain itu, berbicara di hadapan mayoritas laki-laki menjadi hambatan psikologis tersendiri bagi saya. Pengalaman mendapatkan ‘eye escalator’ ketika berpendapat, atau dipanggil ‘sayang’ untuk menanggapi yang saya sampaikan, menimbulkan kekhawatiran akan terulang. Namun, terlepas dari hambatan yang harus saya kelola, saya menyakini dan bersepakat bahwa penghapusan kekerasan berbasis jender, harus dilakukan bersama-sama antara laki-laki dan perempuan.

Mengapa? Karena nilai-nilai masyarakat patriarki yang diantaranya subordinasi perempuan dan kekerasan, terus disosialisasikan dan dilanggengkan oleh keluarga, masyarakat, dan negara. Laki-laki maupun perempuan menginternalisasinya, termasuk bagaimana laki-laki diharapkan memenuhi peran jendernya sebagai pencari nafkah utama, kuat, agresif, memimpin, rasional, macho atau karakter-karakter maskulin lainnya.

Kekerasan yang digunakan laki-laki untuk mempermudah menancapkan kekuasaan dan kontrolnya terhadap perempuan tak lain adalah untuk tetap mempertahankan superioritasnya sebagaimana diharapkan oleh masyarakat. Laki-laki yang tidak mampu memenuhi ekspetasi gender masyarakat akan dipandang sebagai laki-laki yang gagal atau tidak berguna. Di titik inilah sebenarnya laki-lakipun adalah korban dari nilai patriarki.

Melahirkan Laki-laki Baru

Upaya untuk melibatkan laki-laki dalam penghapusan kekerasan terhadap perempuan telah melahirkan gerakan “laki-laki baru”. Sebagaimana disampaikan dalam Aliansi Laki-Laki Baru, penggunaan istilah ini merujuk pada upaya untuk meninggalkan paradigma lama mengenai laki-laki dan bertransformasi menjadi individu yang sadar dan ikut memperjuangan kesetaraan gender, baik secara perilaku maupun kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga  Sejarah Istilah Wahdat al-Wujud

Aliansi ini akan berjalan bersama dan mendukung setiap upaya dari gerakan perempuan untuk penghapusan kekerasan kekerasan berbasis gender.

Lantas, laki-laki seperti apa yang dinilai transformatif dan bergerak bersama dalam penghapusan kekerasan berbasis gender. Gadis Arivia dalam Feminisme: Sebuah Kata Hati mengidentifikasi 10 ciri sebagai beriktu.

Pertama, memiliki rasa peduli. Laki-laki peduli terhadap lingkungan terdekatnya, seperti keluarga, lalu menjalar ke tingkat lebih luas dalam masyarakat. Dengan kepedulian ini, laki-laki menjadi sensitif pada hati dan perasaan orang lain. Alhasil, mereka dapat menjadi pendengar dan pemerhati yang baik dalam bidang apapun.

Kedua, toleran. Toleransi menjadi senjata ampuh untuk melawan agresivitas, konflik, dan sikap fundamentalis. Dengan toleransi tinggi, konflik berpasangan yang merugikan salah satu pihak akan terhindarkan, hubungan berpasangan pun lebih setara dan memberikan keadilan baik pada laki-laki, dan terutamanya perempuan.

Ketiga, berbudaya. Laki-laki yang tertarik pada seni, sastra, musik, atau teater memiliki pendekatan budaya dalam dirinya. Nilai positif yang akan muncul adalah budaya membangun, bukan destruktif. Laki-laki berbudaya akan mendukung pasangan atau perempuan di sekelilingnya, dan bukan merusak atau melakukan kekerasan.

Keempat, membebaskan. Dalam relasi interpersonal, laki-laki baru akan memberikan suasana kebebasan dan bukan pengekangan. Relasi yang dibangunnya dengan setiap individu bersifat demokratis dan parsipatoris. Artinya, ia berusaha untuk berpartisipasi dalam setiap pikiran dan tindakan partner-nya. Sikap yang membebaskan ini memberikan pengaruh positif pada diri partner-nya untuk berkembang, bukan rasa bersalah, rendah diri, ketakutan, atau penolakan.

Kelima, menggunakan bahasa positif. Laki-laki baru menggunakan bahasa yang memberdayakan, yaitu menghindari kosa kasa yang merendahkan. Bahasa yang digunakan bukan untuk mengatur strategi saling menjebak.

Keenam, memahami pembagian kerja domestik. Laki-laki baru akan selalu peduli pada beban domestik. Pengaturan kerja domestik dilakukan dengan kesetaraan. Artinya, laki-laki tidak malu untuk mencuci baju, memasak, dan membersihkan rumah. Membuatkan teh atau kopi untuk pasangannya tidak membuatnya merasa kurang macho. Menggantikan popok bayi dan merawat anak merupakan suatu kewajiban yang dijalankannya dengan rasa bahagia.

Baca Juga  Kecendekiawanan dalam Publikasi Jurnal Internasional Bereputasi

Ketujuh, peduli hak reproduksi. Salah satu kontribusi angka kematian ibu yang tinggi adalah tidak pahamnya laki-laki akan pentingnya hak-hak reproduksi perempuan. Keterlibatan laki-laki pada kehamilan dan konstrasepsi sangat penting. Laki-laki baru mau belajar tentang seluk-beluk reproduksi perempuan karena ia peduli pada kehidupan pasangannya.

Kedelapan, menggairahkan dalam aktivitas seksual: Orgasme perempuan selalu diperhatikan dan dijadikan fokus dalam setiap aktivitas seksualnya. Percakapan seksual selalu dipastikan terbina dengan sehat. Tujuannya agar aktivitas seks menjadi suatu kenikmatan secara fisik dan psikis.

Kesembilan, transparan. Laki-laki baru memberlakukan anggaran dengan transparan dalam pengaturan keuangan. Ekonomi keluarga berkaitan erat dengan kesejahteraan dan kebahagiaan. Karenanya, ia menyadari perencanaan yang melibatkan pasangannya dibutuhkan untuk membangun masa depan yang lebih bertanggung jawab. Transparansi anggaran rumah tangga inilah yang menjauhkan dirinya dari praktik korupsi.

Kesepuluh, antipoligami. Laki-laki baru menjunjung tinggi nilai keadilan dan kesetaraan. Ia tidak dapat hidup dengan pasangan yang bergantian dalam satu perjanjian. Kebebasan dipertanggungjawabkan dengan loyalitas dan hormat pada pasangannya. Dengan berpegang pada prinsip ini, laki-laki baru menolak dan antipoligami.

Untuk mencapai 10 karakter di atas, yang saya kira berlaku pula untuk perempuan, tentunya dibutuhkan waktu dan upaya yang terus menerus. Dalam diskusi itu, saya juga menyampaikan bagaimana laki-laki dapat berperan dalam pencegahan, penanganan dan pemulihan korban kekerasan seksual.

Titik tekannya adalah bagaimana laki-laki tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan, melakukan pencegahan baik di tingkat individu, berelasi dengan pasangan, keluarga maupun komunitas dengan mengembangkan penghormatan atas integritas tubuh orang lain. Juga mengetahui bagaimana membantu dan mendukung korban serta keluarganya untuk pulih.

Ikhtiar para laki-laki untuk mendiskusikan tema ini adalah sebuah hal positif sebagai bagian melahirkan generasi baru antikekerasan yang tentu harus diperluas di berbagai kalangan. Kami berbagi pengalaman, pengetahuan dan perasaan dengan saling menghormati. Kekhawatiran saya pun tidak terjadi dan saya belajar percaya bahwa akan semakin banyak laki-laki yang menemani perjalanan yang penuh luka, amarah dan air mata ini. [AA]

Siti Aminah Tardi Feminis dan Komisioner Komnas Perempuan