Pluralisme Gus Dur dan Urgensinya Terhadap Hubungan Antar Agama di Indonesia (2)

1 min read

Sumber: https://biografi.kamikamu.co.id/

Sebelumnya: Pluralism Gus Dur…(1)

Urgensi Pemikiran Pluralisme Gus Dur Terhadap Hubungan Antar Agama

Pluralitas atau keberagaman bangsa Indonesia selain sebagai keunikan dan rahmat bagi bangsa Indonesia, juga dapat menjadi ancaman dan sumber konflik bangsa. Sikap eksklusivisme yang didalamnya terdapat berbagai kepentingan kelompok atau pribadi, klaim kebenaran tunggal (Truth Claim) dan sikap mengeneralisasi terhadap suatu hal merupakan tantangan besar dalam usaha pengukuhan pluralisme di Indonesia. Dari realitas tersebut, para pemikir dan sarjana muslim Indonesia mencari titik temu dari perbedaan dan pluralitas yang ada agar menjadi sumber perdamaian bangsa.

Sebagai dasar negara Indonesia, pancasila dengan nilainya Bhineka Tunggal Ika menjadi payung besar dari segala pluralitas yang ada. Pancasila tersebut dan universalisme al-Qur’an yang kemudian menjadi titik tekan dan perbedaan pluralisme Gus Dur dengan pluralisme yang diusung oleh pemikir atau sarjana muslim lain. Sebagai representasi dari Islam pluralis, Gus Dur menolak segala bentuk pandangan kelompok eksklusif terkait serta sikap kelompok eksklusif terhadap agama lain. Sehingga dengan demikian pembahasan pluralisme tidak bisa dipungkiri selalu beriringan dengan pembahasan pluralisme agama karena kaitannya dengan hubungan antar agama itu sendiri. Bagaimanapun, sejalan dengan pendapat Budy Munawar Rahman yang menyatakan bahwa sikap dan pandangan seseorang terhadap agama lain dapat dilihat dari pandangannya terhadap pluralisme.

Sikap pluralis Gus Dur yang mengakui kebenaran bersifat relatif dan masing-masing agama memiliki jalan keselamatanya. Yang mana hal tersebut berbanding terbalik dengan pandangan kelompok eksklusif yang mengklaim kebenaran tunggal dan jalan keselamatan hanya milik agama Islam dengan menafikan agama lain.

Sikap dan pandangan pluralis Gus Dur yang mengedepankan dialog dan juga sebagai konsekuensi pluralisme yang menempatkan agama selain Islam sebagai kawan dan juga mendahulukan sikap apresiatif dibanding sikap kritis yang kemudian bersama-sama mencari titik temu dan persamaan dari perbedaan agama atau perbedaan lain yang ada. Titik temu dan persamaan tersebut bisa berupa cinta kasih, gotong royong, saling menghormati dan lain sebagainya. Dari itu, sikap mengedepankan dialog antar agama perlu untuk selalu digaungkan agar terciptanya harmonisasi antar umat beragama dengan kembali mengukuhkan pluralisme.

Baca Juga  Barang “Gaib” di Pegadaian

Penutup

Gus Dur sebagai representasi dari Islam pluralis mengusung pluralisme dengan berlandaskan nilai pancasila yaitu Bhineka Tunggal Ika sebagai titik temu dari masyarakat plural Indonesia dan universalisme al-Qur’an. Prinsip pluralisme yang mengedepankan dialog menjadi relevan dalam masyarakat Indonesia yang plural dari segi agama, etnis, budaya, warna kulit dan tradisi.

Selain itu, kebenaran yang bersifat relatif dalam pluralisme menjadi respon terhadap sikap dan pandangan kelompok eksklusif yang seringkali mengklaim kebenaran tunggal. Dengan demikian dibutuhkan sebuah sikap dalam upaya mengukuhkan pluralisme di Indonesia agar dialog terus dikedepankan, salah satunya dengan sikap pluralis sebagaimana yang direpresentasikan oleh Gus Dur. Kembali pada ucapan yang pernah dilontarkan Gus Dur, sesunggunya Islam melarang perpecahan bukan perbedaan. (MMSM)