Alif dan Mim (12): Rencana Perjodohan yang Membingungkan
Cahaya pemandu di dalam hati itu terkibas-kibas angin. Ia tergoda oleh padam. Ingin sekali menyelamatkan nyalanya. Agar cinta yang sudah terbangun tidak menjadi sia-sia.
Cahaya pemandu di dalam hati itu terkibas-kibas angin. Ia tergoda oleh padam. Ingin sekali menyelamatkan nyalanya. Agar cinta yang sudah terbangun tidak menjadi sia-sia.


Tidak beruntung sekali nasib perasaan ini, pikirnya. Kerumitan demi kerumitan dalam hubungannya dengan Mim muncul satu demi satu.


Haiyss..! Kenyataannya tak selalu seindah harapan. Alif membanting bantalnya ke tembok. Kata siapa perempuan itu seperti bunga? kalau sedang begini rumitnya melebihi trigonometri dan aritmatika. Gembus!


Mim terngiang kembali kalimat bapaknya. Halus. Tidak memaksa, tapi mengunci. Bayangan Alif muncul menyusul. Kepada lelaki ini seharusnya dia berbagi kekuatan, mengatasi rintangan bersama dan saling meyakinkan. Namun, Alif kini menjauh. bahkan kian jauh.


“Saat hujan deras, irigasi di sawah harus dibereskan. Kalau sawah terendam, SPP sekolahmu, bapak bayarnya gimana, mau pakai apa?”


Mim ingin bercerita tentang ajakan bapaknya pergi ke Semarang. Tentang uwak yang baru diceritakan bapaknya. Juga tentang anak sulung uwaknya yang baru pulang dari Yaman.


Kalau ada yang bertanya kepadaku, apa kriteria calon istri ideal menurutku, maka akan kujawab: Syaratnya hanya satu. Perempuan itu harus pintar. Cantik tidak apa-apa.


Mim baru saja menutup Asarnya dengan salam, saat suara ketukan pintu itu muncul. Berdoa sebentar. Buru-buru melipat mukena, lalu bergegas menuju arah suara. Saat pintu terbuka Ranti sudah berdiri dengan senyum kecilnya. Mim menyambut tak kalah gembira. Mereka berangkulan. Dua sahabat yang saling melepas rindu. “Jalan-jalan ke danau, yuk,” ajak Ranti. Mim mengernyitkan dahi. Memastikan […]

