Jangan Padamkan Obor Ilmu: Surat Untuk Pesantren
Kita memang diminta berjarak, menjaga jarak fisik. Tapi ada yang tidak boleh berjarak, yaitu doa doa, solidaritas dan silaturahim.
Kita memang diminta berjarak, menjaga jarak fisik. Tapi ada yang tidak boleh berjarak, yaitu doa doa, solidaritas dan silaturahim.


Penegakan hukum dan aturan di negara kita tergolong sangat rendah, bahkan sangat buruk. Padahal masyarakat kita belum memiliki kesadaran untuk mematuhi aturan jika tidak ada pengawasan dan penindakan secara tegas.


[Dr. Muhammad S. Niam, MKes, SpB-KBD] Jangan sampai seperti Korea Selatan, belum lama menerapkan new normal sudah diganti lagi dengan PSBB karena tidak berhasil.


Bencana global yang terjadi di dunia sesungguhnya tidak bersifat temporal, namun kita hanya berpindah dari satu pandemi ke pandemi lain


RMI-PBNU juga menghimbau agar setiap keputusan yang diambil terkait dengan nasib pesantren harus melibatkan kalangan pesantren.


Berhalal bi halal ala new normal sesungguhnya linier dengan jati diri manusia, karena pada dasarnya, manusia diciptakan dalam “gen” ketergantungan terhadap orang lain.


Saat tanggap pagebluk atau pandemi COVID-19 kita alami, kebaikan menjadi satu aspek kehidupan yang perlu ditinjau ulang.


Hanya dengan menurunkan makhluk-Nya yang bahkan tidak kasat mata, dunia sudah menjadi kacau balau, ilmu pengetahuan yang diagung-agungkan ternyata gagap menghadapi pandemi ini. Manusia “ditampar sangat keras” bahwa hanya Allah satu-satunya tempat bergantung.

