



Di balik tembok tinggi istana Dinasti Qajar, di antara gemerlap permadani, parfum mawar, dan sorot mata lelaki penguasa, lahirlah seorang perempuan yang memilih untuk tidak tunduk sepenuhnya pada diam. Namanya Esmat al-Dowleh. Seorang putri dari Raja Nasiruddin Shah Qajar, perempuan yang alih-alih menikmati kemewahan istana sebagai simbol status, justru menjadikannya sebagai ruang permenungan dan perlawanan yang sunyi.
Zaman itu, menjadi perempuan bangsawan di Persia adalah takdir yang tampaknya nyaman: dirawat, dilayani, diberi kemewahan. Tapi di balik itu, perempuan hidup dalam ruang terbatas. Mereka berada di (andarun), wilayah domestik tempat perempuan ditempatkan. Dunia di luar (birun) bukan untuk mereka. Dunia luar adalah milik laki-laki: tempat berpolitik, berdagang, dan menentukan nasib masyarakat.
Namun Esmat, dengan ketajaman pikirannya, merasa ada yang salah dengan keteraturan yang sudah dianggap mapan itu. Mengapa suara perempuan tidak pernah dianggap penting? Mengapa tubuh perempuan dijaga sedemikian rupa, tapi pikirannya diabaikan? Mengapa pendidikan untuk perempuan terasa seperti bonus, bukan hak?
Esmat bukan pemberontak dalam pengertian modern. Ia tidak mengguncang istana dengan teriakan. Tidak turun ke jalan, tidak menulis pamflet politik. Tapi ia mengambil jalan yang lebih dalam, lebih pelan, namun tak kalah revolusioner: ia menulis. Dalam surat-surat dan catatannya, ia mempertanyakan ketimpangan. Ia menyuarakan keresahan tentang bagaimana perempuan dikurung bukan hanya oleh tembok, tapi oleh cara pandang masyarakat. Baginya, perempuan bukan sekadar ornamen di istana atau pelengkap bagi suami. Perempuan adalah manusia yang mampu berpikir, merasa, dan memilih.
Apa yang dilakukan Esmat adalah bentuk feminisme awal, meski ia tidak pernah menyebut dirinya begitu. Ia adalah perempuan yang menyadari haknya atas suara. Ia tidak menunggu izin untuk berbicara. Ia bicara karena ia tahu bahwa diam adalah cara sistem mempertahankan dirinya. Ia menulis karena ia tahu bahwa tulisan adalah warisan yang bisa menembus batas zaman.
Feminisme yang dijalani Esmat bukan tentang adu kekuatan, melainkan tentang pemulihan martabat. Tentang kesadaran bahwa perempuan, sejak awal sejarah, telah diminta terlalu sering untuk mengalah, menghapus dirinya sendiri demi harmoni yang tidak setara. Ia tahu, barangkali, bahwa perlawanan yang paling kokoh adalah ketika seorang perempuan tetap menyalakan pikirannya di tengah dunia yang berusaha mematikannya.
Bayangkan Esmat, sendirian di ruangannya, duduk dengan pena dan kertas. Di luar, dunia berjalan seperti biasa: lelaki-lelaki bicara tentang kekuasaan, para selir menunggu giliran perhatian, kehidupan istana berdenyut dalam ritme yang tak berubah. Tapi di dalam ruang sunyinya, Esmat menulis. Tentang pertanyaan yang tak berani ditanyakan. Tentang impian perempuan yang tak pernah punya tempat. Tentang ketidakadilan yang disamarkan dalam kemewahan.
Dan bukankah ini yang masih terjadi hingga hari ini? Di banyak tempat, perempuan masih dibungkam dengan cara yang lebih halus. Diberi peran, tapi tidak ruang. Diberi panggung, tapi dengan naskah yang sudah ditentukan. Diberi cinta, tapi tanpa kebebasan. Suara Esmat menjadi gema yang tetap relevan, mengingatkan kita bahwa sejarah perempuan bukan hanya tentang perjuangan fisik, tetapi juga tentang perjuangan batin. Tentang keberanian untuk mempertanyakan sesuatu yang dianggap biasa. Tentang keteguhan untuk berpikir, bahkan saat tak ada yang mendengarkan.
Dalam dunia yang terus bergerak, kita mungkin melupakan perempuan-perempuan seperti Esmat. Namanya tidak tercetak dalam buku sejarah yang kita baca di sekolah. Tidak disebut dalam perayaan Hari Perempuan Internasional. Tapi justru dalam keterlupakan itulah, Esmat mengajarkan satu hal penting: bahwa tak semua perjuangan butuh panggung. Kadang, satu kalimat yang ditulis dalam sepi bisa lebih mengubah dunia dibanding pidato di depan massa.
Esmat menunjukkan bahwa menjadi perempuan merdeka tidak selalu tentang menjadi yang paling keras bersuara, tapi menjadi yang paling jujur pada diri sendiri. Ia memilih untuk tidak menjadi bagian dari sistem yang meniadakan suara perempuan. Ia memilih untuk hadir, meski dalam diam. Dan itu adalah keberanian yang langka.
Hari ini, ketika kita bicara soal feminisme, kita bicara tentang hak, kesetaraan, ruang, dan pengakuan. Tapi kita juga perlu bicara tentang ingatan. Tentang bagaimana sejarah perempuan begitu mudah ditenggelamkan. Tentang bagaimana kita perlu terus menggali, menyusun ulang cerita, dan memberi tempat bagi suara-suara yang pernah dibungkam.
Esmat al-Dowleh bukan hanya putri seorang raja. Ia adalah lambang bahwa perempuan bisa berpikir jauh melampaui zamannya. Ia adalah pertanyaan yang tak kunjung selesai: Mengapa dunia begitu takut pada suara perempuan? Dan ia adalah pengingat lembut, bahwa perempuan tidak harus teriak untuk mengubah dunia. Cukup dengan terus menulis, terus berpikir, dan terus percaya bahwa suara sekecil apapun, jika jujur, bisa mengguncang masa depan.
Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya