Wahidah Zein Br Siregar Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Sunan Ampel Surabaya

Perempuan dan Kerja-kerja Domestik dalam Pusaran COVID-19: Akankah Terjadi Perubahan Menuju Kesetaraan?

3 min read

Dikutip dari Situs Aliansi Laki-laki Baru

Berita tentang Coronavirus Disease (COVID-19) kita terima setiap hari, bahkan bisa dikatakan per detik, dari berbagai sumber: koran, televisi, radio, media sosial, dan obrolan orang-orang di sekitar kita. Hal ini sangatlah wajar karena penyakit ini memang sudah menjadi pandemic. Tidak ada sebuah Negara pun saat ini yang benar-benar bisa memastikan bahwa negara tersebut terbebas dari penyakit ini. World Health Organization (WHO) mendefinisikan penyakit ini sebagai infectious disease caused by a newly discovered coronavirus (2020). Sampai saat ini belum ditemukan obat yang bisa mematikan virus ini. Begitu juga vaksinnya. Meskipun berbagai upaya terus dilakukan untuk menemukan obat dan vaksin tersebut.

Untuk mengantisipasi penyebaran virus corona ini, berbagai langkah telah dan sedang dilakukan oleh berbagai pihak di berbagai level: individu, keluarga, lingkungan RT/RW, kelurahan dan seterusnya sampai level negara dan dunia. Secara umum, hal yang diminta untuk dilakukan adalah selalu mencuci tangan dengan antiseptik yang mengandung alkohol atau sabun, tidak menyentuh wajah dan berbagai pancaindra, berusaha untuk tetap tinggal di dalam rumah dan membuat jarak fisik, serta memakai masker jika berada di tempat-tempat yang menjadi sarana untuk bertemu dengan orang lain. Konteks berada di dalam rumah, tinggal di rumah, belajar dan bekerja dari rumah inilah yang sangat menarik untuk dibahas.

Kita semua mungkin mengetahui bahwa konsep rumah (domestic) selalu melekat pada perempuan. Sebaliknya, konsep luar rumah (public) adalah milik laki-laki. Cara pandang yang dikotomis (binary position) seperti ini masih melekat dengan kuat di masyarakat. Walaupun perkembangan sosial telah menunjukkan bahwa sudah terjadi pergeseran yang besar di ranah publik, di mana perempuan telah berkiprah di berbagai bidang di masyarakat, kita belum bisa mengatakan secara pasti bahwa peran perempuan di ranah domestik juga sudah bergeser secara signifikan seiring dengan pergeseran yang terjadi di ranah publik.

Baca Juga  Media dan Framing Legitimasi KDRT di Indonesia

Masih sering kita mendapati bahwa perempuan yang memasuki ranah publik menjadi kelompok manusia yang sangat lelah karena banyaknya tugas-tugas yang mereka lakukan (multiple burdens), tugas publik dan tugas-tugas domestik. Jikapun tidak, ada perempuan lain (asisten rumah tangga dan/atau pengasuh anak) yang membantu mereka untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut.

Tentu menjadi menarik untuk mengetahui apakah konteks stay at home saat ini berimplikasi pada perubahan peran gender yang dilekatkan pada perempuan dan laki-laki. Apakah peran perempuan di ranah domestik bisa berubah? Apakah laki-laki mau berkontribusi untuk menggeser peran domestik perempuan tersebut? Dengan kata lain, apakah COVID-19 dapat menjadi pintu masuk yang diberikan Allah, Tuhan yang Maha Kuasa, kepada masyarakat untuk dengan sungguh-sungguh menghargai peran domestik yang dilakukan perempuan selama ini? Apakah laki-laki mau berempati dan mau membantu perempuan dalam kerja-kerja domestiknya?

Lebih jelasnya dapat kita tanyakan, apakah yang dilakukan oleh para laki-laki di rumahnya, hanya memindahkan pekerjaan publiknya ke dalam rumah dan menonton perempuan menyuci, memasak, menyapu, menjaga anak, dan lain-lain atau tergerak ingin membantu perempuan melakukan berbagai pekerjaan tidak berbayar tersebut (unpaid works), seraya tetap melakukan pekerjaan-pekerjaan publiknya? Beberapa teman mengatakan kepada saya “Jangan dikatakan sebagai pekerjaan tidak berbayar Mbak, itu adalah pekerjaan yang dilakukan karena cinta”. “Apalah istilahnya terserah saja,” jawab saya. Yang penting untuk ditanyakan adalah apakah laki-laki mau membantu pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang selama ini dikerjakan perempuan? Kan, sudah sama-sama tinggal di rumah.

Hal lain yang sangat penting untuk dilihat adalah bagaimana perempuan, tepatnya, ibu-ibu mengatur ritme pekerjaan domestiknya pada masa stay at home ini. Jika para ibu ini adalah mereka yang murni mengerjakan tugas-tugas domestik, dalam arti tidak berkarir di pekerjaan-pekerjaan publik, berada di rumah seharian tentu menjadi hal yang biasa saja. Namun frekuensi pekerjaannya masih perlu ditanyakan juga. Mereka yang biasanya masak untuk sarapan pagi dan makan malam saja karena anak-anak dan suaminya makan siang di sekolah dan di kantor, sekarang harus memasak tiga kali sehari.

Baca Juga  Perempuan Karir di Tengah Dominasi Pandemi

Pengalaman saya, memasak itu paling tidak memerlukan waktu dua jam, termasuk mencuci peralatan-peralatan yang dipakai. Meskipun, yang dimasak adalah menu-menu yang sederhana. Tidak bermaksud menghitung-hitung beban kerja, tetapi sekadar mengingatkan besarnya peran perempuan dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Berapa banyak waktu yang harus mereka habiskan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga tersebut. Sehingga, sangat pantas kalau mereka diberi penghormatan kepada perempuan, bukan malah merendahkan, apalagi kalau sampai melakukan kekerasan.

Bagi ibu-ibu yang juga bekerja di ranah publik, berkarir di berbagai bidang, tentu ritme kerja di rumah ini menjadi menarik juga untuk dibahas. Berapa banyak waktu yang harus mereka habiskan untuk mengerjakan pekerjaan kantornya; berapa waktu yang harus dialokasikan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Kemarin, seorang rekan kerja mengatakan kepada saya, “Alhamdulillah bisa bikin artikel sambil menggoreng tempe untuk anak-anak dan suami”. Tetapi ada juga yang bilang, “Gimana ini, kerjaan kantor saya tidak selesai-selesai, habis masak dimakan ramai-ramai… eh sebentar lagi sudah harus masak lagi. Pekerjaan kantor jadi terbengkalai nih”.

Sekali lagi, banyak cerita tentang perempuan dan kerja-kerja domestik mereka yang dapat dielaborasi dalam masa COVID-19 ini. Saat ini, tidak ada seorang pun yang boleh abai terhadap kerja-kerja domestik ini. Sapu dan alat pel menjadi teman yang harus semakin akrab dengan kita semua kalau rumah mau menjadi bersih dan sehat. Dapur dan peralatannya menjadi saksi berapa kali mereka harus dipakai setiap hari, berapa kali pula mereka harus dicuci. Kamar mandi menjadi tahu berapa kali sehari kita menggunakannya, sehingga sangat perlu untuk dibersihkan. Begitu juga kasur menjadi tahu siapa saja yang bolak balik mendengkur di atasnya, sehingga harus sering-sering dirapikan.

Baca Juga  Ada Rasulullah di Antara Aisyah dan Khadijah

Dapur, kasur, dan sumur tidak lagi menjadi domain yang dilekatkan bagi perempuan saja. Para lelaki harus ikut pula terlibat pada tugas-tugas yang melekat di sana. Tidak ada lagi alasan untuk acuh tak acuh pada pekerjaan-pekerjaan tersebut, karena mereka juga sudah stay at home. Tidak ada lagi alasan laki-laki abai dengan pekerjaan domestik dengan alasan menghabiskan waktu di sektor publik seperti yang terjadi selama ini. [AZH & MZ]

Wahidah Zein Br Siregar
Wahidah Zein Br Siregar Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.