Angga Arifka Alumnus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, tinggal di anggaarifka[dot]com

Klasifikasi Filsafat Ibn Sina dan Metafisika Wujud

3 min read

Siapa yang tidak mengenal Avicenna atau Ibn Sina? Pemikiran-pemikirannya sangat brilian. Banyak orang hanya mengenal Ibn Sina sebagai seorang dokter dan mungkin hanya karena dedikasinya terhadap kedokteran, tetapi sebenarnya ia adalah seorang filsuf yang memiliki konsep metafisika yang amat mapan.

Abu Ali al-Husain bin Abdullah bin Sina yang dikenal di Barat sebagai Avicenna dan diberi gelar “Pangeran Dokter” (The Prince of Physician) lahir pada tahun 980 di dekat Bukhara. Di dunia Islam ia diberi gelar Shaykh al-Ra’is (Pemimpin Orang-orang Bijak). Lingkungan Ibn Sina sangat kondusif untuk membesarkannya sebagai seorang terpelajar.

Sejak kecil, ia sudah dikenalkan oleh ayahnya dengan karya-karya Ikhwan al-Ṣafā’. Pada usia sepuluh tahun, ia mempelajari Al-Qur’an, tata bahasa, dan setelah itu di bawah arahan al-Natili ia belajar matematika dan logika. Dia telah menguasai semua ilmu pengetahuan, termasuk kedokteran dan fisika pada usia enam belas tahun.

Sayangnya, dia belum menguasai metafisika Aristoteles. Meskipun dia telah membaca empat puluh kali buku itu, dia belum bisa memahaminya. Beruntunglah Ibn Sina menemukan salah satu karya al-Farabi, sehingga dengan membaca risalah tersebut, akhirnya Ibn Sina dapat memahami karya Aristoteles dengan baik.

Ibn Sina menulis banyak risalah di berbagai bidang, termasuk kedokteran dan fisika. Banyak sarjana menganggap Ibnu Sina sebagai filsuf penting yang telah membopong filsafat Islam ke puncak tertingginya.

Klasifikasi Filsafat menurut Ibn Sina

Ibn Sina mengklasifikasikan “filsafat” menjadi dua jenis, praktis dan teoretis. Yang pertama adalah ilmu tentang kebajikan, sedangkan yang kedua ilmu tentang kebenaran. Ini adalah tujuan dari filsafat praktis untuk menyempurnakan jiwa melalui pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan, padahal tujuan filsafat teoretis adalah menyempurnakan pengetahuan semata-mata.

Baca Juga  Merawat Semangat Keindonesiaan dan Keislaman: Dakwah Nusantara Tuan Guru Bajang

Filsafat teoretis adalah pengetahuan tentang hal-hal yang ada bukan karena tindakan dan pilihan kita, sedangkan filsafat praktis adalah pengetahuan tentang hal-hal yang ada berdasarkan tindakan dan pilihan kita.

Ibn Sina juga menjelaskan lebih lanjut bahwa filsafat praktis dapat dikategorikan menjadi tiga ruang lingkup. Pertama, berkaitan dengan masalah dalam ruang publik di antara warga negara, yang disebut politik. Kedua, menyangkut kepentingan setiap orang dalam masyarakat kecil, yang merupakan bagian dari masalah dan pengelolaan rumah tangga. Ketiga, menyangkut kepentingan setiap individu sebagai individu, yang disebut etika.

Setelah itu, Ibn Sina masih membagi filsafat teoretis menjadi tiga macam. Pertama, filsafat yang berurusan dengan hal-hal sejauh gerak terkait dengannya, baik dalam kenyataan maupun dalam pikiran. Kedua, filsafat yang berurusan dengan hal-hal sejauh gerak terkait dengannya dalam kenyataan tetapi tidak dalam pikiran. Ketiga, filsafat yang berurusan dengan hal-hal sejauh gerak tidak terkait dengannya baik dalam pikiran maupun dalam kenyataan. Jenis pertama adalah fisika, yang kedua adalah matematika, dan yang terakhir adalah metafisika.

Metafisika Wujud Ibn Sina

Metafisika Ibn Sina secara esensial berkenaan dengan ontologi, dan kajian terhadap wujud serta seluruh distingsi mengenainya itulah yang menempati peran sentral dalam sepekulasi-spekulasi metafisikanya.

Dilihat dari metafisika al-Kindi, orientasi metafisika Islam di tangan Ibn Sina tumbuh secara krusial dan substansial. Alih-alih membela creatio ex nihilo, Ibn Sina meyakini penciptaan melalui emanasi atau pancaran, di mana Tuhan disimbolisasikan laksana matahari, sedangkan semua makhluk yang ada bagaikan sinarnya matahari. Masalah ketuhanan itu dalam filsafat Ibn Sina terkait erat dengan filsafat wujud dalam pemikiran metafisika.

Di sini Tuhan dicandrakan sebagai pencipta dunia melalui serangkaian perantara. Ibn Sîna berusaha mengemukakan pembuktian kebenaran dengan memostulasikan bahwa Tuhan adalah wājib al-wujūd, yaitu wujud niscaya, yang eksistensinya adalah keniscayaan. Sederhananya, bagi Ibn Sina, Tuhan adalah wājib al-wujūd, di mana keberadaan-Nya adalah niscaya, tidak mungkin tidak.

Baca Juga  Gus Baha, Ulama-cum-Cendekia yang Anti Mainstream

Ibn Sina memilah wujud menjadi tiga macam, wājib al-wujūd (wujud yang niscaya), mumkīn al-wujūd (wujud yang mungkin), dan mumtani’ al-wujūd (wujud yang mustahil). Untuk mumtani’ al-wujūd, pengertiannya adalah wujud yang tak bisa dibayangkan oleh akal, karena ia tidak dapat memiliki wujud atau bisa dibilang ketiadaan.

Tuhan tentu saja adalah wājib al-wujūd atau wujud niscaya, yang dipahami bukan saja sebagai wujud yang niscaya ada, tetapi juga wujud yang senantiasa aktual. Sementara itu, wujud selain Tuhan adalah mumkīn al-wujud (wujud yang mungkin), yang artinya wujud yang potensial. Trikotomi ini kemudian diterima oleh para filsuf muslim berikutnya serta filsuf skolastik Latin. Ini orisinalitas pemikiran Ibn Sina, tak ada dalam Aristoteles.

Lebih lanjut, bukti keberadaan Tuhan adalah fakta bahwa alam ini ada. Tuhan adalah prinsip asal dari segala yang ada (mawjūdāt) dan Dia wajib adanya (wājib al-wujūd) tanpa perlu sesuatu di luar diri-Nya. Sedangkan selain-Nya, yang biasa disebut alam atau makhluk, hanyalah mungkin adanya (mumkīn al-wujūd) dan bergantung pada wājib al-wujūd atau Tuhan.

Dengan demikian, Allah adalah wujud yang ada dengan sendirinya dan tidak membutuhkan suatu apa pun di luar diri-Nya untuk mengaktualkan-Nya. Bertentangan dengan itu, alam raya beserta isinya bersifat mungkin wujudnya karena tersusun dari unsur-unsur yang tunduk pada—dalam pengertian Aristoteles—generation dan corruption.

Maka dari itu, pada dirinya sendiri, alam bersifat potensial dan akan terus dalam keadaan potensial seandainya tidak ada agen yang senantiasa aktual yang membawa potensialitas tersebut ke medan aktualitasnya. Agen yang senantiasa aktual inilah yang disebut Tuhan (wājib al-wūjud). Singkatnya, wājib al-wūjud adalah Allah yang membuat semua makhluk (mumkīn al-wujūd) tetap ada dengan pancaran wujud-Nya secara terus-menerus.

Angga Arifka Alumnus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, tinggal di anggaarifka[dot]com