Ahmad Adib Jiddan Al-Qooni Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Ibn Sina, Perintis Ilmu Kedokteran yang Tak Terlupakan

1 min read

sumber: jogja.tribunnews.com

Shaykh al-Ra’is Abu Ali Al-Husayn bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Sina, yang dikenal dengan sebutan Ibn Sina atau Avicenna, lahir pada tahun 980 M di sebuah desa bernama Afshana dekat Bukhara.

Pada usia 13 tahun, Ibn Sina mulai mempelajari ilmu medis, dan dalam tiga tahun, ia mendapatkan reputasi yang sangat baik. Pada usia 18 tahun, dia telah menjadi seorang dokter terkenal, bahkan menyembuhkan penyakit yang tidak dapat diatasi oleh tabib terkemuka lainnya. Upayanya diakui dengan izin untuk mengakses perpustakaan sultan yang luas, memfasilitasi penelitiannya dalam kedokteran.

Ketika Ibn Sina berusia 22 tahun, ayahnya meninggal, dan dia pindah ke Jurjan dekat Laut Kaspia, mengajar tentang logika dan astronomi. Selanjutnya, dia pergi ke Rey dan Hamadan di Iran, menulis dan mengajar karya-karyanya. Kecerdasan dan karyanya sebagai dokter muslim tersohor memberikan pengaruh mendalam pada sekolah-sekolah medis Eropa hingga abad ke-17.

Tak bisa dielak, Ibn Sina adalah seorang dokter Persia terkemuka yang juga menjadi filsuf muslim serta perintis ilmu kedokteran dunia. Beliau dikenal sebagai ahli di bidang diagnosis, mengasah keterampilannya di bidang-bidang yang diabaikan oleh orang lain.

Dia menggabungkan pengetahuan ilmiah dengan pertanyaan filosofis, yang terperinci dalam karya, al-Qānūn fī al-Ṭibb dan al-Shifā’. Penyelidikan filosofisnya sangat kompleks, menggabungkan perspektif Aristotelian dan Platonis dengan metode teologi Islam.

Karya kontribusi Ibn Sina yang paling penting dalam ilmu kedokteran adalah buku al-Qānūn fī al-Ṭibb, juga dikenal sebagai The Canon di dunia Barat. Ini adalah ensiklopedia kedokteran lima jilid besar dengan lebih dari satu juta kata. Karya besarnya lainnya adalah “The Book of Healing,” ensiklopedia ilmiah dan filosofis yang ditujukan untuk menyembuhkan jiwa, dibagi menjadi empat bagian: logika, ilmu alam, matematika, dan metafisika.

Baca Juga  TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid dan Lahirnya Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan

Ibn Sina juga seorang penulis produktif, dengan sebagian besar karya-karyanya yang berhubungan dengan filsafat dan dunia kedokteran. Ia berhasil menciptakan sistem filsafat yang sangat lengkap dan terperinci, yang mendominasi tradisi filsafat Islam selama beberapa abad terakhir. Karya pemikirannya dihormati di seluruh dunia, terutama penghargaan di aula utama Fakultas Kedokteran Universitas Paris.

Salah satu karyanya yang paling terkenal di dunia adalah al-Qānūn fī al-Ṭibb dan al-Shifā’, yang digunakan sebagai referensi di bidang kesehatan dan kedokteran. Pemikiran dan karya Ibn Sina terus dihargai dalam sejarah, terutama di bidang kedokteran modern.

Ibn Sina juga menguasai berbagai disiplin ilmu, termasuk logika, fisika, musik, sastra, psikologi, politik, dan filsafat. Beberapa karya sastranya termasuk puisi al-Qasidah al-Muzdawiyyah, al-Qasidah al-‘Ainīyah, Ḥayy ibn Yaqẓān, Risalah al-Ṭayr, Risalah fī Sirr al-Qadar, Risalah fī al-‘Ishq, dan Taḥṣil as-Sa‘adah. Dalam dunia filsafat, Ibn Sina diberi gelar al-Shaykh al-Ra’is, yang berarti Guru Para Raja.

Ibn Sina merumuskan pengetahuan medis dari tradisi Yunani, Romawi, dan Persia, serta menambahkan inovasinya sendiri. Ia membawa perubahan signifikan dalam pemahaman penyakit dan pengobatan, memperkenalkan konsep-konsep seperti karantina, melakukan penelitian empiris, dan memberikan penekanan pada pencegahan penyakit.

Ibn Sina meninggal pada bulan Ramadan 1037 Masehi saat dalam perjalanan menuju Hamadan. Makamnya di kota Hamadan diubah menjadi museum pada tahun 1950, dan karya-karyanya masih diakui hingga sekarang. Sebagai dokter dan filsuf, Ibn SIna mengelaborasi pemikiran maju yang menjadi landasan bagi perkembangan ilmu kedokteran di masa mendatang.

Dokter dan profesor kedokteran Kanada, Sir William Osler, pada tahun 1913 menyebut Ibn Sina sebagai “penulis buku teks medis paling terkenal sepanjang sejarah”. Osler menilai Ibn Sina sebagai praktisi kedokteran yang sukses, negarawan, guru, filsuf, dan sastrawan. [AR]

Ahmad Adib Jiddan Al-Qooni Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya