Ainur Rofiq Al Amin Dosen Pemikiran Politik Islam UINSA dan UNWAHA Tambakberas serta pengasuh Al Hadi 2 PP Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang

KH. Mansur: Kiai Pendekar dan Guru KH Hasyim Asy’ari [Bagian 2 – Selesai]

2 min read

Ndalem Kiai Mansur di depannya ada dua pohon sawo. Foto oleh Penulis

Lanjutan dari Artikel Sebelumnya.

Kisah ini menunjukkan ketawadluan Kiai Mansur (nama sebelum haji adalah Abdul Bakir). Saat Kiai Mansur naik haji, beliau dibaiat oleh Mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Jabal Abu Qubais. Dalam sumber lain yakni dari Gus Yon Mahmudi, Kiai Mansur berangkat ke Makkah dengan Kiai Cholil Juremi Rejoso. Dua kiai ini dibaiat dan masing-masing diberi 7 batu.

Menurut KH. Munib, tujuh batu itu melambangkan tujuh lathoif dalam tarekat. Yakni:
1. Lathīfat al-qalb (terletak di ukuran dua jari di bawah susu kiri)
2. Lathīfat al-rūh (terletak di ukuran dua jari di bawah susu kanan)
3. Lathīfat al-sirr (terletak di ukuran dua jari di atas susu kiri)
4. Lathīfat al-khafī (terletak di ukuran dua jari di atas susu kanan)
5. Lathīfat al-akhfa (terletak di tengah dada di antara dua susu)
6. Lathīfat al-nafs/al-fikr (terletak di tengah di antara dua alis)
7. Lathīfat al-jism (terletak di seluruh tubuh).

Sepulang dari Makkah, Kiai Mansur mengamalkan tarekat tersebut untuk dirinya sendiri tanpa banyak yang tahu. Dalam penilaian penulis, hal tersebut bukti bahwa beliau adalah pribadi khumul yang tidak ingin diketahui sebagai pengamal tarekat. Beliau lebih senang dianggap orang biasa. Bahkan tujuh batu milik Kiai Mansur selanjutnya diberikan kepada Kiai Cholil yang juga sahabatnya itu. Penyerahan batu ini dimaknai lambang kepemimpinan tarekat diberikan kepada Kiai Cholil.

Bukti beliau lebih senang dianggap sebagai orang biasa ini diperkuat oleh kisah Kiai Khozin bahwa suatu saat ada orang yang mau nyantri. Saat itu Kiai Mansur justru menyarankan agar orang itu mondok ke Tebuireng atau ke Rejoso saja. Beliau lebih suka seperti petani, pergi ke sawah dan pulang nyunggi suket.

Sekalipun demikian, tetap ada santri yang mondok dengan ikut membantu di sawah. Gemblengan santri yang langsung life skill juga dibarengi gemblengan ngaji yang ketat. Diceritakan Kiai Mansur sekadar mengajari membaca surah al-Fātihah santri saja membutuhkan waktu selama tujuh hari.

Baca Juga  Sisi lain Dari Sahabat Abdurrahman bin Auf (2)

Bukti ketawadluan terakhir dari Kiai Mansur adalah seperti dikisahkan Kiai Khozin bahwa selesai mondok di Tebuireng, Kiai Khozin diminta oleh Kiai Hasyim Asy’ari agar mengajar di Madura. Namun Kiai Hasyim berpesan agar meminta izin dulu ke abahnya (Kiai Mansur). Oleh Kiai Mansur tidak diperkenankan sambil dawuh (berkata), “Tidak usah mengajar dahulu, kalau ilmu belum banyak (matang) lalu mengajar, nanti malah yang keluar adalah sombongnya.”

Ikatan Kiai Hasyim dengan Kiai Mansur sangat kuat. Terbukti saat Kiai Khozin mondok di Tebuireng, beliau dipesani oleh Kiai Hasyim:

“Khozin, kamu tidak usah memasak nasi, kalau mau makan ke dapur saja. Dulu sewaktu saya ngaji di Abahmu (Kiai Mansur), saya tidak boleh memasak, tapi disuruh makan di dapur.”

Selain alim dalam kitab, Kiai Mansur juga pendekar kanuragan beladiri yang ilmunya diwarisi para putra-putranya seperti KH. Chudlori, KH. Ma’shum, KH. Minhadj, dan KH. Nursalim.

Ketertarikan beliau kepada ilmu kanuragan karena posisinya sebagai salah satu penerus perjuangan laskar Diponegoro. Ini ditandai dengan ditanamnya pohon sawo di pondok Mayangan yang sampai sekarang masih berdiri tegak. Tentu Kiai Mansur tidak ikut berperang bersama laskar Diponegoro karena ketika Perang Diponegoro (1825-1830) beliau belum lahir. Beliau lahir tahun 1850. Ayah Kiai Mansurlah yaitu Aryo Rejo yang merupakan pengikut Diponegoro yang melakukan pelarian dan menetap di Sekaru Gudo.

Makam Mbah Aryo Rejo dianggap masyarakat setempat sebagai makam keramat yang sering dikunjungi oleh para peziarah dari kalangan tertentu.

Di antara kelinuwihan Kiai Mansur adalah para jin tunduk kepada beliau. Dikisahkan dua pohon sawo yang sampai sekarang masih berdiri adalah tempat dimana jin ditaklukkan dengan “dilokalisir” agar bertempat di pohon sawo itu saja, tanpa mengganggu santri dan masyarakat sekitar.

Baca Juga  [Biografi Ulama al-Azhar] Syeikh Usamah Sayyid al-Azhari

Kiai Munib yang juga cucu Kiai Mansur, saat nyantri di Mayangan di bawah pengasuh Kiai Minhadj bin KH. Mansur sejak tahun 1968 menyaksikan sendiri bahwa Kiai Minhadj diwarisi tujuh minyak oleh Kiai Mansur. Di antara nama minyaknya adalah minyak Qur’an, minyak arjuna, minyak tolo dan lain-lain.

Kalau membawa minyak arjuna harus digabung dengan minyak tolo supaya kaum wanita tidak gampang terpikat. Ada minyak yang kalau digunakan, maka efeknya tubuh harus sering dibacok pedang, karena kalau tidak dibacok, tubuhnya bisa gatal.

Kiai Mansur juga meninggalkan kitab aurad yang tebal yang diwariskan kepada Kiai Minhadj. Saat Kiai Munib menanyakan kepada Kiai Minhadj dimana kitab itu berada, jawab Kiai Minhadj bahwa kitab itu diberikan Kiai Minhadj kepada modin Mayangan yang dulu adalah santri yang merawat Kiai Mansur.

Kiai Munib juga mendapat doa dari Kiai Minhaj dan Kiai Amar yang berasal dari Kiai Mansur. Dua doa yang sampai sekarang masih diingat adalah:

1. Doa keselamatan dari riwayat Kiai Minhadj (Allohumma ala wahjubni min ‘aduwwin wa hasidin bihaqqi samahin sallamat sumat). Nampaknya doa ini bahasanya campuran.

2. Doa kesehatan dari Kiai Amar (Allohumma sihhatan qolbi wal jismi minal hauli was saqami). Doa ini disebut juga doa Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.

Tidak hanya Kiai Munib, Cak Anam (Drs. H. Choirul Anam) juga mendapat wirid dari Kiai Minhadj yang bersambung ke Kiai Mansur dengan doa campuran Jawa-Arab. Wirid itu bermanfaat agar mempunyai kekuatan seperti Sayyidina Ali. Kata Cak Anam, “Wirid itu panjang, di akhir dari wirid kekuatan sayidina Ali adalah…… bijaahi sayyidina muhammad njogo Ali teguh Allah kuat Muhammad laailaha illallah Muhammadur Rasulullah.”

Baca Juga  Nasionalisme K.H Hasyim Asy’ari

Editor: MZ

Ainur Rofiq Al Amin Dosen Pemikiran Politik Islam UINSA dan UNWAHA Tambakberas serta pengasuh Al Hadi 2 PP Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang