Gaya Hidup Halal: Religiositas atau Konsumerisme?
Gaya hidup halal yang benar-benar dekolonial dan etis tidak akan diukur dengan label sertifikasi, melainkan oleh hubungan moral dan ekologis yang dipupuknya
Gaya hidup halal yang benar-benar dekolonial dan etis tidak akan diukur dengan label sertifikasi, melainkan oleh hubungan moral dan ekologis yang dipupuknya


Ruang aman di pesantren perlu ditegakkan dan ditegaskan, agar tidak ada korban yang bergelimpangan lagi.


Jangan lupakan oknum pesantren yang melakukan kekerasan seksual dan manipulasi juga merusak citra pesantren.


Tayangan media kerap menimbulkan stigma negatif terhadap pesantren. Padahal, pesantren berperan penting membentuk akhlak, tradisi, dan karakter bangsa.


Islam mengajak umat beriman untuk memandang koeksistensi sebagai sebuah tindakan iman, sebuah pengakuan akan keagungan Tuhan dalam keragaman manusia.


Citra pesantren kerap tampil berbeda di layar media, antara kesalehan dan kontroversi. Artikel ini menelisik bagaimana framing media membentuk persepsi publik tentang pesantren, sekaligus mengajak pembaca melihat ulang realitas di balik “cermin retak” pemberitaan.


Melalui pendekatan hermeneutik dan etnosemiotika, tulisan ini membedah cara masyarakat menafsirkan pesantren, antara empati, kritik, dan bias modernitas, serta mengajak pesantren melakukan autokritik agar mampu berkomunikasi dengan dialek zaman tanpa kehilangan jiwanya


“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka dia haruslah memuliakan tetangganya”, (HR. Bukhari dan Muslim)


"Wahdatul wujud" dan "Mysterium Tremendum et Fascinans" menggambarkan hubungan manusia dengan Realitas Ilahi yang melampaui rasio, menghadirkan perasaan takut sekaligus kagum, serta kerinduan akan kesatuan dengan Yang Transenden. Meskipun berakar dari tradisi yang berbeda, keduanya memperlihatkan irisan mendalam dalam menggambarkan misteri Ketuhanan yang tak terjangkau namun mempesona.


Ibadah, dalam arti terdalamnya, tidak terbatas pada ritual, tetapi meluas ke semua tindakan yang berakar pada mengingat, hadir, dan keselarasan dengan kehendak ilahi.

