Lailatul Fitria Alumni Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel, Saat ini sebagai pengajar

Wayang Sebagai Media Penyebaran Islam di Jawa

2 min read

Islam adalah agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat di Indonesia. Teori yang paling terkenal dari proses masuknya agama Islam di Indonesia adalah melalui jalur perdagangan yang berasal dari Arab, Persia, dan India sejak abad ke 7 Masehi. Ajaran Islam mulai berkembang pesat  dibeberapa daerah seperti Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Perkembangan Islam di pulau Jawa sendiri mengalami kemajuan yang sangat signifikan melalui hadirnya sosok Wali Songo dalam berdakwah.

Banyak upaya dilakukan untuk berdakwah dalam proses penyebaran Islam di Indonesia. Seperti Wali Songo yang melihat situasi yang sesuai dengan kondisi dari sudut pandang nilai moral maupun spiritualnya. Strategi pendekatan melalui budaya dan tradisi yang dilakukan oleh Wali Songo dan Ulama di Indonesia waktu itu adalah melalui kebijakan dengan membangun teologi Islam menggunakan kesenian menggunakan kesenian “Wayang”

Mengapa Wayang? Karena pada waktu itu wayang merupakan media yang dianggap efektif mengandung nilai edukasi yang dibawakan melalui sebuah lakon dalam cerita. Melalui kesenian wayang ini,masyarakat tidak merasa terpaksa untuk meyerap ilmu-ilmu agama yang disampaikan, karena popularitas wayang dahulu sangat disukai oleh masyarakat umum sebagai hiburan. Selain itu di dalam wayang sendiri bertujuan sebagai penyampai pesan-pesan dalam cerita atas kepercayaan tertentu

Sebelum Islam masuk di Pulau Jawa, mayoritas masyarakat saat itu merupakan masyarakat yang mayoritas berkeyakinan Hindu-Budha.  Salah satu upaya yang dilakukan oleh Wali Songo khususnya Sunan Kalijaga mencoba membangun teologi Islam dikalangan masyarakat Hindu-Budha dengan memasukkan nilai-nilai cerita dalam alur wayang. Misalnya mendakwahkan Islam dengan menciptakan istilah “layang kalimusodo” atau kalimat syahadat.

Pemanfaatan wayang menjadi media dakwah yang berhasil menarik hati masyarakat saat itu karena di tampilkan di Masjid. disinilah sebuah proses Islamisasi berlangsung, Masyarakat yang hendak melihat pertunjukan wayang diharuskan dalam keadaan suci sebelum memasuki masjid, lalu mereka akan berwudhu dan melafalkan layang kalimusodo jika ingin menyaksikan pertunjukan wayang. Meskipun wayang merupakan budaya yang telah ada sebelum Islam berkembang di Pulau Jawa.

Baca Juga  Menutup Tirai Ramadan

Akan tetapi, wayang mengalami perubahan dengan mengubah karakteristik bentuk wayang purwo menjadi karakteristik tertentu. Selain itu Sunan Kalijaga juga memberikan nama-nama pewayangan dengan sebutan Punakawan yang dikenal ada 4 empat tokoh yang masing-masing penamaanya berasal dari bahasa Arab, yaitu Petruk (Fatruk), Bagong (Bughuyat), Samir (Shamir), Gareng (Ghoiroh). Jika disatukan akan membentuk kalimat Fatruk Bughuyat wa Shamir Ghoiroh yang memiliki arti “Tinggalkan kejahatan dan dekatkanlah dengan kebaikan”

Metode inilah yang sering digunakan oleh Wali Songo untuk mengambil hati masyarakat saat itu. Menggunakan karakter Jawa yang dipadukan dengan nilai-nilai keislaman, mampu diterima baik oleh kalangan masyarakat. Lakon yang dibawakan pada cerita wayangpun ajaran Islam dapat tersampaikan dengan baik sebagai upaya menyampaikan agama Islam yang dapat diterima oleh masyarakat Jawa.

Seperti itulah para penyebar Islam di Jawa melakukan dakwahnya dan membuat masyarakat Hindu-Budha tertarik untuk memeluk Islam. melalui akulturasi budaya yang dilakukan oleh Wali Songo yang ramah dengan membaca keadaan umat pada masanya. Mereka berhasil membawakan Islam tanpa menghapus sepenuhnya budaya yang ada pasa saat itu. Masyarakat Jawa yang awalnya sangat kental terhadap keyakinannya perlahan dapat menerima Islam dengan baik.

Wali Songo pada saat itu berhasil memberikan satu metode dakwah melalui model pemikiran, pemahaman serta berhasil memasukkan unsur ajaran Islam dengan pengalaman ajaran budaya yang telah dikemas oleh tradisi yang ada. Tentunya dengan perlahan membuang ajaran yang dianggap tidak sesuai dengan tuntunal Al-Qur’an dan Hadis, serta mempertahankan nilai-nilai yang tidak bertentangan dengan ajaran Allah dan Rasulnya.

Saat ini wayang masif digunakan sebagai media dakwah sebagai upaya pendekatan kepada masyarakat setempat. Kesenian Wayang mampu berinteraksi melalui budaya dan agama dianggap sebagai gerakan progresif yang dapat dicontoh oleh masyarakat saat ini.  Dapat dilihat bahwa Islam dapat menyatu dengan budaya setempat tanpa melalui aksi pemaksaan dan kekerasan dan menjadikan agama Islam masuk dengan cara damai tanpa melalui kekerasanseperti penyebaran Islam yang ada di Timur Tengah.

Baca Juga  Temuilah Tuhan di dalam Rumahmu

Fenomena yang terjadi pada masa penyebaran Islam terdahulu telah memberikan contoh dengan menanam benih-benih toleransi kepada masyarakat Indonesia khususnya Jawa, tentang bagaimana upaya pendahulu dengan menanamkan nilai moral melalui ijtihadnya. Mereka mampu memberikan Islam yang Rahmatal lil alamin tanpa memusuhi tradisi lokal dan justru malah menjadikan traidi

Fenomena kesenian wayang dalam akulturasi budaya dan tradisi dalam penyebaran Islam terdahulu, telah memberikan contoh nyata bagaimana wujud Islam Moderat dengan mengambil jalur tengah dalam berdakwah. Melalui ijtihad dari Wali Songo, mereka mampu mengaplikasikan nilai-nilai Islam Rahmatal lil ‘alamin tanpa harus menghapus budaya lokal dan justru malah membuat tradisi dengan wajah baru.

Lailatul Fitria Alumni Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel, Saat ini sebagai pengajar