Mukhammad Zamzami Santri PP Mambaus Sholihin Gresik; Executive Editor Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Liga Dunia Muslim dan Promosi Ideologi Wahabisme di Dunia

2 min read

Sebagaimana dinyatakan Elizabeth Sirriyeh dalam buku Sufis and Anti-Sufis, bahwa pembentukan Muslim World League atau Liga Dunia Muslim yang terkenal di Mekkah pada 1962 adalah langkah kunci dalam perjuangan yang mendunia untuk mengarusutamakan sekaligus mempromosikan pemahaman Pan-Islam (al-wahdah al-Islamiyyah) yang sesuai dengan akidah Wahabi, dan membersihkan bid’ah sufi.

Liga ini mengucurkan banyak dana untuk pendidikan orang-orang yang terlibat dalam misi dakwah, dan mendirikan dewan-dewan regional, seperti Dewan Masjid Eropa dan Dewan Koordinasi Islam di Amerika Utara.

Markas-markas Liga di Eropa, yakni di Brussels Belgia, bertanggung jawab atas berbagai macam proyek prestisius, termasuk pembukaan Centre Islamique et Culturel de Belgique pada 1969, yang dilakukan dengan penyerahan kunci-kuncinya dari Menteri Kehakiman Belgia kepada Raja Faisal dari Saudi Arabia dalam sebuah acara publik yang besar.

Dalam tugasnya di kalangan minoritas muslim Eropa, Liga ini memberikan dukungannya keepada orang-orang Wahabi secara tidak tepat oleh musuh-musuhnya, khususnya kaum Deoband di Asia Selatan, Ahl al-Hadis, dan organisasi reformis yang baru-baru muncul saat itu, Jamā’at Islāmī (didirikan pada tahun 1941).

Kelompok Barelwi—dengan komitmen mereka kepada sufisme tradisional—dikritik dengan keras karena dipandang sebagai sekte bid’ah yang berbahaya. Karena itu, mereka kemudian mendirikan World Islamic Mission (Misi Islam Dunia) pada 1973, sebagai sarana untuk meng-counter serangan-serangan ideologi Wahabisme atas keyakinan-keyakinan mereka. [Lihat Buku Phillip Lewis]

Kebencian kelompok tandingan ini terhadap ideologi Wahabisme tampak dalam resolusi konferensi mereka yang diselengggarakan di Wembley Conference Centre pada Mei 1985:

Mereka mengecam pejabat-pejabat Saudai yang telah mengambil alih dan merusak terjemahan-terjemahan Alquran karya Ahmad Riza Khan dan buku-buku ibadah; memprotes ‘aturan-aturan yang sangat kejam’ atas umat Muslim di Mekkah dan Madinah ketika mereka berusaha untuk memperingati hari kelahiran Nabi; mengusahakan jaminan agar situs-situs yang tersisa yang berhubungan dengan Nabi, keluarganya, dan sahabat-sahabatnya semakin dihormati dan dipertahankan. [Lihat buku Phillip Lewis]

Sekira sepertiga dari Liga Dunia Muslim bekerja di Afrika untuk memprogandakan ide-ide Wahabisme di daerah-daerah yang secara tradisional masih didominasi oleh tarekat-tarekat Sufi. Di Nigeria, Sardauna dari Sokoto dan Perdana Menteri Nigeria Utara, Alhaji Sir Ahmadu Bello (w. 1966), yang berhubungan dengan Liga tersebut semenjak awal berdirinya, dinominasikan sebagai Wakil Presiden pada kongres Liga yang ketiga, 1963. [Lihat artikel John Hunwick]. Ia mendapat dukungan finansial yang besar dari Saudi Arabia untuk tugas dakwah di Nigeria dan untuk membangun Central Mosque di Lagos. Hal yang menarik, ada fakta yang menunjukkan bahwa dia mempunyai relasi secara personal dengan tarekat Qādiriyyah dan Tijāniyyah, dan melakukan ziarah ke makam-makam para pendirinya.

Yang penting dicatat di sini, penyalur utama masuknya ideologi Wahabisme ke Nigeria pada periode ini adalah hakim ketua Nigeria Utara, Abubakr Gumi (w. 1992), seorang yang lebih berdedikasi berjuang melawan sufisme dibanding Sardauna. Pada tahun 1978, Gumi pun mendirikan Kelompok Pembersih Bid’ah dan Penegakan Sunnah, yang biasanya dikenal dengan sebutan Izālah (pemberantasan). [Baca buku Elizabeth Sirriyeh]

Pada tahun 1960-an, arus Wahabisme sudah mulai memasuki negara Ghana—meskipun dengan dukungan yang lebih kecil dibanding di Nigeria. Di antara daerah-daerah tetangga Ghana di Barat, kelompok yang disebut dengan Wahabisme di pesisir pantai Ivory, Burkina Faso, Mali, dan Guinea, telah melakukan pembangunan Wahabisme besar-besaran semenjak 1940-an, tetapi hanya secara parsial di bawah pengawasan langsung Saudi Arabia.

Biasanya, sumber-sumber Wahabisme yang anti-sufi memang diserap langsung oleh kaum Muslim selama mereka melaksanakan ibadah haji di awal periode Ibn Saud menguasai Mekkah. Selain itu, fondasi wahabisme juga berakar kuat pada arus reformisme Salafiyah yang digawangi oleh Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Rida melalui perantara para pelajar yang kembali dari belajar mereka di Universitas al-Azhar dan hubungan dengan asosiasi-asosiasi religius di Mesir, Jamāah al-Sybbān al-Muslimīn(Perhimpunan Pemuda Muslim), yang didirikan pada 1927 (oleh karenanya disebut dengan nama Gerakan lokal al-Syubbān), juga dengan kelompok al-Ikhwān al-Muslimūn.

Baca Juga  Teologi Kemanusiaan Hassan Hanafi
Mukhammad Zamzami
Mukhammad Zamzami Santri PP Mambaus Sholihin Gresik; Executive Editor Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam UIN Sunan Ampel Surabaya