Nur Hasan Alumnus Islamic Studies, International University of Africa, Sudan. Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Kisah Mughits al-Aswad, Jatuh Pingsan Mendengar Nasihat Seorang Rahib

1 min read

Source: antimateri.com

Dalam Hilyatul Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya’, Abu Nu’aim al-Asfahani menuturkan bahwa Mughits al-Aswad merupakan orang yang suka memuji, dan suka menjenguk orang yang sedang sakit. Beliau juga menjadi orang pilihan dari para Maula Bani Umayyah.

Suatu ketika Mughits al-Aswad pernah berkata kepada Fayyadh bin Muhmmad Sinan, “seorang Rahib berkata kepadaku di sebuah Biara, ’kenapa aku melihatmu selalu sedih?’

Mendengar pertanyaan sang Rahib tersebut, Mughits al-Aswad pun menjawab, “perjalananku masih panjang, kesulitanku masih jauh dan perjalanan ini telah membuatku merasa kesulitan.

Sang Rahib kemudian berkata, “Innalillahi wa Inna ilaihi Rajiun. Sungguh aku mengira kamu adalah bagian dari para pekerja Allah Swt di bumi-Nya.

Mughits al-Aswad lalu bertanya kepada sang rahib, “apa yang kamu ingkari?

Sang Rahib lalu berkata, “aku mengira bahwa kesedihanmu itu untuk dirimu, tapi kamu bersedih untuk selainmu. Tidakkah kamu tahu, kesedihan orang yang menginginkan keridhaan Allah Swt senantiasa baru pada siang dan malam. Waktu kebahagiaannya pada saat kekacauannya, yaitu saat dia menangis lagi bersedih. Di muka bumi ini, dia tidak mempunyai ketenangan. Kamu melihat sebagai orang kebingungan, dia lari dengan membawa agamanya, sibuk dengan kesedihan yang panjang, di mana kesedihannya semakin memuncak. Keinginannya adalah akhirat, dan sampai padanya dengan jalan keselamatan dari keburukannya.

Mendengar hal tersebut, Mughits al-Aswad berucap, “Hah?” Beliau pun menangis, air matanya berurai dan terus menerus menangis hingga akhirnya jatuh pingsan.

Mungkin, kita juga pernah mengalami ketika sedang merasa berat dalam menjalani kehidupan. Tiba-tiba kita ngobrol dengan seseorang, dari sebuah obrolan tersebut kemudian muncul nasehat-nasehat yang menggetarkan hati hingga membuat kita bersedih dan menangis. Itulah jiwa manusia, ketika merasa berat dengan perjalanan hidup yang dijalani, ia akan mengeluh.

Baca Juga  Ketika Nabi Musa Sakit Gigi

Padahal, dalam perjalanan hidup yang berat, penuh kesusahan, dan berbagai rintangan lainnya justru bisa jadi merupakan jalan yang menjadikan kita semakin dekat dengan Allah Swt. Bersedihlah untuk diri kita sendiri, agar kita bisa merenunginya dan membawa kita semakin bermunajat kepada Allah Swt.

Karena, ketika kita masih bisa bersedih dengan berbagai kepayahan hidup yang ada di dunia, lalu mengingat Allah Swt. Hal tersebut menunjukkan bahwa hati kita masih hidup dan belum mati, masih bisa merasakan bahwa ada sebuah nikmat dibalik sebuah kesedihan. Masih bisa menerima nasehat-nasehat. Tentu saja, jika hati dan jiwanya bersih. Tidak penuh dengan prasangka-prasangka buruk kepada Allah Swt dan makhluk ciptaan-Nya.

Hanya saja, ketika sedang bersedih jangan sampai membuat diri manusia jauh dari Tuhannya. Kemudian putus asa, dan tidak ingin menjalani perjalanan hidup. Sebab, dibalik kesedihan dan kelelahan hidup ada sebuah nikmat yang sudah dipersiapkan oleh Allah Swt.

Kesedihan dan kelelahan dalam menjalani perjalanan hidup adalah cara Allah Swt dalam memberi ujian kepada hamba-Nya. Jika seorang hamba mampu melewatinya, ia akan naik dari tingkatan hidup yang dijalani sebelumnya.

Karena dalam fase perjalanan kehidupan manusia, tentu ada pahit dan manisnya. Pahitnya hidup agar manusia tidak lupa untuk selalu berharap yang terbaik kepada Tuhannya. Sedangkan manisnya hidup supaya manusia tidak lupa bersyukur atas karunia dan nikmat yang diberikan oleh Tuhannya. Oleh karena itu, sudah sepantasnya manusia selalu bermawas diri. Pantaskah mengeluh, padahal Allah Swt lebih banyak memberikan nikmat daripada cobaan pada manusia?

Hati yang lembut, tentu akan menerima dan merenungi sebuah nasehat. Karena, yang terpenting dalam menjalani kehidupan adalah kita bisa mengambil hikmah yang datangnya dari siapa saja, termasuk hikmah berupa nasihat yang datang dari seorang yang berbeda agama dengan kita (Rahib) sekalipun, selahi nasihat tersebut bisa membuat manusia mengingat Tuhannya. [AA]

Baca Juga  Pengalaman dan Cinta Para Sufi yang Begitu Puitis
Nur Hasan
Nur Hasan Alumnus Islamic Studies, International University of Africa, Sudan. Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.