Sweet-Nya Cinta Rasulullah Kepada Kaum Perempuan

Menyimak lagu berjudul Aisyah yang sedang ngehits saat ini sambil membayangkan isi liriknya, Rasulullah mencubit hidung sang istri karena gemas pada kemarahannya serta minum dari gelas bekas yang ada jejak bibirnya memang bukan perkara haram. Adalah juga sah kalau mereka berdua berlarian, saling berkejaran lantas Rasul memanggil-manggil “Humaira” pada perempuan berkulit putih yang pipinya bersemu merah itu, sebab Rasulullah juga manusia yang memiliki hasrat serta gairah. Namun pada akhirnya narasi ini akan memunculkan ilustrasi bahwa ternyata keduanya sama saja dengan sejoli picisan lain yang sedang kasmaran, persis adegan dalam film-film India dan Drama Korea.

Kisah cinta dua manusia hebat yang mengandung ibrah luar biasa tiba-tiba menjadi sedemikian pop, sangat pasaran. Ini patut disayangkan, lantaran menyembunyikan sisi lain yang jauh lebih bermakna dalam misi kenabian Rasulullah serta misi kemanusiaan Aisyah. Selain itu, menunjukkan apa yang tampak dipermukaan saja akan membuat nilai estetis lagu tentang kisah cinta Rasulullah ini menjadi timpang. Alih-alih sebagai upaya meneladani cara Rasulullah mengekspresikan perasaan cinta kepada pasangan yang bisa menjadi jalan penyucian jiwa sebagai salah satu fungsi estetika, malah sukses mencampakkan konten maupun penikmatnya pada tergerusnya makna cinta dan kemuliaan seorang kekasih yang semula digagas. Ini berbahaya. Sama bahayanya dengan menampilkan sosok lain sebagai tandingan, Khadijah misalnya, lantas diam-diam mengonfrontasikan keduanya.

Kalau dibiarkan bisa jadi akan muncul lirik-lirik baru dalam aransemen lagu Aisyah. Hadir nama-nama lain untuk dikontestasikan mengingat istri Nabi bukan hanya mereka berdua. Padahal jika persoalannya hanya tentang kecantikan fisik, Aisyah mengakui bahwa Ummu Salamah sungguh paripurna. Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam al-Ishābah fī Tamyīz al-Shahābah menyebut Aisyah terkagum-kagum pada aura Ummu Salamah, “Ia lebih cantik dari apa yang digambarkan orang!”.

Zainab yang menjadi cinta pada pandangan pertama Rasulullah juga sangat molek. Banyak sejarawan yang menyatakan bahwa Zainab saat itu adalah standar kerupawanan seorang perempuan. Maka perdebatan tak berujung akan terjadi, mementahkan perjuangan berabad-abad untuk menegakkan eksistensi perempuan yang sebelumnya hanya dilihat dari keunggulan fisiknya semata.

Standar kecantikan yang susah payah telah mulai bisa diubah akhirnya mentah kembali. Bukan melulu yang berkulit putih, yang hitam, merah, dan sawo matang pun berhak dicintai dan dimuliakan. Mendengungkan satu warna kulit sebagai tanda keunggulan seorang perempuan dari yang lainnya dengan demikian adalah suatu kemunduran peradaban, mencederai rasa keadilan. Brain, beauty and behavior yang menggelora akan kembali ditenggelamkan.

Jalinan cinta antara Rasulullah dengan Khadijah serta Rasulullah dengan Aisyah yang kini seolah terbelah, tidak akan terjadi jika saja dipikirkan lebih dalam. Pada saat mencintai Aisyah, Khadijah tetap hidup dalam hati Rasulullah sebagai kenangan rohani yang begitu indah, tak tergantikan. Jadi antara yang nyata, benar-benar ada/masih hidup tidak akan pernah bisa diperbandingkan dengan yang telah tiada, lokusnya berbeda.

Pada pribadi Khadijah Nabi menemukan sandaran, penyejuk dari ketakutan yang mendera ketika prosesi kenabian berlangsung. Pada puncak kegamangan dan rasa takut, saat tubuhnya menggigil lunglai ternyata bukan kepada seorang lelaki Mekkah ia berlari, melainkan kepada seorang perempuan, istrinya sendiri. Khadijah yang telah membaca sejumlah naskah kuno dan mengetahui sejarah nabi-nabi terdahulu sehingga tidak asing dengan nama Jibril, pengetahuan yang dibutuhkan Muhammad untuk meyakini bahwa dirinya tidak sedang sakit jiwa. Pada Khadijah Rasulullah menemukan wadah untuk mengutuh dan menegaskan diri sebagai manusia yang diutus menjadi Nabi.

Aisyah pada fase kehidupan Rasulullah berikutnya menjadi yang teristimewa. Dalam rumah tangga poligami, dirinya menempati ruang tersendiri. Tertulis dalam sejarah, saat ditanyai Amr Bin Ash tentang siapa manusia yang paling dicintai di dunia, Rasulullah menjawab: Aisyah. Dalam atmosfer patriarki stadium mentok tentu ini tidak lazim, bahwa ternyata seorang perempuanlah yang menduduki posisi paling berharga.

Pada Aisyah Rasulullah menyaksikan kemanusiaan yang ilahiyah, keterbatasan dan kesempurnaan yang tercermin dalam kecantikan dan kecerdasan. Lugas, gigih sekaligus manja, kekasih yang begitu dekat dengan hati dan jantungnya. Mendudukkan Aisyah sebagai yang tercinta adalah pesan moral bahwa Islam hadir untuk memperhitugkan kaum yang sebelumnya dinistakan.

Kisah cinta Nabi dan Aisyah mengisyaratkan hal yang sublim, yaitu mengapa Rasulullah yang begitu mulia tidak menyangkal keterpautan dirinya kepada perempuan, bahkan terang-terangan mengejawantahkannya dalam ekspresi yang demikian romantik, begitu sweet. Seorang pemimpin mulia yang disegani, terikat hati dan pikiran kepada perempuan tentu mengguncang aras masyarakat Arab yang demikian patriarkis, dimana perempuan semata objek, penderita yang di-tiada-kan. Ia adalah etre on soi, ada di dalam dirinya sendiri, seperti kerikil yang tidak akan bergerak tanpa dorongan daya dari sang pelempar sebagai subjek (pria). Perempuan tidak memiliki eksistensi, hanya aksiden semata. Dalam lagu Pinkan Mambo, kondisi perempuan yang demikian disebut sebagai kekasih yang tak dianggap, hadir untuk dicibir, ada untuk dihina sebab hidup hanya untuk mencoba bertahan. Sungguh mengerikan!

Dalam pelajaran tentang cinta, para sufi melihat perkataan Rasulullah yang sangat masyhur, “Tiga hal di dunia ini yang menjadi kesukaanku: kaum perempuan, wewangian, dan kesejukan mataku ketika sholat”, sebagai manifestasi keterpikatannya kepada Tuhan yang tidak ternegasikan. Perspektif ini menunjukkan bahwa cinta Nabi kepada Aisyah—yang perempuan, darah dan daging itu—merupakan simbol bahwa Rasulullah tidak memiliki kuasa untuk menghindar dari dahsyatnya keindahan pengaruh Tuhan. Pernyataan tersebut mengabarkan bahwa sebagai manusia yang paling sempurna, kesempurnaan Rasulullah ternyata berkelindan dengan kecintaannya kepada manusia lain, kepada perempuan yang saat itu marwah dan harkatnya direndahkan.

Logikanya, jika seorang manusia menghendaki kemuliaan, maka sebagaimana Rasulullah, ia harus memuliakan kaum rentan, yang saat itu bahkan sampai hari ini masih diwakili oleh perempuan. Jika masih ragu, silahkan menghayati sabdanya bahwa “Orang Mukmin yang paling sempurna adalah mereka yang memiliki akhlak mulia dan sebaik-baik kamu adalah dia yang berperilaku baik terhadap perempuan” (H.R Abu Hurairah). Maknanya, orang yang mencintai Tuhan, sebagaimana Nabi, ia akan mencintai perempuan dalam bahasa kasih dan sayang-Nya. Wallahu a’lam bi al-shawāb. [AZH, MZ]

1

Feminis yang Tinggal di Kediri; Mahasiswi S3 Studi Islam UIN Sunan Ampel Surabaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.