









Khutbah Jumat kali ini ini mengajak kita merenungkan kembali tanggung jawab setiap Muslim dalam menjalankan amar makruf nahi mungkar. Membiarkan kemungkaran dan kezaliman bukanlah sikap yang dapat dianggap sepele, sebab sikap abai dapat membuat keburukan terus tumbuh dan dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Melalui khutbah ini, kita diajak memahami pentingnya keberanian untuk menegakkan kebaikan, mengingatkan […]

Di tengah derasnya arus media sosial, seorang muslim perlu bijak memilih aktivitas yang bermanfaat. Khutbah Jumat ini mengajak kita merenungkan hadis Nabi tentang pentingnya meninggalkan hal yang tidak berarti dan mengisi waktu dengan kebaikan. اَلْحَمْدُ لِلّهِ، نَحْمَدُكَ اللَّهُمَّ عَلَى مَا هَدَيْتَنَا لِطَرِيْقِكَ القَوِبْمِ وَفَقَّهْتَنَا فِي دِيْنِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، نُصَلِّى وَنُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الـمُصْطَفَى، وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ […]

Menjaga lingkungan bukan sekadar kepedulian sosial, tetapi bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi. Ketika alam rusak, kita semua turut merasakan akibatnya.

Ketika masalah datang dan semua jalan terasa buntu, kepada siapa kita mengadu? Khutbah Jumat ini mengajak kita mengingat kembali bahwa Allah selalu dekat, mendengar doa, dan membuka pintu rahmat bagi hamba-Nya.

Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang penuh dengan kegelisahan dan ketidakpastian. Namun, Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh membiarkan dirinya larut dalam kekhawatiran. Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi kondisi sulit yang kita hadapi? Marilah kita renungkan bersama melalui khutbah Jumat kali ini. Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang […]

Menurut Ibnu Katsir, salahlah orang yang menafsirkan 'yaqin' hanya sebatas ma'rif'ah (pengetahuan tentang Allah) lalu menganggap tidak perlu lagi shalat, zakat, puasa, dan sebagainya

Berbeda dengan Maher dan Raef, Dimash tidak menekuni musik religius. Seperti penyanyi pada umumnya, tema lagu-lagu Dimash bernuansa sekuler. Tetapi jalannya meraih popularitas justru lebih sulit karena ia memilih genre yang non-mainstream.
![Menyerukan Pesan Kemanusiaan dan Religiusitas Tanpa Atribusi Religius di Dunia Showbiz: Mengenal Dimash Kudaibergen [Bagian 2]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/05/dimash-1024x576.jpg)
Hanya dengan menurunkan makhluk-Nya yang bahkan tidak kasat mata, dunia sudah menjadi kacau balau, ilmu pengetahuan yang diagung-agungkan ternyata gagap menghadapi pandemi ini. Manusia “ditampar sangat keras” bahwa hanya Allah satu-satunya tempat bergantung.

Saat kita ingin berdebat dengan suatu kelompok, kita harus mempersiapkan kepala yang dingin, hati yang lapang, pikiran yang jernih dan telah diisi dengan pengetahuan-pengetahuan yang akan dibicarakan

Cinta tak pernah bersatu jika para pecinta tidak bisa keluar dari ego masing-masing. Cinta itu serakah. Cinta tidak akan memberikan apapun kepadamu jika kamu tidak memberikan segala yang kamu miliki, bahkan dirimu, egomu.

Ibu Sinta menekankan bahwa hidup secara harmonis, toleran, saling tolong menolong diantara sesama manusia merupakan tujuan dari penciptaan laki-laki dan perempuan, bersuku-suku dan bergolong-golongan, yang dalam kontek Indonesia diikat dengan nilai Bhineka Tunggal Ika.

Atas dasar keimanan dan ketaatan terhadap aturan syari’ah serta keinginan untuk menjalankan ibadah secara maksimal, itu yang kemudian masyarakat kita memilih untuk tetap menjalankan Shalat Rawatib berjamaah di Masjid, menjalankan sholat jumat dan di bulan ramadan melaksanakan sholat tarawih di Masjid.

Menurutnya: “Proses harmoni sejati hanya bisa dijalankan dalam sebuah hubungan jika masing-masing pihak menjadi diri mereka sendiri. Hubungan harmonis hanya bisa terbina jika eksistensi kedua belah pihak saling diakui dan dihargai”.

Dimash juga hebat dalam hal stage presence. Sehari-hari, ia adalah pemuda yang rendah hati, sopan dan pemalu, tetapi di atas panggung ia berubah menjadi sosok yang sangat percaya diri dan kharismatik.
![Menyerukan Pesan Kemanusiaan dan Religiusitas Tanpa Atribusi Religius di Dunia Showbiz: Mengenal Dimash Kudaibergen [Bagian 1]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/05/dimash-1024x576.jpg)
Kemudian, hati saya melonjak gembira ketika diakhir kata pengantarnya tertulis “Dra.Sinta Nuriyah Rahman, M.Hum” bukan Sinta Nuriyah Abdurahman Wahid. Sederhana, namun pesan ini sangat kuat bahwa perempuan Indonesia harus mandiri yaitu berprestasi, memiliki hasil dari kerja keras sendiri serta memiliki kepribadian dan kecakapan, yang tidak perlu menempel pada nama suami, atau garis keturunan
