Tidak Hanya Kaum Pria, Wanita Muslimah Juga Bisa Menjadi Seorang Pemimpin

Kepemimpinan menjadi hal  utama dalam segala unsur pada kehidupan saat ini. Mengapa demikian? Karena jika seorang pemimpin memiliki kualitas yang baik, maka tidak sulit jika semua urusan berbuah dengan baik pula. Seorang pemimpin memiliki peran yang sangat penting disetiap tindakannya, karena segala perilaku dan sikap yang diperbuat secara tidak langsung mempengaruhi apapun yang ada di bawah kepemimpinannya.

Di Negara Indonesia menjadi pemimpin merupakan cita-cita semua orang, karena tidak jarang eksistensi seorang pemimpin disorot oleh media sosial yang menjadikan mereka dikenal oleh khalayak umum. Padahal hakikat menjadi seorang pemimpin adalah suatu yang tidak mudah dan harus memiliki sifat amanah yang sangat tinggi.

Budaya Indonesia yang berkaitan erat dengan yang namanya ”Laki-laki adalah pemimpin bagi kamu wanita” sudah tidak asing lagi di telinga kita saat ini. Seorang laki-laki yang berwibawa, berkuasa, tegas serta berpengetahuan luas merupakan cikal bakal seorang pemimpin yang sangat dibanggakan dan disegani oleh semua orang.

Memang dalam Islam pada dasarnya seorang laki-laki menjadi pemimpin untuk kaum wanita, seperti pada Al Qur’an yang berbunyi arrijalu qowwamuna ‘alan nisa. Meskipun ayat ini bermakna bahwa unggulnya kelebihan laki-laki daripada perempuan dan baiknya jika perempuan menjadi seorang makmum saja tidak bisa dijadikan patokan bahwa perempuan tidak bisa menjadi seorang pemimpin. Konteks kaitan ayat ini digunakan dalam memaknai kepemimpinan dalam kehidupan berumah tangga.

Jika dihubungkan dengan hal-hal berbau politik, maka tidak berlaku lagi ayat ini. Mungkin perspektif sebagian orang menganggap hal ini setara, tetapi dalam Islam ayat ini tidak bisa dikaitkan dengan kepemimpinan suatu negara yang memerlukan nilai solidaritas dan kepercayaan yang tinggi.

Mengapa sih kaum pria digembor-digemborkan dan dituntut untuk menjadi seorang pemimpin? Mungkin dalam sudut pandang banyak orang mengatakan bahwa wanita sangat sulit bahkan diremehkan jika menjadi seorang pemimpin. Pasti dalam pemikiran sebagian orang wanita adalah makhluk yang lemah, padahal perbandingannya pun tidak kalah hebat seorang wanita dengan kaum pria.

Tidak jarang wanita memiliki asset yang mendorongnya untuk menjadi seorang pemimpin dengan segala keunikan dan kontribusinya kepada banyak orang. Wanita sebagai makhluk Allah yang mulia banyak menorehkan tinta emasnya diberbagai bidang, mereka gigih dan pantang mundur meski banyak celaan dan hambatan di depannya. Mungkin tulisan ini lebih banyak memandang wanita terutama para wanita muslimah yang memiliki banyak kelebihan dan kekuatan dalam menghadapi banyaknya rintangan dalam kehidupan, terutama bagi mereka yang cinta dan ingin menjadi seorang pemimpin.

Apa aja sih hambatan seorang wanita muslimah dalam hal menjadi seorang pemimpin?. Pasti sebagian orang mengira bahwa ketika menghadapi suatu hambatan, para wanita muslimah lebih membesarkan dan menuruti egonya, padahal dalam faktanya mereka cenderung lebih memilih dan menerjang tantangan tersebut dalam menggapai mimpinya.

Memang wanita diciptakan untuk lebih menggunakan perasaannya, tetapi dengan ini mereka cenderung ekspresif dan memiliki komunikasi dengan baik sesama rekannya. Hal ini yang dapat ditonjolkan dari para wanita muslimah dalam memimpin suatu daerah maupun negara. Sangat membanggakan sekali jikalau wanita yang memiliki nilai-nilai islami dan beradab menjadi pemimpin suatu negara. Mereka menerapkan gaya kepemimpinan seperti Siti Khadijah yang merupakan istri dari Rasulullah berdasarkan ajaran agama yang dimilikinya.

Alangkah bangganya dalam keluarga bahkan kerabatnya jika memiliki seorang wanita muslimah yang merangkap peran sebagai pemimpin. Tetapi banyak juga dari orang sekitarnya yang memberi pengaruh negatif dengan cara menyepelekan kemampuan yang dimiliki. Karena tidak jarang ambisi wanita muslimah bertentangan dengan tradisi, apalagi mereka yang tinggal di daerah dengan mayoritas penduduknya masih mempercayai mitos. Terlihat sangat sulit kan jika kondisinya belum mendukungnya seratus persen. Tetapi tekad pemimpin yang ada dalam dirinya mampu mengalahkan cacian dan celaan dari sekitarnya.

Tidak banyak juga dari wanita muslimah yang gagal menjadi seorang pemimpin, tetapi mereka bangga karena pernah mencoba dan berusaha untuk menggapai mimpinya, dan seorang wanita juga bisa menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Masih banyak wanita yang ingin menjadi seorang pemimpin tapi ketika memimpin dirinya sendiri mereka mundur, padahal hal yang paling penting dalam kehidupan wanita muslimah yakni mampu menjaga dirinya dengan cara memimpin hal apapun di setiap langkahnya.

Memang seorang wanita membutuhkan pasangan yang dapat menuntunnya ke jalan yang lebih baik, akan tetapi landasan tersebut tidak bisa menjadi tonggak utama kesuksesan seorang wanita. Banyak yang bilang tentang wanita yang tidak perlu sekolah tinggi apalagi berangan-angan menjadi pemimpin, toh ujungnya mereka pasti akan menjadi seorang istri dan ibu di rumah kecilnya.

Pernyataan tersebut sangat bertentangan dengan prinsip wanita muslimah yang berjiwa pemimpin, mengapa? karena mereka yakin adanya pembuktian dari jerih payah wanita muslimah mampu mengubah pola pikir masyarakat mengenai kesetaraan gender yang lebih mendukung kaum pria. Seperti yang dikatakan oleh tokoh inspirasi wanita saat ini yaitu Najwa Shihab dalam narasinya yang mengatakan “Jika laki-laki dipromosikan karena potensinya, maka perempuan hanya berdasarkan performa pembuktiannya.” (mmsm)

2

Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.