Siti Aminah Tardi Feminis dan Komisioner Komnas Perempuan

Jebakan Patriarki di Balik Kontestasi antara Pro-Khadijah atau Pro-Aisyah

4 min read

Saya mengetahui fenomena lagu “Aisyah Istri Rasulullah” dari suami yang lebih aktif di medsos. Setelah mendengarkannya secara saksama, kami berdua bersepakat bahwa syair lagu itu terlalu letterlijk dalam mendeskripsikan Aisyah, seperti bahasa tulis dalam buku menjadi sebuah bahasa lagu. Namun begitu harus diakui lagu ini cukup enak didengar, termasuk oleh saya yang bukan penggemar musik.

Lagu ini begitu nge-hits ditengah kekalutan kita menghadapi pandemi. Pertama kali dinyanyikan oleh Projector Band asal Malaysia dengan judul Aisyah A.K.A Satu Dua Tiga Cinta Kamu (2017) tentang sakit hatinya lelaki yang dibohongi perempuan. Adalah Hasbi Haji Muh Ali yang kemudian menggubah lirik dan judulnya menjadi Aisyah Istri Rasulullah, yang kemudian ngehits. Selanjutnya dilagukan kembali oleh Sabyan Gambus, Rizki dan Ridho, Ria Ricis, Andre Taulany, Syakir Daulay, sampai Via Vallen.

Lagu ini menyedot perhatian publik, terkait ‘kesopansantunan’ dalam memperlakukan Aisyah dan ‘pengerdilan’ peran dan kualitas pribadi Aisyah. Ketidakpantasan misalkan disampaikan Buya Yahya yang tidak nyaman dengan lirik “nabi minum di bekas bibirmu” atau Ustaz Abdul Shomad yang menilai tidak pantas menyebut Ibu Kaum Muslimin dengan namanya langsung, sebaiknya menyebutnya “Sayyidati Aisyah”. Ketakpantasan juga disoal terkait siapa yang menyanyikannya. Lelaki lain juga dianggap kurang pantas memuji kecantikan istri Nabi, apalagi ikut memanggilnya “Khumayrā”, panggilan intim yang hanya dipahami pasangan yang bersangkutan.

Sedangkan terkait pengerdilan peran dan kualitas Aisyah tidak lepas dari cara pandang patriarkis terhadap Aisyah. Ana Dwi Itsna Pebriana menghitung jumlah keseluruhan kosakata yang digunakan untuk mendeskripsikan Aisyah. Menurutnya, ada 179 kosakata yang terbagi ke dalam tiga sub, antara lain: kecantikan fisik (9 kata); kisah romantis (140 kata); dan nasab mulia (5 kata). Padahal Aisyah memiliki kecerdasan luar biasa.

Aisyah meriwayatkan 2.210 hadis, terutama hadis terkait dengan hukum keluarga, khususnya relasi suami-istri. Demikian halnya keputusan politiknya untuk memimpin Perang Unta melawan Khalifah Ali bin Abi Thalib yang merupakan bentuk kepemimpinan perempuan.

Baca Juga  Perempuan Karir di Tengah Dominasi Pandemi

Seharusnya perdebatan ini selesai ketika Yusuf Subhan mengubah lirik yang mengoreksi ketakpantasan dan pengerdilan peran Aisyah. Tapi perdebatan bergeser dengan pertanyaan mengapa bukan kisah Khadijah yang ditonjolkan? Mengapa Aisyah? Bahkan muncul lagu “Khadijah Istri Rasulullah” yang dilagukan oleh Syahla, Alhanan Devan dan Tami Aulia yang menggambarkan kerinduan untuk mencontoh sifat Siti Khadijah.

Kehadiran lagu bertema istri Rasulullah pada satu sisi adalah hal yang positif untuk membuka diskusi publik tentang peran perempuan dalam sejarah Islam. Namun, mempolarisasi antara pro-Khadijah atau pro-Asyiah menjadi tidak pada tempatnya dan terjebak dalam kaca pandang patriarkis. Setidaknya, terdapat dua jebakan patriarkis dalam konteks ini.

Perempuan vs Perempuan

Mitos yang dibangun oleh ideologi patriarki salah satunya adalah perempuan dari semenjak dulu selalu berkontestasi dengan perempuan lain demi mendapat perhatiaan laki-laki, karena lelaki-lah yang memiliki akses terhadap berbagai sumber daya. Mitos ini dipercayai, misalnya, dalam kasus-kasus poligami atau perselingkuhan. Perempuan yang satu akan memastikan dirinya lebih pantas, lebih cantik dibanding perempuan yang menjadi pesaingnya. Istri pertama akan menilai istri kedua sebagai pelakor, atau istri kedua akan menilai poligami sebagai akibat ketakmampuan istri pertama melayani suami.

Perdebatan pro-Khadijah atau pro-Aisyah secara tidak sadar karena kita mengamini mitos yang dibangun dan dibakukan ideologi patriarki itu. Padahal jika merujuk pada dimensi historis, perkawinan antara Nabi Muhammad dengan Khadijah berbeda waktu dan konteksnya dengan perkawinannya dengan Aisyah. Khadijah adalah perempuan mandiri, berkedudukan tinggi, menjalankan perdagangan impor dan ekspor, mengirimkan armada dagangnya dan mempekerjakan agen-agen serta manajer-manajernya. Salah seorang dari pegawainya dipilih untuk menjadi suaminya.

Perkawinan mereka berdua berlangsung selama lebih dari dua puluh tahun dan dikaruniai enam orang anak. Khadijah dan empat putrinya adalah pendukung pertama Muhammad ketika panggilan misi kenabiannya tiba. Penting dicatat di sini, saat Nabi Muhammad terikat pernikahan dengan Khadijah, Nabi tidak pernah menikah selainnya. Artinya, nabi monogami. Maka, dalam rentang perkawinan selama dua puluh tahunan apakah tidak ada hal romantis antara Khadijah dan Muhammad? Apakah kurang romantis ketika Khadijah memeluk, menyelimuti dan meyakinkan Nabi bahwa wahyu yang diterimanya adalah benar? Jikapun hal-hal romantis seperti “berlarian bersama”, “minum dari bekas minumnya”, atau panggilan sayang, tidak terungkap dalam relasinya dengan Khadijah, maka (setahu saya) semata-mata karena tidak ada yang meriwayatkannya.

Baca Juga  Kita Sibuk Memuji Aisyah Hingga Lupa Ibunda Nabi, Aminah

Sedangkan Aisyah adalah putri Abu Bakar, sahabat utama Nabi yang mengorbankan jiwa raga dan kekayaannya untuk membangun agama baru. Rasulullah adalah tamu dalam keseharian kehidupan keluarga Abu Bakar. Nabi mengenali kecerdasan yang dimiliki oleh Aisyah. Aisyah pula yang hadir dalam mimpi Rasulullah tentang siapa yang akan menjadi istrinya. Petunjuk ini terbuktikan dengan sumbangan Aisyah yang meriwayatkan 2.210 hadis.

Rabiah al-Adawiyah menyuarakan hutang budi umat Islam pada Aisyah. Katanya: ”Kalau diperkenankan menerima dua pertiga dari ajaran kita dari Aisyah yang terpercaya itu.…” Mengapa demikian? Charis Waddy dalam bukunya, Wanita dalam Sejarah Islam, menggambarkan selain kekuatan ingatannya, Aisyah memiliki karakter jujur dan berterus terang. Aisyah dengan jujur menceritakan segala kesukaran, kejengkelan, kecemburuan termasuk hubungannya dengan para istri Nabi yang lain. Aisyah juga tidak menyembunyikan perlawanan-perlawanannya. Karena itulah, kita mengetahui bagaimana kehidupan Rasulullah.

Namun apakah di usianya yang muda ia tidak menunjukkan kedewasaannya? Aisyah mengakui bahwa Zainab, istri sekaligus sepupu Nabi, sebagai “perempuan yang berkata benar, suka memberi, dan seorang yang selalu berperasangka baik”. Atau terhadap Saudah, dia mengakui “tak ada seorang pun yang cintanya kepadaku melebihi dia…aku lebih senang di dekatnya….” Termasuk saling memaafkannya dengan Ummu Habibah. Aisyah jelas sangat dewasa karena mampu mengelola “persaingan” dengan sesama istri Nabi, menjadi persahabatan layaknya dengan saudara perempuan.

Domestifikasi Peran Perempuan

Cara pandang yang menilai perempuan dari kecantikan fisiknya dan perannya sebagai istri, tidak lepas dari cara kita memposisikan perempuan. Sistem patriarki menempatkan perempuan sebagai subordinat lelaki sehingga ia menjadi objek pemenuhan kepentingan lelaki, baik seksual, intelektual, maupun sosial. Yang saya pahami, sebelum Islam hadir berbagai bentuk yang kini disebut dengan kekerasan berbasis jender terhadap perempuan telah terjadi dan menahun, seperti poligami tanpa batas, perbudakan perempuan, pembunuhan terhadap anak perempuan, tidak adanya hak kepemilikan perempuan, sampai berbagai bentuk perbuatan kejam pada perempuan.

Baca Juga  Feminisme Islam: Gerakan Perlawanan Budaya Patriarki

Melalui Islam dan Nabi Muhammad ketidakadilan tersebut secara bertahap diubah dengan mengakui kesetaraan antara lelaki dan perempuan, atau melakukan berbagai pembatasan. Islam memperkenalkan peran perempuan di wilayah publik dan terlibat secara demokratis.

Sebagaimana kita ketahui bersama pasca-Nabi Muhammad wafat, terjadi perubahan fundamental dalam kepemimpinan dan struktur pemerintahan Islam, yang secara sistematis menghancurkan peran-peran perempuan. Pada masa kekhalifan Abbasiyyah, perempuan didomestifikasi sedemikian rupa yang oleh Mazhar ul-Haq Khan disebut dengan sistem purdah. Yaitu, satu bentuk ekstrem dominasi kaum lelaki atas perempuan. Dominasi ini dilakukan melalui berbagai cara, misalnya, pengucilan perempuan dari kegiatan sosial, pemberangusan semangat maju kaum perempuan, hingga memingit dan memisahkan perempuan dari setiap lelaki.

Sistem ini menolak kebebasan bertindak perempuan dan partisipasi perempuan dalam kegiatan sosial. Sehingga, aktivitas perempuan hanya pada rumah, kehidupan rumah dan kewajiban dalam rumah. Lebih lanjut, ideologi ini menyebabkan inferioritas kaum perempuan; ketakcakapan kaum perempuan untuk bekerja; dan tiadanya kemampuan perempuan untuk berprestasi. Dari sini, perempuan hanya dinilai dari fisiknya semata. Cantik-tidaknya ditentukan oleh pasar. Tugas perempuan hanya untuk menyenangkan lelaki.

Bayangkan jika sistem ini diterapkan oleh Nabi, tentu tidak akan lahir perempuan-perempuan cerdas seperti Aisyah, Fatimah, Ummu Salamah, Asma, atau Zainab. Mereka adalah perempuan-perempuan hebat dengan keunikan masing masing. Mereka bebas menyatakan pemikiran dan pendapatnya.

Walau mungkin sistem purdah ini secara fisik saat ini berkurang, namun ideologi patriarki yang ada di belakangnya masih diyakini dan terus dibakukan. Dengan menempatkan Aisyah sebagai yang ‘sweet’, ‘berseri’, dan ‘muda’, kita mengirim pesan kepada anak-anak perempuan kita bahwa “Jika ingin menjadi perempuan ideal, jadilah yang sweet, bukan yang cerdas dan mandiri”.[AZH, HM, MZ]

[Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mewakili lembaga]

 

 

 

Siti Aminah Tardi Feminis dan Komisioner Komnas Perempuan

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *