Siti Aminah Tardi Feminis dan Komisioner Komnas Perempuan

Perempuan adalah Ibu Bangsa (2)

1 min read

Sebelumnya: Perempuan Adalah Ibu…(1)

Hari Ibu di Indonesia: Hari Pergerakan Perempuan untuk Kemerdekaan

Kongres Pemuda pada 28 Oktober 1928 yang menghasilkan “Sumpah Pemuda”, menginspirasi tokoh-tokoh perempuan untuk menyelenggarakan kongres serupa dengan penekanan pada kepentingan perempuan. Panitia Kongres Perempuan diketuai oleh R.A. Soekonto, Nyi Hajar Dewantara sebagai wakilnya dan Soejatien sebagai sekretaris. Ketiga tokoh perempuan ini sebenarnya tidak asing dengan dunia pergerakan karena berbagai upaya mereka untuk melawan Pemerintah Kolonial Belanda di berbagai ranah juang.

Kongres ini dihadiri sekitar 600 orang dari 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra. Dalam sambutannya, R.A. Soekonto mengatakan: “Zaman sekarang adalah zaman kemajuan. Oleh karena itu, zaman ini sudah waktunya mengangkat derajat kaum perempuan agar kita tidak terpaksa duduk di dapur saja… laki-laki dan perempuan mesti berjalan bersama-sama dalam kehidupan umum.” Sambutan ini menegaskan bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk berperan di dunia public, setara dengan laki-laki.

Para perempuan memberikan pidatonya diantaranya: Pergerakan Kaum Isteri: Perkawinan dan Perceraian (R.A. Soedirman), Perkawinan Anak-Anak (Moegaroemah), Kewajiban dan Cita-Cita Puteri Indonesia (Sitti Soendari), Bagaimanakah Jalan Kaum Perempuan Waktu Ini dan Bagaimanakah Kelak (Tien Sastrowirjo), Hal Keadaan Isteri di Europah (Ali Sastroamidjojo) dan Keadaban Isteri (Nyi Hajar Dewantoro). Patut dicatat penggunaan kata istri menurut saya merujuk pada pengertian “perempuan” atau ‘estri dan tidak merujuk pada pengertian perempuan yang sudah menikah.

Dari pidato-pidato yang disampaikan, nampak para perempuan mengidentifikasikan pengalaman-pengalamannya sebagai perempuan seperti jaminan hak-hak dalam perkawinan dan perceraian, perkawinan anak, diskriminasi pendidikan karena ia perempuan, tingginya kematian ibu melahirkan, sampai perdagangan perempuan. Kongres ini menghasilkan keputusan membentuk gabungan organisasi dengan nama Perikatan Perempuan Indonesia (PPI). Dua tahun setelah kongres, kaum perempuan menyatakan bahwa “gerakan perempuan adalah bagian dari pergerakan nasional”. Dengan kata lain, perempuan wajib ikut serta memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal ini telah dibuktikan dengan bahu membahu melawan pemerintahan kolonial Belanda, fasisme Jepang dan dijadikan sasaran perbudakan seksual sampai kukuh mempertahankan kemerdekaan. Keterlibatan perempuan tentunya bukan tanpa harapan. Harapan akan hak-hak  perempuan dipenuhi ketika negara merdeka.

Baca Juga  Perempuan yang Memperjuangkan Hak-hak kelompok Penghayat Kepercayaan

Tanggal hari pertama Kongres Perempuan Indonesia I inilah yang menjadi acuan peringatan hari Ibu. Kongres ke III pada 1938 di Bandung menyepakati setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Barulah kemudian Presiden Sukarno melalui Dekrit Presiden RI No.316 Tahun 1953 menetapkannya sebagai peringatan Hari Ibu. Ibu disini tidaklah diartikan sebagai ibu dalam artian individu seorang ibu atas anak-anaknya, melainkan ibu bangsa yang melahirkan bangsa bernama Indonesia. Sebuah pengakuan bahwa bangsa Indonesia dilahirkan dan diperjuangkan bersama.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa hari ibu di Amerika Serikat sebagai gerakan perdamaian dan anti perang di Amerika Serikat dan sebagai gerakan hak-hak perempuan di Indonesia berakhir sama?. Menjadi komersial dan kehilangan makna akan peran perempuan sebagai agen perdamaian, sebagai ibu bangsa, sekaligus pengingat bahwa kita masih memiliki PR untuk memenuhi hak-hak perempuan. Saya pikir kepentingan patriarki dan kapital yang cerdik menggunakan ikatan emosi ibu dan anak menjadi pangkal untuk kembali mengkerdilkan peran perempuan kembali ke ranah domestic.

Atas kesadaran itu, maka mulailah saya membangun dialoq dengan bujang. Mengapresiasi cintanya, mendiskusikan apa yang diharapkan perempuan dan menganjurkan ia membangun solidaritas terhadap perempuan lain. Tahun lalu, ia bergabung dalam aksi peringatan Hari Perempuan Indonesia, bertemu dan berinteraksi dengan para perempuan, penyintas KDRT, pekerja rumah tangga, sampai seniman jalanan. Bagi saya ini sama membanggakan dan mengharukan dengan kartu yang diberikannya. (MMSM)

Selamat Hari Perempuan 2020

Siti Aminah Tardi Feminis dan Komisioner Komnas Perempuan