Obituari: Jalan Kebudayaan Bisri Effendy (1953-2020)
Jika pada tahun 1990-an ada gelombang intelektualisme di kalangan kader muda NU, Bisri effendy merupakan kader terbaik NU dalam bidang kebudayaan yang sulit dicari padanannya.
Jika pada tahun 1990-an ada gelombang intelektualisme di kalangan kader muda NU, Bisri effendy merupakan kader terbaik NU dalam bidang kebudayaan yang sulit dicari padanannya.


Kidung itu sangat indah, dan memiliki arti yang menyentuh hati. Isinya puji-pujian tentang sawah. Entah bagaimana caranya, aku sangat ingat setiap kata dalam kidung itu, lalu dengan mudah menuliskannya di kertas saat bangun tidur.


Gemuruh suka di dada bertalu talu memenuhi rasa. Kondisi suamiku terus membaik. Diizinkan oleh petugas aku menyuapi dan menyeponi tubuhnya tiap pagi. Ini adalah kegembiraan luar biasa.


Tentu saja tidak ada orang yang secara suka rela menghirup aroma busuk itu, tapi tidak ada pilihan lain, bau itu seperti tak peduli. Seperti halnya si Tuan Tanah yang sama sekali tak peduli dengan mereka yang mulai terancam hidupnya.
![[Cerpen] Bau Busuk](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/Untitled-design-54-825x510.png)
![[Cerpen] Bau Busuk](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/Untitled-design-54-825x510.png)
Fenomena plagiarisme ini tentu saja merupakan kejahatan yang korbannya adalah pemilik asli karya tersebut. Namun perlu disayangkan tidak sedikit pembiaraan pratik ini ditemukan di lingkungan akademis mahasiswa bahkan sudah menjadi kelaziman yang biasa.


Dalam Alquran terdapat ayat-ayat yang dapat dijadikan sebagai motivasi dan inspirasi terhadap tradisi baca-tulis.


Bagi mereka, selain penganut Wahabi adalah kaum musyrik, dan memerangi mereka bukan saja boleh, melainkan wajib.
![[Resensi] Wahabi, Sufisme, dan Penghancuran Budaya](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/Untitled-design-19-1-825x510.png)
![[Resensi] Wahabi, Sufisme, dan Penghancuran Budaya](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/Untitled-design-19-1-825x510.png)
Keesokan harinya, kejadian seperti itu pun berulang. Sosok tersebut kali ini tidak mendecakkan lidah seperti biasanya. Ya. Dia hanya berdeham, lalu melafalkan ayat yang benar untuk membenarkan hafalannya
![[Cerpen] Mengagumi Namun Tak Bisa Memiliki](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/Desain-tanpa-judul-3-825x510.jpg)
![[Cerpen] Mengagumi Namun Tak Bisa Memiliki](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/Desain-tanpa-judul-3-825x510.jpg)
Ku tatap tubuhnya yang hanya bisa bergerak tapi tak bisa berkomunikasi. Dia hanya diam seribu bahasa ketika diajak bicara.


Kang Madari berjalan dengan santai menuju bangunan paling atas Masjid, berdiri tepat di sebelah kubah. Orang-orang yang menyaksikan mulai mlongo, semua mata tertuju pada sosok Kang Madari yang kabarnya mau terbang.

