Indonesia Krisis Politisi Muda dan Idealismenya
Saat suara pemuda mahasiswa bergerilya di jalanan berdemonstrasi menolak UU Cipta Kerjatersebut, apakah para politisi muda tak mendengar gerutuan para pmuda seusia mereka? Patut untuk dipertanyakan.
Saat suara pemuda mahasiswa bergerilya di jalanan berdemonstrasi menolak UU Cipta Kerjatersebut, apakah para politisi muda tak mendengar gerutuan para pmuda seusia mereka? Patut untuk dipertanyakan.


Sama dengan Greg Fealy, Taqiyuddin an Nabhani juga demikian, saklek melihat demokrasi selalu ala demokrasi liberal. Bedanya...


Jika koalisi adil makmur dibubarkan, maka akan terjadi oligarki dan demokrasi akan oleng.


Hizbut Tahrir [Indonesia] menolak nilai-nilai demokrasi karena mereka percaya bahwa umat Islam yang menerima demokrasi berarti menolak Allah sebagai satu-satunya legislator.
![Hizbut Tahrir [Indonesia]: Gerakan Moral atau Politik?](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/09/Untitled-design-10-1-825x510.png)
![Hizbut Tahrir [Indonesia]: Gerakan Moral atau Politik?](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/09/Untitled-design-10-1-825x510.png)
Menurut al-Ghazālī, hanyalah orang-orang terpilih yang mampu mengemban jabatan pemimpin secara amanah. Itu sebabnya pula, Allah sangat mencintai para pemimpin yang adil dan menjalankan amanahnya secara benar.


Ide tentang Islam sebagai agama dan umat bukan agama dan negara disebabkan karena watak negara yang hegemonik. Bagi Jamal, kekuasaan, diakui atau tidak, dapat merusak ideologi.


Yang saya ingat waktu itu adalah aksi bela Islam yang didatangi dari berbagai daerah. Saya waktu itu tidak mendukung ataupun menolak aksi itu.


Hamka mengatakan bahwa harga seseorang terletak pada pribadinya. Seseorang dinilai baik dan buruk dilihat dari konsistensi pribadinya. Kemerosotan bangsa ini terlihat jelas ketika banyak orang bukan ahlinya memegang suatu jabatan dalam kekuasaan.


Baginya, demokrasi adalah suara rakyat, sehingga partai politik jangan sampai berpikir untuk kepentingan kelompoknya saja. Maka dari itu, pendidikan bagi rakyat dan penggalian pemahaman terkaiat politik sangat dibutuhkan, supaya aspirasinya tersampaikan ke atas, yaitu kepada pihak pemerintahan yang diamanahkan oleh masyarakat. Bukan sebaliknya, seperti yang saat itu−─anehnya, masih berjalan sampai sekarang−─berlangsung di PSII maupun partai lain. (Agus Salim, 2004: 113)


Kekuatan lain buku ini adalah kecermelangan penulisnya untuk mengupas persoalaan pendidikan multikultural beserta beragam problemnya dari berbagai tema serta sudut pandang berspektrum sangat luas.
![[Resensi Buku] Mengembangkan Pendidikan Multikultural untuk Demokrasi dan Keadilan Sosial](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/Untitled-design-7-825x510.png)
![[Resensi Buku] Mengembangkan Pendidikan Multikultural untuk Demokrasi dan Keadilan Sosial](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/Untitled-design-7-825x510.png)