Paradoksal Feminisme al-Qur’an Asma Barlas
Asma Barlas dengan pemikiran feminisme al-Qur’an telah melontarkan wacana baru tentang pentingnya melakukan reinterpretasi teks keagamaan secara egaliter, adil, dan ramah gender.
Asma Barlas dengan pemikiran feminisme al-Qur’an telah melontarkan wacana baru tentang pentingnya melakukan reinterpretasi teks keagamaan secara egaliter, adil, dan ramah gender.

Bagi perempuan muslimah, agensi bukanlah tentang menolak norma-norma tetapi tentang menyelaraskan keinginan mereka dengan prinsip-prinsip ilahi.

Saba Mahmood menantang gagasan sekuler bahwa kebebasan didefinisikan oleh ketiadaan kendala, sebaliknya menyatakan bahwa kebebasan dapat dialami dan diekspresikan melalui penerapan disiplin agama secara sengaja.

Feminisme, khususnya dalam konteks proyek kolonial, menjadi salah satu alat untuk memperkuat misi pemberadaban ini.

Jika dikatakan pesantren adalah ladangnya patriarki, maka tidak sepenuhnya bisa disetujui, karena pemahaman patriarki muncul ketika guru yang menjelaskan terlalu literal dalam memahami teks-teks keagamaan.

Kerja domestik itu pekerjaan. Sebab kerja-kerja merawat dan memelihara dalam pengerjaannya tidak gampang karena memerlukan banyak waktu, tenaga, dan sumber daya.

Yang semestinya dipahami kembali adalah ketidakadilan gender bukan sesuatu yang inheren pada budaya dan agama tertentu, melainkan kita mesti melihat jejak dan relasi kolonial.

Perjuangan El-Saadaawi dalam membongkar budaya patriarki melalui karya fiksi patut dijadikan refleksi atas tindakan patriarki yang masih terjadi.

Tidak ada perempuan yang tidak berharga, semua perempuan sama berharga nya dan pantas untuk dihargai.

Semangat kemanusiaan tokoh yang akrab disapa Gus Dur ini sungguh besar dalam memutus belenggu ketidakadilan yang sejak lama menyentuh aras relasi laki-laki dan perempuan, terutama di Indonesia.
