Apakah Muslim Harus Selalu Anti-Barat? Memikirkan Kembali Politik Oposisi Budaya
Masa depan pemikiran Islam mungkin bergantung bukan pada penolakan terhadap Barat, melainkan pada transendensi logika biner antara Timur dan Barat secara menyeluruh.
Masa depan pemikiran Islam mungkin bergantung bukan pada penolakan terhadap Barat, melainkan pada transendensi logika biner antara Timur dan Barat secara menyeluruh.


Secara simbolis, surga dan neraka bukanlah kehidupan setelah kematian, melainkan cara pandang kita melihat hidup dan melihat masa kini.


Cinta seharusnya menghadirkan ketenangan dan kasih sayang, bukan ketakutan dan kendali. Dalam Islam, rumah tangga dibangun di atas rahmah dan keadilan—bukan kepemilikan atau ketaatan sepihak. Artikel ini mengajak kita menengok kembali makna cinta dalam keluarga Muslim: bagaimana ajaran Nabi menempatkan perempuan sebagai amanah, bukan objek kuasa. Sebab cinta sejati adalah yang menumbuhkan rasa aman, menghormati pilihan, dan menjadikan rumah sebagai ruang tumbuh bersama, bukan ruang tunduk


Dengan menelusuri perbedaan mendasar antara adab dan sistem feodal, artikel ini menunjukkan bahwa relasi santri dan kiai bukanlah bentuk penindasan atau paksaan, melainkan hubungan etis dan spiritual yang berakar pada penghormatan dan pencaria


Gaya hidup halal yang benar-benar dekolonial dan etis tidak akan diukur dengan label sertifikasi, melainkan oleh hubungan moral dan ekologis yang dipupuknya


Tayangan media kerap menimbulkan stigma negatif terhadap pesantren. Padahal, pesantren berperan penting membentuk akhlak, tradisi, dan karakter bangsa.


Melalui pendekatan hermeneutik dan etnosemiotika, tulisan ini membedah cara masyarakat menafsirkan pesantren, antara empati, kritik, dan bias modernitas, serta mengajak pesantren melakukan autokritik agar mampu berkomunikasi dengan dialek zaman tanpa kehilangan jiwanya


"Wahdatul wujud" dan "Mysterium Tremendum et Fascinans" menggambarkan hubungan manusia dengan Realitas Ilahi yang melampaui rasio, menghadirkan perasaan takut sekaligus kagum, serta kerinduan akan kesatuan dengan Yang Transenden. Meskipun berakar dari tradisi yang berbeda, keduanya memperlihatkan irisan mendalam dalam menggambarkan misteri Ketuhanan yang tak terjangkau namun mempesona.


Ibadah, dalam arti terdalamnya, tidak terbatas pada ritual, tetapi meluas ke semua tindakan yang berakar pada mengingat, hadir, dan keselarasan dengan kehendak ilahi.


Di dunia yang terobsesi dengan hal-hal luar biasa, ajaran Islam ini menawarkan wawasan yang membebaskan: kesakralan tidak tersembunyi dalam hal-hal luar biasa, tetapi terjalin dalam untaian rutinitas kehidupan sehari-hari yang biasa saja.

