Abdullah bin Ummi Maktum Sang “Lelaki Masjid”
“Wahai Rasulallah, saya lelaki buta, rumah jauh dari masjid, dan tak memiliki penuntun jalan yang layak. Apakah saya memiliki keringanan untuk tak salat di masjid?
“Wahai Rasulallah, saya lelaki buta, rumah jauh dari masjid, dan tak memiliki penuntun jalan yang layak. Apakah saya memiliki keringanan untuk tak salat di masjid?


Tabiat kolonialisme, kapan dan di mana pun sama, yaitu mengadu domba dan memecah belah kekuatan (devide et impera).


Dibanding kemaksiatan zahir di atas, sejatinya jauh lebih berbahaya lagi kemaksiatan batin. Karena kemaksiatan jenis ini yang tertanam dalam relung jiwa.


Kami, tim pengumpul doa kiai sepuh Tambakberas, juga berhasil menghimpun dalam berbagai jalur "perawi" atau penerima ijazah Hizib Nashar yang muaranya ke Kiai Wahab Chasbullah.


[Oleh Dr. KH Abdul Ghofur Maimoen] Mus’ab bin ‘Umair, Sahabat Nabi yang masih muda ini dikenal sangat modis. Pemuda Makkah yang perlente itu menjalani kehidupan yang di kemudian hari menjadi kiblat bagi para darwisy


Cinta kepada Rasulullah itu butuh pengorbanan. Bahkan, jika perlu harta benda pun dipertaruhkan. Cinta bukan sekadar kata-kata. Tapi, cinta butuh pembuktian dan pengorbanan.


Muhammad Said Ramadhan al-Būtī pernah ke Paris dan menyampaikan ceramah di salah satu masjid dengan topik yang sangat menyentuh; sebuah teman yang membangkitkan optimisme untuk berharap ampunan dan kasih sayang dari sang Mahasegalanya.


Al-Buti mengalami kebekuan intelektual dalam mengungkap makna terdalam dari kitab al-Hikam karya Ibn Atāillah


“Keutamaan dari orang yang berilmu sudah tidak asing lagi bagi siapa pun itu bahkan setan pun takut padanya meskipun ia dalam keadaan tertidur”


Iblis mampu bermain halus sekali dalam mempermainkan dan menyesatkan manusia agar keluar dari kefitrahannya.

