Mengenal Abu Talib Al-Makki Sanad Sufisme Al-Ghazali

sumber: islami.co

Membaca  Ihya Ulumiddin tidak hanya mengajak kita berkenalan dengan pelbagai pemikiran Al-Ghazali yang brilian dalam upaya menjembatani ilmu-amal atau fikih-tasawuf. Tetapi juga dengan beberapa ulama yang banyak dia jadikan rujukan. Popularitas beberapa diantaranya memang tidak setenar Al-Ghazali.

Namun, jika sang hujjatul Islam menjadikan mereka sebagai rujukan keilmuan, maka tentu kredibilitasnya tidak bisa diragukan. Salah seorang figur yang gagasannya sering dikutip Al-Ghazali adalah Syekh Abu Thalib Al Makki. Meski nama besarnya tidak setenar Hasan Al-Bashri, Junaid Al-Baghdadi dan para sufi agung lain, namun seringnya Al-Ghazali menyatat pandangan tasawuf Abu Thalib menunjukkan pengakuan akan kedalaman pemikirannya. Sebagai catatan, tidak kurang 13 kali nama Abu Thalib disebut Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin guna menyokong gagasan tasawufnya.

Konsepsi tasawuf Abu Thalib Al-Makki terutama tertuang dalam kitab Qutul Qulub fi Mu’amalatil Mahbub was Washfi Thariqil Murid ila Maqami Al-Tauhid. Kitab inilah yang Imam Ghazali jadikan sebagai salah satu rujukan utama dalam kitab Ihya’-nya. Abu Thalib Al-Makki lahir di Jibal. Satu daerah yang masih merupakan bagian dari Iran dewasa ini.

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ali bin Athiyah Al-Haritsi Al-Makki. Abu Thalib bukan etnis Arab (‘ajami). Hanya saja, karena tumbuh besar di Makkah, julukan Al-Makki melekat di belakang namanya. Sebagai seorang sufi reputasinya harum.

Imam Ibnu Katsir menyematkan beberapa atribut mulia saat membahas sosoknya. Juru dakwah (al-wa’idh), pengingat Allah (almudzakkir), asketis (azzahid), abid (almuta’abbid), dan sosok salih (Al-rajul al-salih). Syekh Al-Dzahabi menjulukinya sebagai guru para sufi (syaikhus shufiyah); pengakuan terhadap kemendalaman laku sufistiknya. Kitab Qutul Qulub adalah ensiklopedi yang sebanarnya tidak hanya memuat pemikirannya, melainkan juga laku sufismenya. Sebab, bila ditelusuri, kita bisa menemukan bahwa apa yang tersurat dalam karyanya adalah cerminan dari pola hidup bersahajanya sehari-hari.

Hal ini semakin menegaskan pandangan Al-Ghazali, bahwa para sufi bukan penguasa kata-kata. Mereka adalah praktisi yang menyelami laku esoteris serta mengalami langsung pengalaman spiritual (sahibul ahwal). Disiplin sufisme tidak dibangun diatas- meminjam ungkapan Ibnul Qayyim Al Jawziyah (Al-Fawaid, h.25)- kekuatan ilmiah teoretik (quwwah ilmiyah nadhariyah), melainkan lebih dominan pada sisi kekuatan praksis intensional (quwwah amaliyah iradiyah). 

Misalnya, saat membahas manfaat lapar (al-ju’) bagi para pengamal tasawuf, Abu Thalib sebetulnya sedang membagikan pengalaman olah jiwa (riyadhah) yang dijalankannya. Laku tirakat lapar Abu Thalib Al-Makki memang mayshur. Hal ini diceritakan oleh Ad-Dzahabi. Menurutnya, Abu Thalib lebih banyak berpuasa dan menahan lapar.

Hal ini selaras dengan salah satu pandangannya bahwa lapar adalah senjata utama melawan nafsu. Dia menulis: “mintalah kalian pertolongan untuk melawan nafsu dengan lapar dan salat malam(Qutul Qulub, 171). Citra Abu Thalib memiliki banyak kesamaan dengan Al-Ghazali. Keduanya dikagumi. Namun saat yang sama keduanya juga dihujat.

Terutama oleh sekelompok orang yang menilai beberapa pendapat keduanya kontroversial. Keidentikan keduanya dapat dipahami bila merujuk kepada betapa besarnya konsepsi tasawuf Al-Makki memengaruhi Al-Ghazali. Ada dua polemik yang terekam pernah muncul dari pemikiran Abu Thalib.

Polemik pertama, berkaitan dengan ungkapan pada majelis pengajian asuhannya di Baghdad. Menurutnya, ” di antara para makhluk, tidak ada yang lebih berbahaya dari Sang Pencipta”. Abu Thalib sendiri memang sempat tinggal di Baghdad. Bahkan di kota inilah reputasinya sebagai ahli sufi meluas. Majelisnya didatangi banyak jama’ah.

Ungkapannya itu sontak viral. Sebagian pihak merundungnya. Imbasnya, dia sempat mengalami pemboikotan. Polemik kedua berkaitan dengan pandangannya mengenai hukum mendengarkan nyanyian (sima’). Sebagaimana diikuti Al Ghazali, Abu Thalib membolehkan mendengarkan nyanyian. Terutama dalam rangka penemuan pengalaman spiritual (alwijdu).

Abdus Shomad bin Ali, pakar Hadits berkebangsaan Baghdad, pernah datang langsung dan menyalahkan pemikiran Abu Thalib ini. Mendengar disalahkan, Abu Thalib melantunkan sajak:
“duhai malam, lelahnya kamu. Duhai subuh, mudah-mudahan engkau tidak pernah mendekat”. Mendengar ini, Abdus Shomad marah. Lantas meninggalkannya.

Pada tahun 386 hijriyah, Syekh Abi Thalib wafat. Bertepatan dengan bulan Jumadil Akhir. Ada cerita masyhur yang muncul sebelum kewafatannya. Cerita ini sama-sama disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Al-bidayah wan nihayah (juz 11 h.366) serta Addzahabi dalam Siyaru a’lami al-nubala’ (juz 12 h. 469). Sumber keduanya juga sama, yaitu Syekh Abul Qasim bin Busyran.

Menurut cerita Abul Qasim, menjelang Abu Thalib wafat dia mengunjunginya. Saat itu, Abul Qasim bertanya barangkali ada pesan untuknya. Abu Thalib lalu berwasiat, jika akhir hidupnya baik, agar dia menebar badam dan gula ke arah jenazahnya. Abul Qasim heran, bagaimana cara mengetahui baik buruk akhir kematiannya.

Mengetahui kebingungan sang sahabat, Abu Thalib memberinya panduan. Yaitu, jika kematiannya tiba, dia meminta tangannya dipegang. Jika saat itu, pegangannya erat, itu pertanda akhir kematiannya baik. Saat menjelang wafat, genggaman tangan Abu Thalib ternyata kuat. Karena itu, Abul Qasim lalu menjalankan wasiat tersebut. Wallahua’lam bis showab (mmsm)

0
Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.