Hasan Mahfudh Santri PP Qomaruddin Gresik, editor Jurnal Mutawatir. Dapat disapa melalui twitter @mahfudhsahin

Mustahil Aisyah Diremehkan

2 min read

Sempurna rembulan pagi seketika ambyar. Pandanganku sedikit buyar. Harusnya aku bisa lebih menikmati utuh indah bulan Nisfu Sya’ban. Entahlah, memoriku sekarang mulai menari kencang sekali. Seperti tarian Jalaluddin Rumi yang pernah kulihat pada malam inagurasi. Mataku berkaca, tak terasa pipiku basah:

Mana anakmu abi..? Tegas sekali tanya putri remaja itu. Belum juga dijawab. Halaman ia tuju, berlari tanda terburu-buru. Satu persatu ia perhatikan. Detail sungguh, matanya tegas seperti peluru. Aneh, kenapa gak satupun menyapaku? gumamnya. Hari itu benar-benar kelabu. Awan tak lagi membiru. Gelegar takbir sepulang dari badar, sama sekali tak terdengar. Kali ini semua membisu, menunduk letih lesu.

Tak lama lagi matahari undur diri, tapi remaja ini masih tegap berdiri. Sesekali tangannya mengaduh, kakinya bersimpuh, Ya Rabbi, Selamatkanlah Hambamu!.

Putriku, kemarilah..!, landai betul suara itu. Tidak mungkin suara itu keluar dari mulut abiku, pikir remaja itu. Pelukan yang menghujam tak menggoyahkan rasa sangsinya. Putriku, aku Umar.. bapakmu”. Pelan-pelan sangsinya mengurai. Sontak saja ia membalik badannya, terbebas dari jerat peluk bapaknya. Tak sama, sungguh tak biasa!

Suami nggak kenapa-napa kan, bi?, kali ini tanyanya lirih, tipis seperti daun sirih. Sebentar lagi datang kan? Kita menang kan?. Merintih tak henti-henti. “Abi…….” tiba-tiba tangisnya pecah bergemuruh. Helai jubah berbintik darah Khunais yang ia lihat membuatnya semakin pilu. Maafkan bapakmu nak, suamimu tak terjaga, tombak amarah kafir Quraisy menghujam dadanya, ia tenang bersama syuhada, bukit uhud peluk erat jiwanya, putriku.. aku harap kau ikhlas melepasnya.

Berhari-hari ia mengurung diri. Berbaring di kamar sendiri, khas remaja usia dini. Waktu itu ia masih cukup muda, 18 tahun tak lebih. Ia pasti punya seribu satu rencana, tapi seketika hambar begitu menjanda. Kasihan Umar melihatnya, hingga akhirnya Nabi menyelamatkan masa depannya.

Baca Juga  Makna Hakiki Hijab Perempuan

Hafsah binti Umar bin Kattab namanya, seorang putri remaja yang kelak jadi istri nabi. Sosok teguh pemberani. Cerdas, berbudi bekerti. Sedikit banyak karakter bapaknya ia warisi. Bukan hanya pandai menjaga hati, tapi cerdas menyimpan kalam ilahi. Alquran yang kita nikmati, tak lepas dari dari usahanya pasti.

Cerita Hafsah inilah yang menggelinding di ingatan ketika kritik Ustaz Ahmad Z. El-Hamdi mendayu-dayu. Catatan yang ditulis dalam situs arrahim.id dengan judul “Khadijah Memang Luar Biasa, Tapi Tak Usah meremehkan Aisyah” perlu betul-betul diamati. Benar, kesan kotak-kotak pro-Aisyah dan Khadijah seolah mengemuka. Terlebih jika melihat beberapa nyanyian baru yang tentu jelas-jelas hendak menandingi lagu Aisyah. Sedikit tampak latah memang, apalagi sekelas Tasya Nurmala, bahkan Via Vallen turun tangan terjun mencover lagu tersebut. Untung saja aransemennya tidak koplo, plusnya berhijab lagi. Sebuah tanda Ramadhan sebentar lagi datang.

Mungkin pula ada kekhawatiran, atas distorsi peran Aisyah. Lihat saja bagaimana Buya Yahya keberatan dan menggerutu. Aktivis feminis tentu gundah gulana, bagaimana tidak, sisi romantisme cenderung sensual begitu menonjol mengalahkan intelektualitasnya. Hingga Kesannya jadi kurang utuh. Pantas saja komandan KUPI, Nur Rofiah semangat mengembalikan sisi kritisme Aisyah, “Aisyah dan Sikap Kritis dalam Beragama” yang juga terbit di arrahim.id.

Membaca sirah semestinya bukan hanya terpaku pada ceritanya saja. Cerita-cerita inaguratif yang sengaja saya hadirkan setulusnya hendak membawa hati pembaca pada sisi kepahlawanan istri-istri rasul. Bukan hanya sekadar pendamping rumah tangga, sayang-sayangan, duduk manis di istana bak ratu ala cerita raja film India. Posisi domestik ini bukan tidak penting, bahkan sangat penting. Namun selebihnya beban dan tugas sosial budayanya sangat teramat berat. Memutuskan menikah dengan nabi berarti ia telah mewakafkan hati dan jiwanya, berjihad dan berdakwah. Posisinya mulia, berbeda dengan istri manusia pada umumnya. Begitu titah al-Qur’annya.

Baca Juga  Pandangan Fatima Mernissi terhadap Peran Politik Khadijah dan Aisyah di Masa Awal Islam

Pesan inilah yang tampaknya sedikit luput dibaca ustaz kawakan sekaliber Ustaz El-Hamdi. Ia masih terjebak pada perdebatan tentang jiwa kedewasaan dan kekanak-kanakan istri yang dibutuhkan oleh seorang suami. Khas anak milennial gen-z. Mungkin Sang Ustaz baper. Terlalu intim dengan kerja dari rumah. Sebagai ustaz, tentu tidak mudah, empat minggu nggak ceramah. Sungguh dapat dipahami.

Tidak sedikitpun ada maksud berkubu atau bahkan meremehkan Aisyah. Sosok pendekar hadis yang tanpanya 2.210 hadis tidak akan sampai pada kita. Mustahil aku melupakannya, mustahil pula aku melupakan Hafsah, apalagi Khadijah. Mereka, juga istri nabi lainnya sangat mulia, heroik, romantis, dan kita semuanya punya hutang rasa padanya. Tak perlu ada kubu karena perempuan sama sekali nggak suka disbanding-bandingkan.

Ya Nisa’an Nabi Lastunna Kaahadin Minan Nisa’, Inittaqautunna fala takhda`na bil qauli fayathma’aalladzi fi qalbihi maradhun wa Qulna Qaulan Ma`rufa …

Merdu sekali bayyati istri….

Diam-diam mengamati sambil mengaji..

Segera saja kuakhiri…

Salam terkasih untuk Ustaz El-Hamdi… [MZ]

Hasan Mahfudh Santri PP Qomaruddin Gresik, editor Jurnal Mutawatir. Dapat disapa melalui twitter @mahfudhsahin

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *