Makhfud Syawaludin Dosen ITSNU Pasuruan

KH. Muhaimin Aruqot dan Pribumisasi Islam dalam Tradisi Sholawat Asrokol Jowo

1 min read

Ketika mendengar bahwa KH. Muhaimin Aruqot─salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Muta’alimin Muta’alimat, Kedungcangring, Sidoarjo telah berpulang (9/1/2021)─selain bersedih dan merasa kehilangan, kenangan terdalam penulis adalah tentang suaranya ketika memimpin pembacaan Sholawat Asrokol Jowo. Meneduhkan dan, setidaknya bagi saya, tidak ada duanya.

Terlepas dari kesedihan dan kenangan itu, beliau tentu sangat berbahagia dengan sebenar-benarnya, yakni menyusul kehidupan barunya dalam dimensi yang sama dengan ayahnya, KH. Achmad Aruqot, seorang seniman yang menciptakan lirik lagu tembang sholawat klasik Jawa di Kedungcangkring. Lalu kakeknya, KH. Bakri, yang juga merupakan salah satu prajurit Pangeran Diponegoro. Tentu saja, juga dalam dimensi kehidupan yang sama dengan Baginda Rasulullah, Nabi Muhammad SAW. Alfatihah. Amin.

Dalam penuturan Mohamad Munip, ketua takmir langgar Dusun Kawatan, Kedungcangkring yang tidak lain adalah ayah penulis, Man Haimin─sapaan akrab dari KH. Muhaimin Aruqot─merupakan seorang kiai yang juga hafal Barzanji, hafal semua lagu langgam Jawa dalam pembacaan “sholawat Asroqol Jowo” serta istiqomah menghadiri dan memimpin tradisi tersebut selama bulan maulid.

Berbeda dengan tradisi Maulidan Jawiyan di Kudus yang hanya dilaksanakan pada setiap malam 12 Maulid (Rabiul Awal), tradisi Sholawat Asrokol Jowo di Kedungcangkring, Sidoarjo dilaksanakan sejak tanggal 7 bulan maulid. Pelaksanaannya secara bergiliran di langgar-langgar dusun dalam setiap malam, mulai pukul 19.30 WIB hingga 00.00 WIB. Hanya pada tanggal 12, pelaksanaannya di Masjid Desa mulai pukul 07.00 WIB hingga 14.00 WIB. Selanjutnya, pelaksaannya tetap di malam hari. Terkait lagu sholawat dengan langgam Jawa, bisa saja ada persamaan dan perbedaan antara di Kudus, Kedungcangkring, dan daerah-daerah yang lain.

Kaitannya dengan Tradisi Sholawat Asrokol Jowo tersebut, saya jadi teringat tentang Pribumisasi Islam yang menurut KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur; bahwa ketika terjadi akomodasi budaya dalam agama atau sebaliknya yang berjalan secara alami, berarti telah terjadi sebuah proses pribumisasi Islam.

Baca Juga  KH. Mansur: Kiai Pendekar dan Guru KH Hasyim Asy'ari [Bagian 1]

Proses tersebut tidaklah untuk menghindari polarisasi antara agama dan budaya, bukan juga karena khawatir akan terjadinya ketegangan diantara keduanya, apalagi hanya untuk menghindari terjadinya perlawanan budaya setempat terhadap agama. Sejatinya, konsep pribumisasi Islam ingin meneguhkan bahwa “Tumpang tindih antara agama dan budaya akan terjadi terus-menerus sebagai suatu proses yang akan memperkaya kehidupan dan membuatnya tidak gersang.” (Abdurrahman Wahid: 2001).

Akhirnya, hingga saat ini, kita semua tetap bisa melanjutkan, menyaksikan, menikmati, hingga mempelajari berbagai bentuk tradisi dari ritual dan/atau perayaan dalam Islam, khususnya dalam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang berawal dari perintah Allah SWT untuk membacakan sholawat kepadanya, bentuk ungkapan rasa syukur, pernyataan cinta hingga meneladaninya, telah terbentuk berbagai tradisi ritual dan/atau perayaannya. Sebut saja, tradisi pembacaan Sholawat Asrokol Jowo di Desa Kedungcangkring Kecamatan Jabon Kabupaten Sidoarjo tersebut. [AA]

Makhfud Syawaludin
Makhfud Syawaludin Dosen ITSNU Pasuruan