Mubaidi Sulaiman Alumni Ponpes Salafiyah Bandar Kidul Kota Kediri, Peneliti Studi Islam IAIN Kediri-UIN Sunan Ampel Surabaya

Hilangnya “Seni” dalam Integralisme Islam-Sains

3 min read

sumber: superadventure.co.id

Setelah terjadi dialog panjang pemikiran Agama dan Sains yang di awali oleh  Gunawan Moehammad yang berada di pihak agama, kemudian direspon A. S Laksana (Sulak) yang berada di pihak sains, akhirnya Gunawan Moehammad memberikan feedback dan beberapa bantahannya atas argumentasi yang Sulak lancarkan.

Gunawan dalam menulis bantahannya atas tuduhan Sastarawan Sulak  memberikan catatan atas pendapat Sulak yang dianggapnya telah salah memahami apa yang telah disampaikan oleh dirinya.

Beberapa catatan diantaranya yaitu dalam memahami Gunawan Moehammad, Sulak salah dalam menafsirkan atas diksi yang dipilih oleh Gunawan Moehammad, seperti kutipan Gunawan Moehammad atas pendapat Whitehead dan beberapa tokoh yang lainnya, yang menjadi dalil Gunawan Muhammmad dalam mengebiri peran sains di masa yang akan mendatang.

Namun ada catatan menarik bagi saya bahwa Gunawan Moehammad, dengan ragu-ragu bahwa “ada entitas yang hilang” dari perdebatan antara agama dan sains  sebagai satu-satunya “cara pandang” manusia di masa yang akan datang yaitu “seni”. Gunawan Moehammad bukan bermaksud mengecilkan peran sains di masa yang akan datang, dan mengunggulkan agama, tetapi kontribusi keduanya akan terasa hambar sebagai “cara pandang” manusia di masa mendatang apabila menganggap agama akan tergusur oleh sains sebagai “cara pandang” manusia dalam melihat persoalan kehidupan ini.

Selain itu –dengan ragu- Gunawan Moehammad menyebutkan tanpa unsur “seni” sebagai pendukungnya agama dan sains akan terasa ada “lubang” yang memisahkan keduanya di masa yang akan datang –jika boleh menambahkan unsur spiritualitas pun menjadi unsur integrasi yang tidak boleh diabaikan-.

Dari tulisan Gunawan Moehammad tersebut saya teringat penelitian yang saya lakukan pada tahun 2012 hingga 2013 yang lalu –skripsi di STAIN (sekarang IAIN) Kediri yang menggunakan pendekatan “fenomenologi Edmund Husserl” –  berjudul “Integrasi Antara Agama, Filsafat dan Seni Dalam Ajaran Tari Tradisional di Lembaga Seni dan Budaya Lung Ayu Kabupaten Jombang”. http://etheses.iainkediri.ac.id/575/

Baca Juga  Matahari dan Gua: Alegori Pemahaman dan Empati

Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa  sinergi Agama, Seni dan Filsafat (Jawa), bukan hanya menghasilkan sebuah pembelajaran seni semata, tetapi juga memperkaya “cara pandang” seseorang dalam menghadapi pluralitas unsur pembentuk kehidupan modern –ajaran agama, cara merasakan “rasa” ala seni dan corak berpikir filsafat Jawa- yang terhegemoni oleh grand narrative, formalisme ajaran agama (Islam) –yang cenderung meng-haram-kan seni terutama seni Jawa yang dianggap penuh dengan unsur kesyirikan- dan filsafat Barat yang melahirkan sains dan teknologi modern.

Dalam penelitian tersebut, saya menggunakan paradigma “idealita muslim modern” yang di gagas oleh “Armahedi Mazhar” dalam bukunya yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia  berjudul Revolusi Integralisme Islam. Secara sederhana, “Integralisme Islam” adalah sebuah pendekatan yang mengikutsertakan semua kebenaran yang penting dari beragam disiplin keilmuan.

Dalam paradigma integralisme memegang teguh prinsip menghormati dan kerja-sama ilmu pengetahuan beragam menjadi wawasan kemenyeluruhan dalam memandang sesuatu: baik sains, teknologi, seni, budaya maupun persoalan agama. Integralisme melihat semua sesuatu sebagai keterpaduan yang tidak bisa dipecah atau dipisahkan dari realitas kehidupan manusia modern. Ilmu pengetahuan/sains dalam pengertian modern adalah pengembangan dari filsafat alam yang merupakan bagian dari filsafat yang menyeluruh dalam khazanah keilmuan Yunani.

Namun filsafat Yunani terlalu deduktif, yang berdasarkan pada pemikiran spekulatif. Karena itu perlu dilengkapi oleh pengamatan empiris sebagaimana yang telah diperintahkan dalam Al-Qur’an. Karena itu menurut Mahzar sains dan agama tidak bertentangan. Hal ini bisa ditinjau dari catatan sejarah peradaban umat Islam di mana banyak ilmuwan-ilmuwan muslim yang mampu mengembangkan sains dengan sangat pesat.

Di tangan para ilmuwan muslim sains memperoleh karakternya yang rasional dan obyektif selama gelombang pertama peradaban Islam. Akan tetapi rasional sains tidak dapat terlepas dari rasional religius. Teologi, filsafat, dan sains merupakan kesatuan yang integral, Armahedi mahzar.

Baca Juga  Kegagalan Substantif Pembangkit Listrik Tenaga Sampah sebagai Solusi Mengatasi Masalah Sampah

Sains  yang melandaskan paradigmanya kepada hal-hal yang bersifat eksperimental memperkaya metodologi dalam mengkaji agama Islam.  Dengan demikian, di tangan ilmuan muslim, sains memperoleh karakternya yang rasional obyektif selama gelombang pertama peradaban Islam. Namun perlu dicatat bahwa rasionalitas sains tak bisa dilepaskan dari rasionalitas religius karena teologi, filsafat dan sains merupakan kesatuan integral.

Dalam membicarakan integralisme Islam, setidaknya ada tiga prinsip mendasar yangmenjadi obat bagi  patologi sains-sains khas postmodernisme. Tiga prinsip tersebut antara lain: “kesatupaduan realitas, hirarki realitas dan Tuhan sebagai sumber kebenaran”. Ketiga prinsip ini menurut Mahzar menjadi solusi bagi kerancuan corak berpikir postmodernisme yang memiliki kecenderungan dekontruktif dan relativis-radikal.

Pandangan Mahzar tentang agama dan sains dilihat dari perspektif Al-Qur’an dan Hadist yang memiliki sumber spiritualitas muslim sebagai sumber Ilmu pengetahuan yang utama bagi umat Islam menyeimbangkan antara agama, sains dan spiritualitas masyarakat muslim modern.

Dari paparan di atas ketika menengok kepada realitas pendidikan PTKI hari ini, adalah suatu “ironi” yang dirasakan oleh masyarakat muslim pada umumnya dalam mengimplementasian  integralisme Islam dan sains. Yaitu tidak adanya jurusan yang khusus mengkaji “Seni”,  meskipun di PTKI sudah banyak yang mendirikan fakultas Adab, Dakwah, Syariah, Ushuludin bahkan Sains dan Teknologi dalam upayanya memujudkan integralisme Islam dan sains.

Unsur seni bagi Mazhar adalah sesuatu yang penting dalam menjembatani keduanya –bahkan di universitas-universitas umum jurusan seni diintegrasikan dalam satu rumpun sains, contohnya Institut Teknologi Bandung yang memiliki fakultas seni rupa dan design-. Bisakah kita bayangkan bahwa para sarjana Muslim yang ahli agama dan teknologi tetapi miskin “kreatifitas”, “ekstetika”, dan “imajinasi” dalam setiap karyanya.

Padahal pada zaman dahulu banyak sekali cendikiawan-cendikiawan muslim selain pandai dalam Ilmu Agama dan sains di zamannya tetapi juga menguasai seni di zamannya. Semisal Abu Bakar Ar-Razi –terlepas dari pendapatnya tentang kenabian yang kontroversial-  selain menguasai ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu  ushul, ia juga mengajarkan kepada muridnya seni musik, sebagai salah satu terapi kesehatan mental. Lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya, kapan PTKI akan menyadari kehilangan ini?[AH].

Mubaidi Sulaiman Alumni Ponpes Salafiyah Bandar Kidul Kota Kediri, Peneliti Studi Islam IAIN Kediri-UIN Sunan Ampel Surabaya