






Khutbah Jumat kali ini ini mengajak kita merenungkan kembali tanggung jawab setiap Muslim dalam menjalankan amar makruf nahi mungkar. Membiarkan kemungkaran dan kezaliman bukanlah sikap yang dapat dianggap sepele, sebab sikap abai dapat membuat keburukan terus tumbuh dan dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Melalui khutbah ini, kita diajak memahami pentingnya keberanian untuk menegakkan kebaikan, mengingatkan […]

Di tengah derasnya arus media sosial, seorang muslim perlu bijak memilih aktivitas yang bermanfaat. Khutbah Jumat ini mengajak kita merenungkan hadis Nabi tentang pentingnya meninggalkan hal yang tidak berarti dan mengisi waktu dengan kebaikan. اَلْحَمْدُ لِلّهِ، نَحْمَدُكَ اللَّهُمَّ عَلَى مَا هَدَيْتَنَا لِطَرِيْقِكَ القَوِبْمِ وَفَقَّهْتَنَا فِي دِيْنِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، نُصَلِّى وَنُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الـمُصْطَفَى، وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ […]

Menjaga lingkungan bukan sekadar kepedulian sosial, tetapi bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi. Ketika alam rusak, kita semua turut merasakan akibatnya.

Ketika masalah datang dan semua jalan terasa buntu, kepada siapa kita mengadu? Khutbah Jumat ini mengajak kita mengingat kembali bahwa Allah selalu dekat, mendengar doa, dan membuka pintu rahmat bagi hamba-Nya.

Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang penuh dengan kegelisahan dan ketidakpastian. Namun, Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh membiarkan dirinya larut dalam kekhawatiran. Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi kondisi sulit yang kita hadapi? Marilah kita renungkan bersama melalui khutbah Jumat kali ini. Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang […]

Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, memiliki aset besar dalam pengembangan kepribadian, seperti rasa hormat dan tawadhu santri terhadap kiai, hidup sederhana, hemat, mandiri serta leburnya individualisme dan egoisme pribadi.

Memahami pengalaman perempuan, baik secara biologis maupun secara sosial menjadi modal tercapainya konsep keadilan perempuan hakiki agar dapat melindungi perempuan dari kekerasan dan marginalisasi.
![[Resensi] “Nalar Kritis Muslimah”, Upaya Memahami Pengalaman Perempuan](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/10/unnamed-1-645x510.jpg)
Ia tersenyum, kemudian membayangkan wajah-wajah perempuan cantik di beranda Facebook. Wajah-wajah perempuan yang tak pernah dilihatnya dalam wujud nyata.

Praktik diskirimasi agama telah ia rasakan sendiri ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia kerap kali dicibir karena kepercayaan Sunda Wiwitan yang ia anut

Selain bersandar pada Islam, gerakan menentang kapitalisme yang cenderung menindas dan tidak memihak pada buruh kecil versi Tjokrominoto ditopang oleh tiga hal: kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan.

Tentu kita tahu betul bahwa ada peristiwa yang tidak menyenangkan dalam catatan sejarah antara umat Islam dan Kristiani. Namun, menyimpan cerita lama tanpa membuka diri untuk membangun cerita baru justru tidak akan mampu mewujudkan perdamaian yang sesungguhnya.

Meski banyak berpolemik, KH. Abdul Hamid Sulaiman sangat terkenal dari sudut bidang keilmuan, kegigihan, dan kekonsistenanya. KH. Abdul Hamid Sulaiman pernah dipercaya menjadi Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Riau (UIR) di Bangkinang Kampar tahun 1958.

Dalam konteks masa kini, sikap moderat dalam beragama merupakan sikap penting yang harus dimiliki oleh golongan milenial.

Pondok pesantren yang memadai dapat menjadi salah satu prasarana untuk mencegah kekerasan seksual. Demikian halnya keamanan, tentunya tidak hanya memfasilitasi dalam bentuk fisik, namun juga mekanisme agar aman dan nyaman untuk mengikuti proses pendidikan.

Yang terpenting bagi mereka adalah ketenangan dalam berkomunikasi dengan Tuhan. Ada ustad yang membimbing mereka mengenal agama.
