






Khutbah Jumat kali ini ini mengajak kita merenungkan kembali tanggung jawab setiap Muslim dalam menjalankan amar makruf nahi mungkar. Membiarkan kemungkaran dan kezaliman bukanlah sikap yang dapat dianggap sepele, sebab sikap abai dapat membuat keburukan terus tumbuh dan dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Melalui khutbah ini, kita diajak memahami pentingnya keberanian untuk menegakkan kebaikan, mengingatkan […]

Di tengah derasnya arus media sosial, seorang muslim perlu bijak memilih aktivitas yang bermanfaat. Khutbah Jumat ini mengajak kita merenungkan hadis Nabi tentang pentingnya meninggalkan hal yang tidak berarti dan mengisi waktu dengan kebaikan. اَلْحَمْدُ لِلّهِ، نَحْمَدُكَ اللَّهُمَّ عَلَى مَا هَدَيْتَنَا لِطَرِيْقِكَ القَوِبْمِ وَفَقَّهْتَنَا فِي دِيْنِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، نُصَلِّى وَنُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الـمُصْطَفَى، وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ […]

Menjaga lingkungan bukan sekadar kepedulian sosial, tetapi bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi. Ketika alam rusak, kita semua turut merasakan akibatnya.

Ketika masalah datang dan semua jalan terasa buntu, kepada siapa kita mengadu? Khutbah Jumat ini mengajak kita mengingat kembali bahwa Allah selalu dekat, mendengar doa, dan membuka pintu rahmat bagi hamba-Nya.

Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang penuh dengan kegelisahan dan ketidakpastian. Namun, Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh membiarkan dirinya larut dalam kekhawatiran. Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi kondisi sulit yang kita hadapi? Marilah kita renungkan bersama melalui khutbah Jumat kali ini. Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang […]

Di era informasi digital seperti saat ini, tidak hanya bahaya lisan, namun agaknya jari-jari pun tidak kalah berbahaya (aafaatul ashaabi’).
![[Ngaji Ihya’] “Ngeyel”: Bahaya Lisan dan Patologi Sosial](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/IMG_20200706_121102_956-825x510.jpg)
Nur Khalik Ridwan, melalui karya monumentalnya ini, memberikan terobosan historis dalam melihat Wahhabi sebagai sebuah ideologi Islamisme, paham keagamaan, dan lainnya.
![[Resensi Buku] Memotret Wajah Wahhabi yang Sebenarnya](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/images-5.jpeg)
Saat seseorang memutuskan berpindah agama, kontestasi kosakata hidayah dan murtad selalu mengitari dinamika perjalanan spiritual (baca: agama) seseorang.

Hidayah ilahiyah bagaimanapun murni merupakan kehendak Sang Maha Pemberi Hidayah itu sendiri, Allah. Tidak ada jaminan bagi pencari hidayah Tuhan akan kepastian untuk menggapainya.

Hidup adalah kumpulan detik-detik waktu yang harus kita gunakan dengan sebaik-baiknya.

Niat itu penting dan niat baik dicatat sebagai kebaikan meski baru sampai niat, karena niat tidak ada riya’-nya. Berbeda dengan amal, yang sedikit banyak tercampur dengan riya’

Kebanyakan mereka, para santri lawas, yang baru boyong itu mengawali dakwah dengan dakwah “bi al-hāl”, yakni membaur dengan masyarakat dengan “akhlakul karimah”, alih-alih dakwah dengan ilmiah dan ceramah.

Kekuatan lain buku ini adalah kecermelangan penulisnya untuk mengupas persoalaan pendidikan multikultural beserta beragam problemnya dari berbagai tema serta sudut pandang berspektrum sangat luas.
![[Resensi Buku] Mengembangkan Pendidikan Multikultural untuk Demokrasi dan Keadilan Sosial](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/Untitled-design-7-825x510.png)
Saatnya milenial mengambil posisi memoderasi narasi-narasi radikal. Narasi moderat sangat perlu digalakkan lagi. Bukan hanya menyindir dan membela saja, melainkan konten-konten alternatif yang tidak saling memojokkan perlu diproduksi dengan masif.

Buku ini menghidangkan sejarah kehidupan, pemikiran, dan perjuangan seorang Hamka secara sempurna, utuh dan apa adanya.
![[Resensi Buku] Hamka Pun Belajar kepada Rasulullah](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/buya-hamka33-825x510.jpg)