









Khutbah Jumat kali ini ini mengajak kita merenungkan kembali tanggung jawab setiap Muslim dalam menjalankan amar makruf nahi mungkar. Membiarkan kemungkaran dan kezaliman bukanlah sikap yang dapat dianggap sepele, sebab sikap abai dapat membuat keburukan terus tumbuh dan dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Melalui khutbah ini, kita diajak memahami pentingnya keberanian untuk menegakkan kebaikan, mengingatkan […]

Di tengah derasnya arus media sosial, seorang muslim perlu bijak memilih aktivitas yang bermanfaat. Khutbah Jumat ini mengajak kita merenungkan hadis Nabi tentang pentingnya meninggalkan hal yang tidak berarti dan mengisi waktu dengan kebaikan. اَلْحَمْدُ لِلّهِ، نَحْمَدُكَ اللَّهُمَّ عَلَى مَا هَدَيْتَنَا لِطَرِيْقِكَ القَوِبْمِ وَفَقَّهْتَنَا فِي دِيْنِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، نُصَلِّى وَنُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الـمُصْطَفَى، وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ […]

Menjaga lingkungan bukan sekadar kepedulian sosial, tetapi bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi. Ketika alam rusak, kita semua turut merasakan akibatnya.

Ketika masalah datang dan semua jalan terasa buntu, kepada siapa kita mengadu? Khutbah Jumat ini mengajak kita mengingat kembali bahwa Allah selalu dekat, mendengar doa, dan membuka pintu rahmat bagi hamba-Nya.

Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang penuh dengan kegelisahan dan ketidakpastian. Namun, Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh membiarkan dirinya larut dalam kekhawatiran. Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi kondisi sulit yang kita hadapi? Marilah kita renungkan bersama melalui khutbah Jumat kali ini. Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang […]

Agama, sebagaimana sains, juga memiliki kelemahan, at least dalam implementasi praksisnya. Kesadaran ini penting agar kita tidak mudah menuhankan satu kebenaran dan men-setan-kan kebenaran yang lain.

Ibnu Taimiyyah selalu menegaskan kewajiban mengutamakan syariat dalam mentradisikan praktik sufistik.
![Ibnu Taimiyyah, Pemikiran Sufistiknya “Jarang” Diakui oleh Pengagumnya [Bag 2]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/06/9990213.png)
Koordinator Peneliti PPIM UIN Jakarta, Arif Subhan, menuturkan, hasil penelitiannya tidak berarti menggeneralisir bahwa Homeschooling radikal, tetapi berpotensi menyuburkan paham radikalisme.

Harapan terhadap kematian mereka ini merupakan bentuk dari kerinduan kepada Allah, atau keprihatinan terhadap nasib mereka di dunia, apakah akan memperoleh akhir yang baik.
![Dhikr al-Mawt [3]: Mengingat Kematian](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/04/near-death-experience-tunnels-and-spirits-825x510.jpg)
Ovamir Anjum berpendapat bahwa Ibnu Taimiyyah mendukung tasawuf tanpa mistisisme. Baginya, Ibnu Taimiyyah ingin memulihkan tradisi tasawuf yang paling awal dan autentik yang didasarkan pada al-Qur’ān dan Sunnah.
![Ibnu Taimiyyah, Pemikiran Sufistiknya “Jarang” Diakui oleh Pengagumnya [Bag 1]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/06/9990213.png)
Yang lebih berperan dalam filsafat adalah kekuatan argumentasi. Justru karena filsafat tidak dibatasi oleh metode, maka ia dapat melahirkan metode-metode refleksi yang baru, misalnya fenomenologi, kritisisme (Kant) atau dialektika. Metode-metode ini kemudian sering dipinjam oleh sains.
![Garis Pemisah antara Sains dan Filsafat dan Kematian Metafisika [Bag 2]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/06/science_philosophy.jpg)
Dalam gadai ada barang yang kita jaminkan, sehingga saat terjadi sesuatu hal dengan kita yang tidak dapat membayar utang, maka pemberi pinjaman bisa menjual barang jaminan tersebut untuk menyelesaikan utang kita kepada pemberi pinjaman.

Saya pernah menggunakan pil haid saat umrah dulu dan dampaknya terjadi perdarahan serta haid menjadi tidak teratur selama enam bulan lebih. Tahun depan, saya akan menunaikan ibadah haji. Saya khawatir jika sampai batas waktu pulang masih haid. Bagaimana solusi hukumnya?

Wahabi itu mengajak anti-mazhab empat tapi mengajak ikut mazhab versi mereka, yakni pola pikir dan ideologi Wahabi. Mengaku anti-mazhab namun hakikatnya mereka juga bermazhab.

Saya merasa dan menyadari adanya penurunan atau pembelokan arah atas upaya Gus Dur dalam membangun persamaan substantif antara laki-laki dan perempuan di Indonesia. Usai penelusuran ini, saya mengajak diri saya untuk merefleksikan diri apakah warisan Gus Dur di atas masih relevan dan berharga untuk terus kita perjuangkan? Ataukah akan kita biarkan warisan ini digerogoti oleh nilai-nilai yang selama ini Gus Dur lawan?
