Dian Puspitasari, S.H Staff Sekretariat Nasional Forum Pengada Layanan (FPL)

Mengenali Bentuk Qobla Al Dhukul Dalam Perkawinan Pengalaman Perempuan Korban Pemaksaan Perkawinan

2 min read

Tulisan ini berawal dari pengalaman penulis dalam menangani beberapa kasus, pemaksaan perkawinan maupun kekerasan dalam rumah tangga yang mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama. Dari beberapa kasus yang ditangani tersebut ada yang sudah berhubungan seksual (Ba’da Al dhukul), namun ada juga yang tetap bertahan hingga tidak terjadi hubungan suami-istri hingga pengajuan percerian tersebut diajukan (Qobla al dhukul).

Istilah qobla al dhukul dan Ba’da al dhukul muncul di Kompilasi Hukum Islam. Meskipun tidak ada pengertian didalamnya. Qobla al dhukul adalah istilah percerian bagi pasangan suami istri yang belum berhubungan seksual. Ba’da al dhukul adalah istilah percerian bagi pasangan suami-istri yang telah berhubungan seksual.

Penulis akan berbagi 3 pengalaman perempuan untuk memberikan gambaran atau situasi qobla al dhukul yang dialami perempuan

Kasus yang pertama dialami oleh A yang terpaksa menikah untuk memberikan status pada anak yang dilahirkan sebelum perkawinan. Kasus kedua dialami oleh AL yang menjalani perkawinan selama kurang lebih 2 (dua) tahun tanpa adanya persetubuhan dengan suaminya. Kasus yang ketiga dialami oleh NW yang menikah selama kurang lebih 5 tahun. Belum pernah terjadi hubungan seksual /penetrasi namun sudah terjadi aktivitas seksual.

Kasus pertama ini terjadi pada tahun 2010. A merupakan korban kekerasan dalam pacarana yang dilakukan oleh pacarnya. A hamil namun pacarnya saat itu tidak mau menikahi. Karena takut akan dilaporkan ke polisi, pacarnya A bersedia menikah dengan A. Setelah menikah A dan suaminya kembali kepada orang tuanya masing-masing dan tidak pernah ada komunikasi. Hingga A melahirkan seorang anak, dan seluruh biaya persalinan dan biaya hidup A dan anaknya ditanggung oleh orang tuanya A.

Setelah 2 (Dua) tahun suaminya mengajukan permohonan cerai talak ke Pengadilan Agama Semarang. Salah satu dalil yang disampaikan oleh suaminya/posita dalam permohonan cerai talak adalah selama perkawinan belum pernah terjadi hubungan seksual “Qobla Al Dhukul”. Pengadilan Agama dalam putusannya juga mengabulkan permohonan percerian tanpa terjadi hubungan suami-istri (Qobla Al Dhukul).

Baca Juga  Kesetaraan Gender dan Sejarah Kepemimpinan Perempuan di Jawa

Percerian Qobla Al Dhukul menyebabkan hak A sebagai mantan istri dan anak tidak dikabulkan oleh majelis hakim. Akhirnya A mengajukan banding. Pada saat itu ini menjadi kasus yang jarang terjadi. Selama proses banding kami bersama jaringan melakukan dialog dengan Pengadilan Tinggi Agama terkait situasi perempuan dan kekerasasn yang dialami oleh perempuan. Putusan pengadilan Tinggi Agama akhirnya mengabulkan sebagian hak A yakni, nafkah muttah dan nafkah anak. Sementara nafkah Iddah dan Nafkah terutang (Biaya persalinan dll) tidak dikabulkan.

Kasus kedua 2016 dialami AI. Pada tahun 2016 yang mengajukan gugat cerai salah satu alasannya adalah karena perkawinannya dipaksakan, bukan atas keinginannya sendiri.  AI sudah berusaha untuk mengindari perkawinan hingga pada saat pengucapan ijab-Qobul. Tetapi karena teringat kata-kata orang tuanya yang akan melakukan upaya bunuh diri, maka AI terpaksa menikah. Selama perkawinan AI berusaha berbagai cara untuk menghindari hubungan seksual dengan suaminya hingga berjalan 2 tahun. Karena merasa kasihan dengan anak dan menantunya orang tua AI menyetujui rencana AI untuk mengajukan percerian.

Kasus ketiga terjadi tahun 2018. Suami NW mengajukan permohonan talak karena NW tidak bersedia berhubungan seksual. Permohonan talak ini diajukan oleh suaminya untuk ke tiga kalinya dengan alasan belum terjadi hubungan seksual. Namun kali ini NW memutuskan tidak hadir dalam persidangan sehingga putusan mengabulkan permohonan suaminya secara verstek (tanpa hadirnya istri sebagai Termohon).

Pengajuan cerai talak pertama dan kedua dicabut suaminya setelah hakim berhasil memediasi mereka berdua untuk mempertahankan perkawinan. Setelah gugatan dicabut NW berusaha untuk melakukan hubungan seksual dengan suaminya. Namun NW sebagai istri yang tidak menghendaki perkawinan membutuhkan waktu untuk berhubungan seksual. Meskipun belum sampai berhubungan seksual, namun NW telah perlahan-lahan melakukan aktifitas seksual dengan suaminya seperti ciuman, dan fingering.

Baca Juga  KDRT Bukanlah Candaan

Sebagai istri NW terkadang merasa bersalah karena belum bisa berhubungan seksual dengan suaminya “penetrasi” seperti yang diharapkan suaminya. Namun NW belum bersedia berhubungan seksual adalah karena belum bisa sepenuhnya mencintai suaminya.

Selanjutnya: Ba’da Al dhukul dan Qobla Al Dhukul…

Dian Puspitasari, S.H Staff Sekretariat Nasional Forum Pengada Layanan (FPL)