Surat untuk Ayah: Nestapa yang Tak Berujung
Kini, putrinya dirawat di rumah sakit. Polisi sudah datang dan menanyainya. Laksmi begitu gemetar mendengar putrinya bercerita satu demi satu peristiwa yang menakutkan bagi setiap perempuan.
Kini, putrinya dirawat di rumah sakit. Polisi sudah datang dan menanyainya. Laksmi begitu gemetar mendengar putrinya bercerita satu demi satu peristiwa yang menakutkan bagi setiap perempuan.


Ibu memandangiku sejenak dan bergumam lirih “Nak, engkau harus sekolah yang tinggi agar bisa meraih cita-citamu nanti”. Setelah itu ia beranjak keluar kamar dan menutup daun pintu tanpa suara.
![[Cerpen] Mandi Terakhir](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/08/Untitled-design-9-1-825x510.png)
![[Cerpen] Mandi Terakhir](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/08/Untitled-design-9-1-825x510.png)
Kidung itu sangat indah, dan memiliki arti yang menyentuh hati. Isinya puji-pujian tentang sawah. Entah bagaimana caranya, aku sangat ingat setiap kata dalam kidung itu, lalu dengan mudah menuliskannya di kertas saat bangun tidur.


Keputusanku sudah bulat pasca aku tidak diterima di sekolahan negeri yang aku inginkan. Aku lebih memilih masuk ke pesantren. Awalnya aku mengira pesantren adalah tempat pembuangan. Tapi..
![[Cerpen] Persahabatan dan Akhir dari Keridaan](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/Desain-tanpa-judul-4-825x510.jpg)
![[Cerpen] Persahabatan dan Akhir dari Keridaan](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/Desain-tanpa-judul-4-825x510.jpg)
Terkadang aku bertanya pada diriku, mengapa aku masih saja ingin mendapatkan seseorang yang sudah jelas tak mencintaiku.
![[Cerpen] Skenario Tuhan yang “Rumit” untuk Sebuah Cinta](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/08/Untitled-design-60-825x510.png)
![[Cerpen] Skenario Tuhan yang “Rumit” untuk Sebuah Cinta](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/08/Untitled-design-60-825x510.png)
Gemuruh suka di dada bertalu talu memenuhi rasa. Kondisi suamiku terus membaik. Diizinkan oleh petugas aku menyuapi dan menyeponi tubuhnya tiap pagi. Ini adalah kegembiraan luar biasa.


Tentu saja tidak ada orang yang secara suka rela menghirup aroma busuk itu, tapi tidak ada pilihan lain, bau itu seperti tak peduli. Seperti halnya si Tuan Tanah yang sama sekali tak peduli dengan mereka yang mulai terancam hidupnya.
![[Cerpen] Bau Busuk](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/Untitled-design-54-825x510.png)
![[Cerpen] Bau Busuk](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/Untitled-design-54-825x510.png)
Tepat di depan kumenyandarkan diri di tiang sebelah Timur, dua cangkir kopi yang asapnya masih mengepul seakan telah menunggu kehadiranku. Kiai Sableng yang berada di sebelah Barat dan menghadap Barat masih tampak duduk bersila dengan posisi meditasi.
![[Cerpen] Sang Duta Tuhan](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/Untitled-design-21-1-825x510.png)
![[Cerpen] Sang Duta Tuhan](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/Untitled-design-21-1-825x510.png)
Mereka sering bilang, rimba raya adalah bagian penting dari kehidupan yang harus selalu dijaga juga dilestarikan, dan itu pula yang katanya menjadi alasan mereka semua berada di ruang kerja itu.
![[Cerpen] Monolog Lukisan Rimba di Sebuah Ruang Kerja](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/Untitled-design-12-3-825x510.png)
![[Cerpen] Monolog Lukisan Rimba di Sebuah Ruang Kerja](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/Untitled-design-12-3-825x510.png)
Terlihat tragis memang saat dua hati yang saling mencintai terhalang oleh tembok raksasa keyakinan yang berbeda. Antara cinta atau mempertahankan keyakinan
![[Cerpen]: Dilema Cinta Beda Agama](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/Untitled-design-17-1-825x510.png)
![[Cerpen]: Dilema Cinta Beda Agama](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/Untitled-design-17-1-825x510.png)