Cerpen

Surat untuk Ayah: Nestapa yang Tak Berujung

Kini, putrinya dirawat di rumah sakit. Polisi sudah datang dan menanyainya. Laksmi begitu gemetar mendengar putrinya bercerita satu demi satu peristiwa yang menakutkan bagi setiap perempuan.

[Cerpen] ­­Mandi Terakhir

Ibu memandangiku sejenak dan bergumam lirih “Nak, engkau harus sekolah yang tinggi agar bisa meraih cita-citamu nanti”. Setelah itu ia beranjak keluar kamar dan menutup daun pintu tanpa suara.

Kidung Petani

Kidung itu sangat indah, dan memiliki arti yang menyentuh hati. Isinya puji-pujian tentang sawah. Entah bagaimana caranya, aku sangat ingat setiap kata dalam kidung itu, lalu dengan mudah menuliskannya di kertas saat bangun tidur.

[Cerpen] Bau Busuk

Tentu saja tidak ada orang yang secara suka rela menghirup aroma busuk itu, tapi tidak ada pilihan lain, bau itu seperti tak peduli. Seperti halnya si Tuan Tanah yang sama sekali tak peduli dengan mereka yang mulai terancam hidupnya.

[Cerpen] Sang Duta Tuhan

Tepat di depan kumenyandarkan diri di tiang sebelah Timur, dua cangkir kopi yang asapnya masih mengepul seakan telah menunggu kehadiranku. Kiai Sableng yang berada di sebelah Barat dan menghadap Barat masih tampak duduk bersila dengan posisi meditasi.

Lihat Postingan Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.